Tomodachi no Imouto ga Ore ni Dake Uzai – Volume 3 – Chapter 8 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!
Loading...

Volume 3 – Chapter 8 – Hanya Guru yang pucat di pagi hari di penginapan

 

 

Saat itu pagi, atau tepatnya, sekitar jam 10 pagi. Akibat malam setelah pertemuan mendadak kami dengan Mashiro, aku terbangun pada saat ini, sangat terlambat. Untungnya, ini liburan musim panas. Kalau ini adalah hari sekolah yang normal, rambutku akan berubah abu-abu karena syok, dan aku akan mati. Kau mungkin berpikir bahwa aku melebih-lebihkan, tapi itu memang masalah besar bagiku.

“Gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa !!”

Ya, itu mungkin mirip dengan teriakan yang aku keluarkan dalam kasus itu. Kami baru menghindari akhir horor gaib kemarin, jadi kalau mereka menemukan aku,yang sudah berubah jadi mayat, penginapan ini benar-benar akan menjadi tempat tragedi.

Ngomong-ngomong, saatnya makan sarapan pagi. Yah, mungkin lebih tepat makan siang sekarang, kurasa? Ketika aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka, Iroha keluar dengan ekspresi pucat.

“S-Senpai, apa kau mendengar suara tadi?”

“Apa yang kau bicarakan, Iroha? Ini liburan musim panas. Aku tidak akan berubah menjadi mayat dan menjerit.”

“Ya, aku seharusnya bertanya! Apa yang kau bicarakan?! Ayo, buka matamu!”

Tusuk, tusuk, Iroha mendorong jari telunjuknya ke pipiku. Karena jari-jarinya yang dingin, otakku terbangun dalam beberapa saat.

“…Ha?! Teriakan tadi itu…?”

“Ohhh, Senpai benar-benar kembali waras!”

“Hah? Aku selalu waras. Aku tidak kehilangan akalku sepanjang waktu sepertimu.”

“Wow, itu agak menyakitkan. Kau tidak ingat apa yang baru saja kau katakan?”

“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Yang aku tahu adalah kau terus menusuk pipiku. Kau ngajak berantem atau semacamnya, hah?”

“Bisakah kau tidak mengubah kata-katamu semaumu!”

“Kalian menganggap ini hal sepele ~”

Ketika Iroha dan aku terlibat dalam pertengkaran verbal kami, Ozu bangkit dari kursi pijat tempat dia duduk.

“Suara barusan itu berasal dari bawah.”

“Mungkin dari pintu masuk penginapan. Mari kita periksa.”

“Dimengerti!”

“Baiklah ~”

Iroha memberi hormat, sementara Ozu mengangguk dengan dingin. Mudah-mudahan, tidak ada orang yang terbunuh dengan kejam atau semacamnya —  aku berdoa pada diriku sendiri saat kami menuruni tangga. Ketika kami tiba di resepsi, kami menemukan pemilik yang gemetar, serta …

 

 

Kageishi Sumire, dengan wajah di lantai, terbaring dalam genangan cairan merah yang luas.

 

 

“S-Sumire-chansensei…”

“D-Dia sudah mati …”

Baru saja tiba di tempat kejadian, Iroha dan aku hanya bisa menatap pemandangan yang sulit dipercaya ini. Meskipun kami tidak bisa melihat wajahnya seperti itu karena menghadap ke bawah, gaya rambut dan sosok tubuh jelas milik guru wali kelasku, Kageishi Sumire. Cairan merah tempat dia berbaring tampak keluar dari pusat tubuhnya, mungkin dari perut dan dadanya. Kalau cairan ini adalah darah, maka kemungkinan besar dia meninggal karena kehilangan darah, melihat seberapa banyak darah yang ada.

“Sumire-sensei …” Ozu bergumam, linglung, dan berjalan menuju tubuhnya.

Kemudian…

 

 

Kenapa kau sekarat seperti itu? Cepat bangun.”

 

 

Seperti dalam drama kriminal di mana orang-orang jahat akan memeriksa tubuh korban untuk melihat apakah itu mati, Ozu menggunakan jari kakinya untuk menggali ke bawah tubuhnya dan memutarnya. Sangat kejam! Kau iblis! Aku tidak pernah menyangka kau akan seperti ini, Ozu!

“Uuuuuuu …”

Setelah akhirnya berbaring ke atas, bahu Sumire mulai bergetar ketika dia mulai menangis. Dia masih bernafas!

“Kau baik-baik saja?! Iroha, panggil ambulans!”

“Ya!”

Aku segera berlari ke arahnya, mencoba membantu. Dalam kasus seperti ini, lebih baik kalau dia tidak bergerak, kan? Pertama aku harus menghentikan pendarahannya, bukan? Ada banyak darah menempel di perutnya. Baiklah, harus mengambil handuk dari bak mandi dan … Hm?

Ketika pikiranku memproses dengan cepat, aku melihat sesuatu di sudut penglihatanku. Di kakiku. Di lantai. Tepat di tempat Sumire ambruk sedetik yang lalu. Empat bungkus jus tomat diperas bersama. Setelah memeriksa tubuh Sumire lebih dekat, aku tidak menemukan lubang terbuka yang bisa menjadi sumber kebocoran darah yang diduga, membuat jelas bahwa dia tidak benar-benar ditusuk.

“Kau — Jangan melakukan sesuatu yang membuat salah paham seperti itu!!!”

“Funyaaaaaanoooo, jangan di sana, jangan di titik vital pekerjaan mejaku !!!”

Tendang tendang tendang. Saat aku menendangnya di sisi pinggangnya dengan sepatuku, Sumire pingsan kesakitan saat dia membuat wajah ahegao. Itu sudah cukup untuk rasio ahegao minggu ini.

“Apa yang sedang kau lakukan?! Kejam! Kau iblis! Aku tidak berpikir bahwa kau akan bertindak begitu rendah, ke tingkat seperti itu!”

“Kau salah. Iroha, lihat dia, itu bukan darah. Itu jus tomat.”

“Hah? Jus tomat?”

Iroha menatap lantai dan melihat bungkus jus tomat yang rata, yang terlihat seperti katak yang dilindas mobil.

“Kenapa kau selalu membuat kami salah paham seperti itu?!!!”

“Kyahahahahahahanooooo aku lemah di belakang telingaaaaaaaaaa jangan gelitik akuuuuu!!

Gelitik gelitik gelitik. Iroha menggelitik area di belakang telinga Sumire, dan juga di belakang lututnya, dan Sumire mengeluarkan satu lagi wajah ahegao saat dia menggeliat kesakitan. Meskipun aku benar-benar tidak menyukai kenyataan bahwa aku melihat wajah ahegao yang lain, sekali ini saja, aku akan membiarkannya. Itu adalah hukumannya karena membuat kami khawatir seperti itu.

“Sniff … Sniff … Kauw sawaah … Ini seharusnya menjadi permintaan maaf untuk Iroha …”

“Permintaan maaf?”

“Aku ingin memberimu jus tomat yang sangat kau cintai dan berharap kau bisa memaafkanku. Tapi tangga lebih tinggi dari yang aku kira, dan aku terpeleset! Waaaaaaaa! Iroha-chan akan membenciku! Aku akan menikaaaaaah!”

“Aku benar-benar tidak bisa mengerti apa yang kau coba katakan padaku … Juga, bukankah kau bilang ‘Aku tidak bisa menjadi istri lagi’ …?”

Ketika Sumire mulai menangis lagi, Iroha melihat ke arahku, mencari bantuanku. Jangan seret aku ke masalah ini.

“Sniff, waaaah … Kau belum mendengar kabar dari Aki? Bahwa kami harus melakukan ‘Ritual Pernikahan’ …”

“Itu baru pertama kalinya aku dengar. Senpai, kenapa kau tidak mengatakan sesuatu yang semenarik itu ?!”

“Kau bilang begitu, tapi aku sendiri tidak tahu banyak tentang itu. Ini tidak seperti memiliki signifikansi hukum. Mungkin itu bukan masalah besar—”

Iroha langsung mengeluh di sebelahku. Karena ini tentang beberapa tradisi, pasti ada ritual Shinto yang telah diturunkan dalam keluarga mereka atau semacamnya. Pokoknya, yang harus aku lakukan adalah menyelesaikan ini, jadi aku tidak berpikir bahwa ada kebutuhan untuk menjelaskannya kepada Iroha atau Ozu, atau begitulah yang aku pikirkan, tetapi mata Sumire terbuka lebar.

“Bukan masalah besar, katamu … Apa kau seeeeeriiiiiiuuuuussss?!”

“Ack, jangan menempel padaku! Bersihkan jus tomat itu dulu!”

“Kau tidak mengerti, Aki! ‘Ritual Pernikahan’ itu … itu …”

Dengan upaya keras untuk mendorongnya menjauh, Sumire mendekatkan wajahnya, memaksakan kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dan, sebelum aku bisa meminta konfirmasi, dia melanjutkan, memuntahkan kemustahilan mutlak.

“Dengan 100% peluang untuk menjadi pasangan, ini adalah ritual perburuan pernikahan yang membawa kutukan terburuk dalam sejarah !!!”

…………

……

Permisi?

*

“’Ritual Pernikahan’ adalah ritual tradisional di desa ini. Itu kutukan terburuk yang pernah ada, membuat kemungkinan laki-laki dan perempuan berakhir bersama hingga 100%!”

Ketika kami pergi ke Kamar Bellflower kami, Sumire dengan tegas menjelaskan detailnya. Alasan kami pindah ke sini adalah karena kami akhirnya akan menarik perhatian penduduk desa lainnya. Lagipula, orang dewasa seharusnya tidak membenci ritual dan kepercayaan orang lain. Sambil mendengarkan ceritanya, berguling-guling di atas futon, Iroha terkikik.

“Ah, kutukan? Itu bagus ~ Jadi takut karenanya, aku merasa tidak enak pada dewi!”

“Itu tidak masalah untuk pasangan yang serius pacaran, tapi aku dan Aki … Uuuuuuwaaaaaaaaaaaaaaaaaahahah maafkan aku Iroha-chaaaaaaaaaaaaaaaaan !! Mashiro-chaaaaaaaaaaan !!”

Setelah menjadi emosional lagi, Sumire menempel ke yukata Iroha, menangis. Sebagai tanggapan, Iroha menepuk kepalanya. Siapa yang guru di sini?

“Ahahaha! Kenapa kau meminta maaf kepada kami ~?”

“Karena … Seseorang sepertiku, yang bernilai sama seperti sebuah tanaman plastik, tipe yang biasa mendukung orang lain sebenarnya berdiri di jalan cintamu … Aku jenis sampah terburuk !! Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah !!”

“Tunggu, jangan berteriak keras seperti itu—”

“S-Sumire-sensei, kau terlalu banyak memikirkannya. M-Mashiro sebenarnya tidak merasa seperti itu terhadap Aki …”

Iroha mencoba menenangkan teriakan Sumire ketika Mashiro menatapku. Untuk beberapa alasan, Sumire telah bercerita tentang Iroha dan Mashiro yang memiliki perasaan padaku. Sungguh, kisah yang menjengkelkan … Hm? Tapi dia benar untuk Mashiro, jadi mungkin Iroha juga … Tidak, tidak mungkin. Iroha tidak akan pernah, tidak, pasti tidak.

Dan aku menerimanya begitu saja, tetapi mengapa bahkan Mashiro ada di sini?

“Hei, Mashiro. Bukankah seharusnya kau bertarung melawan waktu untuk naskahmu sekarang?”

“Ah … Um, ini semakin berisik, jadi Mashiro bertanya-tanya apa yang terjadi. Juga, dia ingin beristirahat sebentar.”

“Aku merasa editormu akan marah lagi …”

“Tidak masalah. Di saat seperti ini, dia seharusnya bermain di hutan bersama burung-burung kecil.”

“Kebiasaan macam apa itu?”

Tetapi itulah yang aku harapkan dari super editor Kiraboshi Kanaria. Rutinitas hariannya ada pada tingkat lain. Aku tidak tahu berapa umurnya, tapi kebiasaan seperti dongeng ini terlalu berlebihan, bukan? Tidak, tunggu sebentar. Mungkin itu adalah teknik super rahasia untuk menghilangkan stres?

Mungkin. Mengingat betapa suksesnya dia, bermain dengan burung-burung di hutan pastinya karena itu, kan? Melihat dia ikut serta dalam berbagai pertempuran dalam masyarakat untuk melakukan pekerjaannya, pasti ada makna yang lebih dalam dari itu.

Dia berada di posisi di mana dia berhasil membuat penulis memenuhi tenggat waktu mereka, mengeluarkan bakat mereka sepenuhnya. Seorang mentor yang hebat. Mungkin ada banyak hal untuk dipelajari darinya, tergantung pada kondisinya. Aku mungkin benar-benar berakhir melakukan hal yang sama dengannya di masa depan. Dan ketika aku tenggelam dalam pikiran, Mashiro berbicara dengan ekspresi dingin, meskipun dia sedang terguncang dengan hebat di kursi pijatnya.

“Sumire-sensei terlalu berlebihan. ‘Ritual Pernikahan’ ini hanyalah okultisme. Jika peserta sendiri tidak memiliki ketertarikan di dalamnya, tidak mungkin berhasil.”

Aku sepenuh hati setuju. Aku tidak tahu mengapa Sumire mempercayainya, tetapi tidak ada peluang 100% di dunia ini. Tidak peduli betapa terkenalnya seorang spesialis, kemungkinan mereka memprediksi masa depan bidang tertentu hanya akan sekitar 70%. Kalau kau berhasil meningkatkan peluang hingga 80%, kau mungkin berada di garis depan bidangmu.

Itu pasti akan menguntungkan! Aku tidak akan membiarkannya berakhir dengan kegagalan! Itu hanya ungkapan yang biasanya diulangi oleh penipu.

“—Tidak, kau mungkin tidak bisa mengabaikannya hanya sebagai kepercayaan takhayul.”

“Ozu …?”

Ozu tiba-tiba berbicara dan memberikan ketidaksetujuannya pada waktu yang aneh. Mendengar insinyur yang cerdas, yang tidak terlalu percaya pada kejadian gaib, mengatakan sesuatu seperti itu, itu benar-benar membuat aku lengah. Mungkin dia menemukan beberapa data karena dia berbicara sambil melihat smartphone-nya.

“Aku meretas basis data desa, dan mencari catatan mereka tentang ritual tradisional itu.”

“Jadi sebuah desa terpencil memiliki teknologi seperti itu?”

“Diam dan dengarkan, oke?”

“…Baik.”

Karena senyumnya semakin menyeramkan, aku hanya diam dan mengangguk. Aku merasa dia menjadi semakin menakutkan setelah kami berangkat dalam perjalanan ini.

“Jadi, mengenai apa yang aku temukan. ‘Ritual Pernikahan’ ini adalah salah satu jenis prosesi pernikahan.”

“Prosesi pernikahan?”

“Benar. Saat itu, ketika menikah ke sebuah desa terpencil di pegunungan, atau di sebuah kastil, pernikahan biasanya berlangsung sampai malam. Cukup sering, orang-orang yang terlibat akan membangun prosesi pernikahan.  Orang dewasa yang tak terhitung jumlahnya memegang lentera kertas, berjalan menyusuri jalan yang gelap, sesuatu seperti sebuah parade … Kau tahu, seperti hal *’Sunshower’ yang aneh ini.”

(T/N : Kitsune no Yomeiri, fenomena yang disebut ketika kau melihat lentera kertas mengapung dalam kegelapan selama prosesi pernikahan, juga disebut sunshower)

“Ahhh, ya, aku ingat sesuatu seperti itu.”

Ketika mengerjakan ‘The Night The Black Goat Screamed’, ada banyak waktu ketika aku mencari misteri dan cerita rakyat seperti itu. Lebih tepatnya, sebagian besar hanya Makigai Namako-sensei yang melakukan pekerjaan, tetapi ada kalanya aku harus memikirkan aspek-aspek tertentu dari peristiwa dalam permainan.

“’Ritual Pernikahan’ ini adalah sesuatu yang dekat dengan itu. Seorang pria dengan tubuhnya dibersihkan secara menyeluruh, dan seorang wanita mengenakan topeng rubah dengan kimono putih. Mereka dibawa mengikuti pawai oleh penduduk desa ke arah kuil suci kecil yang jauh di pegunungan. Begitu mereka tiba, penduduk desa meninggalkan gunung, dan pasangan itu menghabiskan malam di sana.”

“Semalam penuh? Apakah tidak ada lagi yang harus kita lakukan?”

“Aku tidak bisa menemukan hal lain tentang itu. Kalian berdua tinggal di sana untuk malam itu.”

“Jadi mengapa itu menjadi masalah? Kita bisa tidur dan menunggu pagi datang, kan?”

“Aku pikir juga begitu. Tapi ada beberapa data yang membuatku khawatir.” Ozu menyipitkan matanya saat dia berbicara, lalu menunjukkan layar smartphone miliknya.

Tampak ada diagram lingkaran. Awalnya aku pikir itu hanya lelucon, karena diagram lingkaran hanya diisi dengan satu warna.

“Pasangan yang mengambil bagian dalam ‘Ritual Pernikahan’ ini memiliki tingkat keberhasilan 100%. Tidak terkecuali. Mereka semua menikah setelah itu dan melanjutkan untuk menghasilkan anak. Statistik yang benar-benar sempurna. Melihat angka-angka itu, aku tidak bisa mengabaikannya sebagai hal gaib.”

“… Serius.” Aku terheran.

Bagi seseorang yang paling menghargai peluang dan kemungkinan, statistik adalah satu-satunya dewa. Tentu, ada juga sihir statistik. Di desa ini dengan semua tradisinya, kalau pernikahan antara dua orang ini tidak berhasil bahkan setelah ritual ini, mereka mungkin memaksa kami untuk menikah. Statistik ini bahkan mungkin tidak dapat diandalkan. Tapi, apapun alasannya.

“Baik itu ilmu gaib atau buatan, ada beberapa kekuatan aneh yang dimainkan untuk memastikan bahwa kedua orang itu menikah.”

“Itulah intinya. Kita tidak bisa menyalahkan Sumire-sensei karena putus asa seperti itu.”

“Sepertinya kau akhirnya mengerti. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi … Aku tidak bisa menatap mata Iroha-chan atau Mashiro-chan lagi.”

“Sumire-chansensei …”

“………”

Saat Sumire menatap mereka berdua, mereka berdua memberikan ekspresi khawatir sebagai balasan. Begitu ya, aku mengerti alasan Sumire sangat panik. Membohongi keluarganya tentang pertunangan palsu adalah satu hal, tapi kalau begini, kami mungkin benar-benar menikah. Sumire, yang telah salah paham bahwa Iroha dan Mashiro memiliki perasaan kepadaku, disiksa dengan rasa bersalah. Yah, itu bukan kesalahpahaman dalam kasus Mashiro, tapi mari kita kesampingkan untuk saat ini.

Bagaimanapun, kami tidak bisa membuat Sumire berurusan dengan ini ketika dia merasa sangat bersalah. Dan di atas itu, aku benar-benar tidak ingin terhubung dengan Sumire di tingkat itu. Kalau itu memberiku ilustrasi gratis, aku tidak keberatan menikah di atas kertas, tetapi kalau ada kekuatan aneh yang bermain, kami akhirnya mungkin benar-benar membuat keluarga kami sendiri.

Tarik.

Begitu lembut sehingga tidak ada yang memperhatikan, seseorang menarik lengan bajuku.

“… Hmm?”

“Mashiro, tidak mau… kau melakukan ritual itu.”

“… Y-Ya …”

Mashiro mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya. Menerima kasih sayang darinya, aku tidak bisa menemukan kata-kata untuk diucapkan. Kemudian, seseorang mencubitku di samping perutku.

“Ada apa dengan tatapan cabul di wajahmu, Senpai ~ Kau mesum ~”

“Ha?! Aku tidak melakukan itu!”

“Kau sudah lupa? Menggunakan masa mudamu sendiri untuk menantang—”

“Aku tahu itu, oke?”

Iroha berbisik di telingaku, tetapi aku cepat-cepat menyingkirkannya. Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan diriku goyah di sini. Jangan khawatir, Iroha. Ini semua untuk [Aliansi Lantai 5]. Dengan tingkat efisiensi tertinggi.

“Aku banyak memikirkan ini ketika pembicaraan tentang pertunangan palsu muncul.”

Ilmu gaib? Siapa yang peduli tentang itu. Yang penting adalah ini bukan ‘Ritual Pernikahan’ dengan peluang 100% untuk sukses. Ini tidak benar-benar seperti kami akan benar-benar menikah. Ini hanya-

Ini semua tentang masa depan yang akan dipilih wanita lajang ini, Kageishi Sumire.

“Hei, Sumire-sensei. Bisakah aku bertanya sesuatu?”

“Apa …?” Sumire menjawab dengan suara berlinangan air mata.

Mempertahankan ekspresi yang sama, aku bertanya padanya.

“Kalau kau benar-benar merasa tidak enak pada muridmu, maka pasti ada sesuatu yang bisa kau lakukan. Kenapa kau tidak melakukan itu?”

“…! I-Itu …”

Warna mengering dari wajahnya. Dengan ekspresi pucat, dia menggigit bibirnya. Iroha terkejut.

“Sesuatu yang bisa dia lakukan?”

“Itu mudah. Alasan dia berakhir dengan ritual adalah karena tipuan pertunangan palsu ini. Jadi, yang harus dia lakukan adalah bertanggung jawab dan mengungkapkan segalanya. Itu akan menjadi kasus terbaik, bukan?”

“T-Tapi, kalau dia melakukannya, Sumire-chansensei harus melalui wawancara pernikahan ini dengan orang acak. Dan dia akan dimarahi karena berbohong.”

“Dia menuai apa yang dia tabur. Tergila-gila dengan Arashima-kun, bahkan di usianya. Mimpinya tidak bisa berlangsung selamanya. Mengapa kau tidak menerimanya saja sekarang, sebagai orang dewasa.”

“……”

“Senpai, caramu mengatakannya …”

Sambil menutup rapat bibirnya, Sumire mengangguk. Sementara itu, Iroha menyerang pilihan kata-kataku. Aku tidak akan menariknya kembali. Aku menyimpan pedangku di dagunya, menatap lurus ke arahnya. Sekarang, pilih. Biarkan aku mendengar perasaanmu yang sebenarnya. kau pasti sudah menyadarinya sendiri, Sumire. Menikah denganku, atau tidak. Bukan itu yang kau putuskan.

Ini hanya tentang kau yang ingin tetap menjadi guru, atau ingin menjadi ilustrator.

Akankah kau mempertahankan lelucon itu, tetap tinggal dalam keinginanmu? Membuat sedih Mashiro dan Iroha? Meski kau salah tentang Iroha. Apa kau akan memprioritaskan perasaan Mashiro (dan juga Iroha), dan memilih cara guru yang benar?

Sumire harus memilih di antara keduanya. Dia berakhir di antara dua pilihan itu. Dan, tergantung pada jawabannya, aku harus mempersiapkan diri untuk memotong Sumire, Murasaki Shikibu-sensei, dari [Aliansi Lantai 5].

“Aku…”

Lengannya gemetar, dan air mata mengalir di pipinya. Biasanya, air mata itu palsu, dimaksudkan untuk membangkitkan simpati. Tetapi sekarang, air mata itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Aku tidak menginginkan itu.”

Kata-kata mulai mengalir keluar dari mulutnya.

“Menikah, kalau aku harus mencoba melayani orang lain setiap hari … Tidak dapat melanjutkan menggambar … Aku tidak menginginkan itu …”

Perlahan tapi pasti, perasaan sejatinya tumpah. Perasaan sejati Murasaki Shikibu-sensei. Bersama dengan air matanya, mereka menyembur keluar dari dalam.

“Aku ingin menggambar … Aku ingin menggambar lebih banyak lagi …”

Sungguh, kalau kau memikirkannya, dia cukup serius tentang lelucon pertunangan palsu ini. Kalau dia menikah dengan orang yang diinginkan keluarganya, mereka akan tahu setiap langkahnya. Dia tidak akan bisa terus menggambar secara rahasia seperti yang dia lakukan sekarang, sementara menjadi guru. Selama ini, dia berjuang melawan ketakutan bahwa hidupnya sebagai ilustrator akan berakhir.

“Maafkan aku … aku sangat menyesal, Iroha-chan, Mashiro-chan. Karena menjadi guru yang egois. Aku benar-benar gagal. Tapi, aku tidak mau ini … aku tidak ingin berhenti menggambar …”

Apa yang ada di hadapan kami sekarang bukanlah guru yang dingin dan sadis, atau seorang wanita yang gagal. Dia adalah seorang gadis muda yang menarik keinginannya sendiri, keinginannya yang egois. Itulah yang aku harapkan. Itu adalah perasaanmu yang sebenarnya, kan, Murasaki Shikibu-sensei?

Saat itu, ketika aku mencari dia untuk [Aliansi Lantai 5], ketakutannya sama lazimnya dengan sekarang. Bahwa kalau aku melaporkannya ke sekolah, dia tidak akan bisa menjalani kehidupan yang sama lagi. Tapi aku berjanji padanya. Bahwa suatu hari aku akan menariknya menjauh dari mata keluarganya yang mengawasinya, tidak peduli seberapa sulitnya.

“Dengan perasaan yang telah kau tunjukkan pada kami, aku akan menguatkan tekadku, Murasaki Shikibu-sensei.”

“… Fueh?”

“Aku akan memenuhi janji yang aku buat pada hari itu. Meskipun ini sedikit lebih cepat dan kacau daripada yang aku perkirakan, aku pasti akan membebaskanmu dari keluargamu.” Aku meletakkan satu tangan di bahunya.

Dan kemudian, aku meletakkan tanganku di lantai, dan bersujud.

“—Aku minta maaf karena bertindak seperti aku sedang mengujimu. Mulai dari sini, misi yang menanti kita tidak boleh gagal. Karena itulah aku ingin mendengar perasaanmu yang sebenarnya sebelum memulai … Tapi aku minta maaf karena membuatmu menangis seperti ini.”

“Aki …”

“Silahkan pukul aku. Mungkin tidak banyak, tetapi kalau itu membuatmu merasa lebih baik, itu akan bagus.”

“Apa, apa yang kau katakan ?!”

Aku mempersiapkan diri dan menatap Sumire, matanya dipenuhi kebingungan. Dia menundukkan wajahnya, sampai dia bergumam dengan lembut.

“Mana mungkin aku bisa melakukan itu. Aki tidak perlu meminta maaf, jadi bagaimana aku bisa memukulmu?”

“…Begitukah? Yah, kalau aku bisa mendapatkan jalan tanpa tamparan di wajahku, maka aku tidak akan mengeluh—” Ekspresiku mengendur setelah mendengar kata-katanya.

Aku berencana untuk dihukum atas tindakanku, dan mempersiapkan diri. Meskipun, jujur ​​saja, ini terasa seperti aku semakin berhutang budi padanya, dan—

“Dan chop!”

“Oooooooouch?!”

Hukuman datang dari arah yang tidak terduga. Namun, itu bukan tamparan di wajah, atau pukulan dengan tinju. Sebaliknya, itu adalah serangan berat tepat di sebelah leherku, pada titik moksibusi di pundakku.

“Iroha, sialan kau!”

“Ahahahaha! Itu bekerja dengan sangat baik, bukan ?! Tubuhmu benar-benar kaku, hah, Senpai?”

“K-Kau … Kapan kau belajar tentang titik-titik itu …”

“Karena aku terus melihat Senpai yang melakukannya ~”

“Jangan memamerkan kemampuanmu yang aneehhaduhaduhaduh!!!”

Iroha menggerakkan sikunya lebih dalam ke titik akupunktur pundakku, mengirimkan gelombang rasa sakit ke seluruh tubuhku. Kemudian dia mendekatkan wajahnya ke telingaku, dan berbisik dengan suara yang begitu rendah sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

“Sekarang, aku memberimu hukuman menggantikan Sumire-chansensei. Dengan ini, kau dapat berbicara tentang rencanamu.”

“Kau…”

Apa, kau melihat niatku sebenarnya. Serius, kau tentu tahu banyak tentang aku sebagai seseorang yang bertindak sangat menjengkelkan sepanjang waktu. Tapi … terima kasih, Iroha.

“Dengarkan aku. Untuk rencana ini, semuanya tergantung pada dukunganmu, Iroha.”

“Oh ~~~~ Apa itu tadi? Kau butuh aku?”

“Ya, jadi tolong pinjamkan aku kekuatanmu.”

“Apa boleh buat yaaa~? Lihat, aku bahkan akan memberimu kehangatan tubuhku di atas itu … Hanya untukmu!”

“… Meskipun aku kesal karena kau selalu bertindak seolah lebih baik dariku seperti ini, kurasa aku tidak punya pilihan lain.”

Dengan Iroha di punggungku, aku menoleh ke semua orang, ekspresi tegas di wajahku.

“Aku akan membujuk kepala Keluarga Kageishi saat ini, Kageishi Kou, untuk memberi Murasaki Shikibu-sensei kebebasan yang layak diterimanya. Untuk mencapai itu, aku membutuhkan semua orang di sini untuk membantuku.”

*

「Jadi sudah waktunya, ya?」

「Ya, aku mempersiapkan diri sepenuhnya. Dengan peristiwa ini, kita akan mengakhiri situasi keluarga yang mengganggu Murasaki Shikibu-sensei ini.」

「Tapi, apa kau akan baik-baik saja?」

「… Aku tidak tahu.」

「Yah, aku tidak ingin memperburuk keadaan, tapi kau tahu … Ketika kau semakin dekat dengan Iroha, mata Tsukinomori-san berubah menjadi mata iblis pemakan manusia.」

「… A-aku tidak perlu mendengar itu.」

Loading...
Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded