Tomodachi no Imouto ga Ore ni Dake Uzai – Volume 3 – Chapter 9 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Volume 3 – Chapter 9 – Ritual Tradisional hanya mengganggu pasangan pria dan wanita

 

 

Malam itu akhirnya tiba pada kami. Mengikuti parade lampu oranye yang berkedip-kedip dari lentera kertas, kami dengan hati-hati maju melalui jalur gunung yang gelap gulita. Bola api di kejauhan tampak seperti penampakan menari. Berfokus pada suara-suara di sekitar kami, aku bisa mendengar langkah kaki menginjak cabang-cabang pohon dan rumput, dan menyadari bahwa itu dari parade yang membimbing kami, aku menghela napas lega.

Parade tersebut terdiri dari penghuni Desa Kageishi. Mereka semua mengenakan topeng noh, memberikan suasana yang mengesankan, hanya mengikuti ketua mereka, Kageishi Kou, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, seolah-olah bersembunyi di bayang-bayang raksasanya. Mengikuti mereka adalah aku dan orang lain di sebelahku.

Orang yang berjalan di sebelahku memakai pakaian yang cocok untuk kegelapan di sekitarnya dan keanehan dari seluruh ritual ini, dengan topeng rubah di wajahnya. Topeng rubah semacam itu hanya akan kau lihat dalam tradisi dan museum seni Jepang, kadang-kadang bahkan dalam film horor — topeng rubah putih dengan mata merah, tersenyum nakal. Tubuhnya terbungkus kimono putih cukup panjang sehingga kau bisa tersandung saat berjalan. Meski begitu, fisiknya masih terlihat melalui kimono, mengungkapkan orang itu seorang wanita. Dahulu kala, topeng seperti ini digunakan untuk menyembunyikan identitas seseorang, untuk melindungi pemakainya … Tapi seiring waktu telah berubah, itu hanya tipu muslihat yang digunakan untuk meningkatkan rasa ketakutan dan ketidakpastian.

“Kya…”

“Hei, kau — apa kau baik-baik saja, Sumire-sensei?”

Ketika dia tersandung akar pohon yang sangat tebal, aku segera datang untuk menopang tubuhnya sebelum dia bisa jatuh. Aku tidak bisa melihat melalui topeng rubah, tetapi dia pasti gugup.

“M-Maafkan aku. Aku tidak terbiasa dengan alas kaki ini, jadi aku kehilangan pijakan.”

“Tolong hati-hati. Kalau pengantinku yang berharga mengotori dirinya sendiri sekarang, Yama-no-Kami akan marah.”

“Memang. Mereka yang menyebut diri mereka wanita dari Keluarga Kageishi harus tegas dan tak kenal takut, Sumire.”

“Y-Ya, aku mengerti, Kakek…”

Setelah mendengarkan suara sedih Sumire sebentar, aku mengulurkan tangan.

“Mari kita berpegangan tangan sampai kita mencapai kuil.”

“Ya, terima kasih banyak, Akiteru-kun.”

Dia meraih tanganku, dan melaluinya aku bisa merasakan suhu tubuhnya. Itu lembut, hangat, dan selalu sedikit berkeringat. Dia pasti gugup. Tentu saja dia gugup. Lagipula, kami berdua harus mengecoh raksasa di depan kami, serta banyak penduduk desa di belakang kami.

 

*

Sementara kami berpegangan tangan dan berjalan menyusuri jalur gunung, parade tiba-tiba terhenti. Saat Kageishi Kou mengangkat lentera yang dipegangnya, garis besar sebuah bangunan perlahan terbentuk. Itu adalah bangunan yang jauh lebih tinggi dari kuil yang telah aku perkirakan. Meskipun terlalu kecil untuk disebut kuil Shinto, itu masih terlalu besar dibandingkan dengan apa yang kau harapkan dari sebuah kuil di pegunungan. Meskipun pasti menjadi korban dari hujan lebat di musim hujan, bangunan ini, yang seluruhnya terbuat dari kayu, tidak menunjukkan tanda-tanda pelapukan. Pita kertas berbentuk zig-zag yang tergantung di atasnya menghasilkan suasana yang sempurna untuk upacara ini.

“Akiteru-kun, ini.”

“Ah, ya.”

Kageishi Kou menyerahkan padaku lentera kertas yang dipegangnya, dan aku menerimanya dengan hati-hati. Itu mungkin berarti bahwa hanya kami berdua yang seharusnya melanjutkan dari sekarang. Menafsirkannya seperti itu, aku mengangguk, dan, sambil masih memegang tangan gadis itu, aku berjalan ke kuil.

“Akiteru-kun.”

“Ya.”

Karena aku dipanggil oleh Kageishi Kou, aku berbalik. Dia kemudian tersenyum lebar dan mengacungkan jempol.

“Aku mempercayakan cucuku kepadamu. Silahkan, mengamuklah sesuka hatimu.”

“… Mengamuk? Apa yang kau bicarakan?”

Aku sedikit terkejut dengan pilihannya yang mendadak dan aneh menggunakan kosakata JK. Tanpa menanggapi, dia terus mendorong punggung kami ke arah kuil.

—Jadi kami akhirnya akan memasuki kuil yang dirumorkan itu, ya? Sejujurnya, jika kekuatan dewa itu ternyata benar, maka segera setelah kau memasuki tempat ini, aku akan benar-benar terikat dengan gadis itu, yang jelas merupakan skenario terburuk. Namun, tidak ada hal gaib yang bisa ada di dunia ini, jadi sambil meyakinkan diri sendiri bahwa pasti ada trik di baliknya, aku dengan erat menggenggam tangan gadis yang berkeringat dan menginjakkan kaki ke dalam. Di saat yang sama, aku mendengar kata-kata Kageishi Kou di belakang kami.

“Dengarkan. Kalian berdua akan menghabiskan malam di sini. Kalian tidak dapat meninggalkan tempat ini sampai pagi tiba.”

“Bagaimana kalau … kami pergi ke luar?”

“Kalian akan berakhir sebagai pakan untuk serigala.”

Itu jawaban yang sangat realistis. Aku mengira sesuatu seperti dihantui, dikutuk, dan sejenisnya, tetapi bukan sesuatu yang realistis dan masuk akal, lho? Yah, itu agak menakutkan bahwa itu realistis, jadi aku seharusnya tidak terlalu senang tentang hal itu.

“Sekarang, masuklah ke dalam. Aku akan meninggalkan beberapa penduduk desa di sini untuk berjaga-jaga, tetapi tidak dalam jangkauan yang bisa dicapai suara kalian. Jadi, apa pun yang kalian lakukan di dalam, kami tidak akan pernah mendengarnya. Kalian juga bisa mengatakan bahwa tidak peduli seberapa memanasnya keadaan, tidak ada yang akan mengganggu kalian. Jadi jangan khawatir tentang itu.”

“O-Oke.”

Agak membuatku kesal karena dia begitu memaksa tentang hal itu, tapi aku mengangguk tanpa berkata lebih jauh.

“Kalau begitu, Kakek. Kami akan pergi.”

“Bagus.”

Sang pengantin wanita menarik bagian bawah kimononya, membungkuk dalam-dalam, Kageishi Kou mengangguk, puas. Kemudian dia berbalik dan kami menginjakkan kaki ke dalam. Di belakang kami, pintu geser Jepang ditutup ketika Kageishi Kou mengangkat suaranya, mengumumkan bahwa pekerjaan mengantar kami selesai.

“Mundur! Tinggalkan beberapa orang di sekitar area, dan sisanya akan turun gunung lagi!”

Kami mendengar suara beberapa pasang langkah kaki yang tersebar. Membuka pintu sedikit dan mengintip ke luar, aku mengkonfirmasi bahwa lentera kertas mundur ke gunung.

“Jadi, akhirnya hanya kita berdua saja.”

“Memang. Fufu, fufufufu …”

Tawa lucu datang dari dalam topeng rubah. Pundak Sumire gemetar karena tawa. Sungguh, dia benar-benar menikmati ini. Bakatmu tak tertandingi seperti sebelumnya, kau setan.

“Kita menipu mereka dengan luar biasa. Benarkan, Senpai ~?”

Topeng rubah dilepas dengan sangat cepat. Wajah yang muncul di bawah itu bukanlah wajah indah dari seorang guru gagal yang kau kira, tetapi ekspresi Iroha yang menyeringai yang bisa membuat orang marah dari segala sudut, bersamaan dengan penampilannya yang penuh kemenangan.

*

“Iroha dan aku akan berpartisipasi dalam ritual itu.”

Beberapa jam sebelum ini. Jika seseorang menyebutkan reaksi kawan-kawan kami kepadaku yang mengungkapkan rencana besarku, itu bisa dijelaskan dalam satu kata: Kekacauan.

“Jadi kau akhirnya memutuskan untuk menikahi Iroha !? Aku akhirnya menang!”

“A-Apa kau idiot? Kenapa berakhir seperti itu? Aki, apa kau benar-benar menyukai Iroha … ?!”

“A-aku tidak masalah. Tapi, bukankah ini berarti … kau … eh? Kau suka Iroha-chan? Ehhh?”

Ozu melontarkan pose kemenangan, tatapan Mashiro dipenuhi dengan setengah sedih, setengah marah, dan Sumire hanya bingung secara keseluruhan. Aku sudah menduga reaksi mereka agak seperti ini, tetapi satu reaksi jelas tidak dalam spekulasiku — Iroha.

“Eh, apa, Senpai, itu, eh? Ah … Ahhh! Gitu ya ~ Jadi kau sangat ingin menikahiku ~ Yaaaahhh, mau gimana lagi, Iroha-chan emang imut banget sih~”

Meskipun dia mengatakan hal yang sama dengan yang biasanya dia katakan, dia tampak cemas tentang sesuatu. Matanya berair, dan pipinya memerah. Yah, biasanya dia yang menggodaku tentang hal-hal semacam ini, mencoba merayuku, tapi begitu sampai ke masalah nyata, dia mungkin tidak bisa bersikap asertif. Nah, itu hanya menunjukkan bahwa dia benar-benar memikirkan hal-hal seperti ini, yang bisa meyakinkan.

“Jangan bodoh. Bukan berarti aku ingin menikah dengan Iroha. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik ‘Ritual Pernikahan’ ini, kan?”

Tidak peduli kekuatan apa yang berperan. Sangat bodoh untuk tidak menggunakan kesempatan ini. Untuk menarik Sumire menjauh dari keluarganya, aku akan—

“Aku akan menggunakan ritual ini untuk keuntungan kita sendiri.”

“Apa yang kau rencanakan?”

Saat Sumire memiringkan kepalanya dengan ekspresi cemas, aku melanjutkan dengan senyum percaya diri.

“Membongkar ‘sisi tersembunyi’ Keluarga Kageishi.”

“Sisi tersembunyi …”

“Keluarga Kageishi melindungi tradisi dan budaya yang ketat, dan mendorongnya ke keturunannya. Namun, bagaimana jika ada orang dalam kegelapan, mendorong aturan itu, dan mereka memiliki kelemahan fatal?”

“Alasan mengapa aku terikat oleh aturan itu … akan menghilang …”

“Ya. Paling tidak, itu akan memberi landasan untuk perlawanan. Sebuah langkah maju yang penting dalam menyangkal tradisi-tradisi itu, memberi jalan kepada kebebasan. Untuk itu, aku ingin kau, Sumire-sensei, untuk mencari di rumah utama Keluarga Kageishi.”

“Mencari di rumah utama … ?!”

Kawan-kawanku mulai berisik. Jelas saja. Lagipula, akan sangat sulit untuk masuk tanpa izin. Tapi itulah mengapa itu harus dilakukan.

“Karena itulah Sumire-sensei harus melakukannya. Kau harus aman, bebas dari kecurigaan. Untuk upacara ‘Ritual Pernikahan’ ini, sebagian besar penduduk desa akan berpartisipasi dalam parade. Dan selama waktu itu, rumah utama pasti kosong.”

“Kau benar … Begitu ya, jadi kau akan membuat Iroha-chan bertindak sebagai penggantiku.”

“Tepat sekali. Kau tidak dapat berpartisipasi dalam ritual kalau kau mencari di rumah.”

“J-Jadi, Mashiro tidak bisa jadi … penggantinya?”

“Tidak mungkin kau bisa bertindak sebagai Sumire-sensei, kan? Kalau kau tidak pandai berakting, penduduk desa akan tahu.”

“Ugh … Kau benar …”

“Tapi bahkan kalau kau menyuruhku mencari di rumah, apa yang sebenarnya harus aku cari? Aku tidak berpikir bahwa kakekku akan meninggalkan sesuatu yang penting di tempat terbuka.”

Keraguannya lebih dari bisa dimengerti. Dia tampak seperti beruang, dengan suara yang terdengar seperti itu berasal dari kedalaman neraka itu sendiri. Pelindungnya sepertinya tidak bisa ditembus. Tapi aku menemukannya. Aku menemukan satu petunjuk berkilauan, ‘bagaimana-jika’.

“Ketika aku berbicara dengan kepala Keluarga Kageishi — dan juga ketika aku mendengar nilai-nilai yang dipegang keluarga, aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kalau firasatku ternyata benar, maka itu mungkin sebuah celah. Rahasianya, tersembunyi di desa ini, adalah—”

“Adalah…?”

Sumire, Iroha, Mashiro, Ozu, semuanya menelan nafas, menunggu kata-kataku berikutnya. Aku melihat sekeliling, menatap wajah mereka, dan mengumumkan.

” Pornografi anak.”

“…Hah?”

Waktu berhenti. Tidak ada yang tahu apa yang aku katakan, dan mereka hanya menatapku dengan kosong.

“Tidak, tidak mungkin, Senpai ~ Jangan bercanda dalam suasana yang begitu serius, oke? ~”

Tunggu, Iroha. Berhentilah memperlakukan aku seperti itu.

“A-Aku tidak bercanda atau semacamnya! Aku benar-benar serius. Orang-orang dari Keluarga Kageishi — Terutama Kageishi Kou — pasti lolicon, tidak peduli bagaimana kau melihatnya!!”

“Itu lebih buruk lagi kalau kau serius! Menggunakan [Aliansi Lantai 5] untuk mengumpulkan bukti bahwa mereka adalah lolicon terlalu berlebihan pengembangan lelucon!”

“Diam. Bukan lelucon atau apa pun. Jika kita mengumpulkan cukup bukti, kita bisa memulai negosiasi dengan Keluarga Kageishi. Ini semua demi Sumire-sensei!”

“Yah, kau benar, tapi … apakah kita benar-benar bisa menemukan bukti bahwa mereka adalah lolicon? Bagaimana kau mendapatkan ide itu?”

“Aku punya tiga alasan.”

Aku mengangkat tiga jari.

“Pertama-tama, ini toleransi hubungan romantis antara guru dan murid.”

Melihat sejarah mereka sebagai guru, mereka memiliki doktrin untuk secara umum menerima pernikahan dengan laki-laki yang usianya belum bisa menikah. Bahkan saat itu, ada contoh yang pernah terjadi.

“H-Hm … itu agak lemah, bukan? Sudah ada pernikahan dengan anak-anak yang lebih muda sejak dulu, dan itu tidak ada hubungannya dengan mereka yang menjadi lolicon. Katakan alasanmu yang lain.”

“Alasan kedua untuk perasaan tidak nyamanku adalah kosakata JK.”

“Kosakata JK?”

“Kepala keluarga itu memiliki cara bicara tua, tetapi terkadang akan memasukkan bahasa dan kosakata JK ke dalam campuran. Itu bukti bahwa dia pernah berbicara dengan JK, karenanya dia pasti belajar kata-kata dari suatu tempat. Seharusnya tidak aneh kalau dia berhubungan dekat dengan JK, kan?”

“Yah, sekarang setelah kau mengatakannya … Walaupun kau guru, dan akrab dengan murid, kau biasanya tidak akan mengadaptasi bahasa JK seperti itu. Tapi … masih terasa agak lemah … Mungkin dia sangat antusias menjadi seorang guru sehingga dia banyak berbicara dengan murid-muridnya?”

“Alasan ketigaku mungkin agak kabur, tapi …” Aku memandang Sumire.”—Mereka berbagi DNA yang sama dengan Sumire. Berarti mereka memiliki apa yang diperlukan untuk menjadi orang mesum mutlak, bukan begitu?”

” Begitu ya. Sekarang itu alasan yang memuaskan!”

” Bisakah kau tidak setuju begitu saja?!”

Tetap diam sampai saat itu, Sumire membalas dengan air mata berlinang.

“Tapi itu masuk akal. Daripada Sumire-chansensei menjadi orang yang menari di luar garis dengan menjadi orang mesum, ada kemungkinan kau mewarisi DNA lolicon atau shotacon keluargamu, yang berarti bahwa kemungkinan anggota keluarga lainnya yang membawa itu juga jauh lebih tinggi!”

“Ehhhhh … Aku tidak benar-benar berpikir seperti itu … Aku tumbuh besar di sini, jadi aku harusnya menyadari sesuatu sendiri …”

“Tapi ketua klub sudah bersamamu sejak dia lahir, dan dia masih belum mengetahuinya, kan?”

“…Ah! Kau benar!”

Meskipun mungkin tidak selalu jelas, orang tua dan anak-anak memiliki darah yang sama. Karena Sumire diajar di bawah tradisi yang ketat itu, Sumire mencoba yang terbaik untuk tidak menunjukkan perasaan dan minatnya yang sebenarnya. Oleh karena itu, dia mengunci kemesumannya sendiri di dalam dirinya, sambil menggambarkan keindahan dingin ke dunia luar.

—Jadi, bukankah ini hanya kedok yang digunakan oleh Sumire? Bagaimana jika bukan hanya Sumire, tetapi setiap anggota keluarganya? Bagaimana jika ‘Wajah Publik’ ini hancur? Alasan mereka untuk menjaga tradisi ini akan tersebar menjadi ribuan keping, menjadi tidak berguna.

“Ini sebuah taruhan. Ini mungkin sebenarnya hanya asumsi yang salah, dan mungkin tidak ada bukti tentang ini. Jika tidak ada, maka kita harus memikirkan hal lain. Tapi tidak mengambil tindakan karena bagaimana-jika dan tetap beku di tempat bukanlah sesuatu yang bisa kita biarkan… Benarkan, Murasaki Shikibu-sensei?”

“Aki …” Sumire berkedip beberapa kali, ketika dia menatapku.

Keraguan mengisi matanya. Apa yang dia pikirkan? Atau dia bahkan memikirkan sesuatu? Dia dengan erat mengerutkan bibirnya dan membentuk tinju dengan tangannya. Ujung-ujung alisnya terangkat dengan energi, setelah terkulai sebelumnya. Dan kemudian dia berbicara, matanya dipenuhi tekad.

“Aku akan bertaruh pada rencanamu. Untuk masa depanku sendiri!”

*

—Itu yang terjadi, dan sekarang kembali ke masa sekarang.

“Sepertinya itu sukses, setidaknya untuk saat ini.”

“V untuk Victory!” Iroha menyeringai, menunjukkan padaku tanda V dengan jari-jarinya.

Kami berhasil melakukan bagian pertama dari ritual tanpa ketahuan, artinya kami harus mengulur waktu untuk Sumire dan yang lainnya untuk mencari petunjuk di rumah. Sejauh ini, sudah berjalan sesuai rencana. Iroha — bakat yang aku tanggung jawabkan sebagai produser — benar-benar ahli. Bentuk tubuhnya bisa kami sembunyikan melalui kimono, tetapi dia berhasil dengan sempurna memerankan gerakan dan nada suara Sumire, menangkap segalanya sendiri. Satu-satunya hal yang sulit untuk ditiru adalah tinggi badannya, dan apa pun yang kami coba, kami tidak dapat menemukan apa pun — pada awalnya.

“Sangat sulit untuk berjalan dengan sandal ini!”

Dengan kata-kata itu, Iroha mengangkat bagian bawah kimononya yang panjang dan melepas sandal baji super tinggi. Kami menemukan sandal itu tertinggal di mobil Sumire. Sebelum kami berangkat, ia berbicara tentang mereka sebagai mekanisme bertahan melawan lelaki peselancar pantai yang mungkin mendekatinya, karena kecantikannya yang tinggi. Aku tidak pernah berpikir bahwa kami akan menggunakannya untuk sesuatu seperti ini.

“Mendaki gunung memang melelahkan ~”

“Itu karena kau kurang berolahraga. Kalau kau malas sekarang, itu hanya akan lebih sulit di masa depan, lo?”

“Aku tidak ingin diberi tahu oleh pekerja meja Senpai ~ Jangan salahkan aku kalau disk intervertebralismu rusak!”

“Aku berlatih setiap hari sehingga tidak akan berakhir seperti itu. Jangan meremehkan maniak kesehatan.”

“Ohh, tidak buruk. Maka mungkin aku seharusnya menyuruh seorang Senpai maniak kesehatan untuk menggendongku turun gunung ~”

“… Oh? Kau ingin mengalami perasaan dimanjakan lagi?”

“Ah, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu, tolong jangan membuatku melalui itu lagi.”

Percakapan sehari-hari yang sama antara aku dan Iroha pun terjadi. Bahkan jika kami akan melalui ‘Ritual Pernikahan’ ini, tidak ada yang akan berubah. Itu adalah kenyataan hidup, realistis, setara, dan hubungan di mana aku tidak harus menggunakan sel otakku. Itu sebabnya, bahkan jika peristiwa satu-dalam-sejuta terjadi dan sesuatu yang aneh terjadi, ‘sesuatu seperti itu’ tidak akan pernah terjadi di antara kami.

—Atau setidaknya, begitulah seharusnya.

“Pakaian ini cukup berat, jadi biarkan aku melepasnya dan beristi— ?!”

“Ada apa? Tiba-tiba membeku seperti itu, Iro … ha …”

Iroha masuk lebih dalam ke kuil. Menyadari bahwa dia bertingkah aneh, aku mengikuti di belakangnya, kemudian sama-sama kehilangan kata-kata. Sampai saat itu, semuanya persis seperti yang aku perkirakan. Semuanya berjalan lancar. Namun, pemandangan di depanku benar-benar mengejutkanku. Itu … benar-benar di luar kisaran perkiraanku.

“I-Ini …”

Cahaya merah muda dan halus memenuhi bagian dalam. Musik penyembuhan kesuraman diputar di latar belakang, dan di atas itu, bola perak aneh menggantung dari langit-langit, bersinar ke bawah dan mengeluarkan cahaya merah muda ini. Di tengah-tengah semua itu ada tempat tidur ganda yang tampak baru, dan di atas bantalnya, seikat empat sarung persegi panjang dengan kotak tisu di dekatnya. Juga, semacam karet?

Yah, kurasa tidak perlu bertele-tele lagi. Tanpa harus merinci lebih jauh, kurang lebih kau bisa memahami apa ini. Aku hanya akan mengatakannya.

Hei, ini jelas sebuah love hotel.”

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, itu sangat jelas dibuat menjadi love hotel. Mengapa ada sesuatu seperti ini di dalam kuil kuno di suatu tempat di pegunungan seperti ini? Apa yang salah dengan orang-orang di sini?

“Senpai! Lihatlah kondom ini! Ada lubang di semuanya!”

“Dan sekarang mereka bahkan melakukan trik kotor?! Dan jangan memeriksa hal-hal seperti itu! JK sangat menakutkan !!”

“Tapi, kau tahu, maksudku, kita harus memeriksa apakah kondom itu bagus untuk digunakan … B-Bukan berarti aku berpikir untuk menggunakannya … atau semacamnya?”

“Jangan katakan itu kalau kau akhirnya gugup … Woah, kau benar. Pembungkus di bagian atas berlubang. Jadi mereka menusuknya dengan jarum, ya?”

Yah … dalam arti tertentu, aku menduga sesuatu seperti ini, tetapi itu jauh melebihi perhitunganku. Aku pikir akan ada semacam trik untuk itu.

‘Ritual Pernikahan’, menawarkan peluang 100% untuk membentuk pasangan yang sukses — identitas sebenarnya dari itu sebenarnya hanya menggunakan metode apa pun yang mungkin untuk secara agresif mendorong pasangan itu bersama, agar tetap bersama. Aku memiliki keyakinan bahwa aku akan dapat mempertahankan posisiku jika sesuatu terjadi. Dan pada tingkat tertentu, itu benar.

Tapi ini pasti terlalu berlebihan. Ini pada dasarnya berbisik, ‘Lakukanlah!’ ke telingaku. Tidak, ini bukan hanya berbisik. Mereka berteriak ke telinga kami dengan megafon. Memang benar bahwa itu sangat curang, tetapi suasana merah muda ini benar-benar dapat membuatmu mulai merasa terangsang … T-Tidak! Bubarlah, pikiran jahat!

“P-Pokoknya, kita tenang dulu. Aku akan duduk di sisi ini.”

“Y-Ya …”

Bahkan Iroha tampak gugup, tidak yakin bagaimana harus bertindak dalam suasana yang aneh ini. Sementara itu, aku bergerak ke ujung ranjang. Karena tempat tidur memenuhi sebagian besar ruang kuil yang sempit, sulit untuk berjalan.

Swoosh

“Ah … Sial?!”

“Eh? Kya!”

Ketika aku mencoba melewati tempat tidur, aku menemukan bahwa bantal itu sangat lembut. Apakah mungkin tempat tidur yang menstimulasi dan nyaman ini benar-benar ada ?! Pokoknya, kakiku tersedot ke bantal, membuatku kehilangan pijakan. Kemudian, aku mengulurkan tangan karna terkejut, dan kebetulan meraih bahu Iroha—

Fwump !!

Suara lembut memenuhi ruangan saat tempat tidur menangkap kami jatuh. Aku tersandung karena kelembutan, tetapi berkat itu, aku jatuh tanpa cedera.

“Aduh … maaf, Iroha. Aku hanya — Wah ?!”

Aku membuka mataku, dan segera menelan nafasku. Wajah Iroha ada di depanku. Aroma dari kimono Jepang kuno dan aroma feminin dari rambutnya menyerang hidungku. Dengan tubuh kami yang sangat dekat, aku bisa merasakan kehangatannya, bahkan melalui pakaiannya. Meskipun berat badannya menekanku, Iroha tidak terasa berat sedikit pun. Tidak, bahkan berat ringan ini terasa agak menyenangkan.

“S-Senpai … Um …”

“M-Maaf. Aku tidak sengaja. Biarkan aku bangun…”Aku buru-buru mencoba berpisah dari Iroha.

Tetapi saat melakukannya, aku merasa dia bersandar padaku lebih dalam, membebaniku. Sepertinya dia tidak mau membiarkan aku bangun.

“H-Hei, Iroha?”

“Senpai … apa membuat jantungmu berdebar?”

“Apa …”

Wajah Iroha berada tepat di dadaku. Saat dia mendekatkan telinganya ke jantungku, dia menatapku.

—Hentikan, jangan tatap aku seperti itu. Tentu saja. Aku sangat gugup, lho? Meskipun aku tidak punya jawaban, ekspresiku sendiri sepertinya memberitahunya apa yang ingin dia ketahui.

“Bisakah aku bertanya satu hal?”

“Aku tidak keberatan, tapi untuk sekarang bangun dulu. Dalam situasi ini-”

Aku akan mengeras.

Tepat sebelum aku bisa menyelesaikan kalimatku, aku memaksa diri untuk menelan kata-kata itu. Sebagai tanggapan, Iroha menggenggam erat pakaianku, menekan lebih keras. Wajahnya sekarang benar-benar terkubur di dadaku. Kau tahu, aku tidak pernah benar-benar menatapnya sedekat ini. Setiap kali dia menempel padaku seperti ini, dia akan selalu melakukannya dari belakang.

Itu sebabnya aku tidak pernah melihat ekspresi seperti apa yang dia miliki setiap kali dia memelukku dari belakang.

“Senpai, kau mengatakan ini semua bagian dari rencana. Tapi … pernahkah kau berpikir, bahkan hanya sesaat, bahwa mungkin tidak masalah untuk melakukan ‘Ritual Pernikahan’ ini denganku?”

Wajah Iroha, ekspresinya, membuatku berantakan. Apakah dia selalu memiliki ekspresi seperti ini ketika dia menempel padaku? Atau … apakah dia hanya terbawa suasana? Aku berharap dia memiliki wajah menggoda dan menyeringai yang sama seperti biasanya, bersenang-senang sendiri dengan rasa malu dan panikku.

Ekspresi Iroha benar-benar cocok dengan yang ditunjukkan Mashiro kepadaku, ketika kami makan di restoran Prancis itu.

 

“Aku tidak terlalu percaya pada takhayul seperti itu. Tetapi apa kau tidak keberatan untuk mengajakku mengikuti ritual ini, bahkan dengan tingkat keberhasilan 100%? Itu hanya cara berputar untuk mengatakan bahwa kau menyukaiku, kan?”

“… Kau benar, tapi kau juga sama kan?”

Tidak dapat menahan detak jantungku, aku memberikan jawaban yang tidak jelas. Itu tidak menjawab pertanyaannya, hanya memotong untuk benar-benar menjawab. Kata-kata pengecut itu … mereka tidak jantan sama sekali. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan untuk saat ini.

“Aku pikir tidak masalah kalau itu dengan Senpai.”

“Eh?”

Dengan lembut. Meskipun dia selalu sangat berisik, dan sangat menjengkelkan. Sekarang, dia tampak ragu-ragu, lemah, dengan suara kecil.

“Kalau aku benar-benar membencimu, aku tidak akan setuju dengan ini.”

“Kau…”

Apa yang dia maksud dengan itu? Kau tahu, pikiranku berputar-putar di sekitar kepalaku sekarang.

—Bagaimana kalau Iroha benar-benar memiliki perasaan padaku?

Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu tidak mungkin, melihat bagaimana dia selalu bertindak dengan cara menjengkelkan di dekatku, tetapi bahkan Mashiro, yang bertindak sangat buruk kepadaku, benar-benar memiliki perasaan padaku. Meskipun tidak terlihat seperti itu di permukaan, dia sebenarnya diam-diam menyukaiku, tidak peduli betapa aku berusaha menyangkalnya. Pikiran romcom yang tidak realistis ini terus menemukan jalan mereka kembali ke kepalaku.

Dan bagaimana jika? Bagaimana jika itu benar … apa yang akan aku lakukan? Ahh, jantungku berdebar sangat keras. Ini akan sekuat sebelumnya, dan aku bahkan bisa mendengarnya sampai ke telingaku. Bagaimana aku bisa tetap tenang kalau suara ini menembus pikiranku? Sialan. Mengapa hatiku dalam kekacauan seperti itu? Dan bahkan kalau dia memiliki perasaan padaku, Iroha jelas bukan tipeku.

Dia berisik, sulit ditangani, dan menyebalkan. Tapi, tidak peduli jalan apa yang aku pilih, bahkan jika itu membuat setiap orang membenciku sebagai hasilnya, dia tidak akan pernah membuangku, tidak pernah meninggalkanku sendirian. Terutama pada saat seperti ini … Kenapa?

Hanya kami berdua di ruangan ini, yang mengatur suasana yang sempurna. Tubuh kami saling menekan, pada jarak nol, begitu dekat sehingga kami bisa merasakan napas satu sama lain dan suara detak jantung kami. Kenapa?

Kenapa kau menatap lurus ke arahku, memerah sampai ke telingamu?

“Kalau aku mengatakan bahwa aku ingin diayunkan bersama dengan keajaiban ritual ini … apa kau akan bermasalah, Senpai?”

Ekspresi Iroha malu-malu. Tidak ada tanda aktingnya yang menyebalkan. Itu benar-benar memunculkan keimutannya. Tertembus oleh tatapan memikatnya, seperti peluru menembus dadaku, aku benar-benar kehilangan suaraku. Seolah aku terpikat padanya. Aku menelan air liurku.

Fajar masih belum datang.

 

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded