Osananajimi ga Zettai ni Makenai Love Comedy – Volume 2 – Chapter 2 – Bagian 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Volume 2 – Chapter 2 – Bagian 3

 

 

Bagian 3

Hari berikutnya aku bangun dari tempat tidur lebih awal. Ada banyak alasan bagiku untuk melakukannya, tetapi yang terbesar adalah aku telah terbangun.

Sebagai hasilnya, aku membuat bento untuk makan siang, kejadian langka yang terjadi setahun sekali.

Bahkan dengan ini aku masih punya waktu luang, jadi aku benar-benar menikmati roti sarapan yang biasanya akan langsung kubuang ke perutku, dan butuh lima menit untuk menata rambut yang biasanya akan kulakukan dalam tiga puluh detik. Duduk di sofa dan menatap TV sambil memutar musik, aku kemudian dapat memeriksa apa keberuntunganku untuk hari ini.

“Untuk Libra … hari ini, keberuntunganmu dalam cinta akan menjadi yang terburuk!”

“Oh, hmmm.”

Aku diam-diam mengubah saluran. Benar, aku akan pura-pura tidak pernah melihat itu.

Aku memiliki banyak waktu walaupun ini pagi – tetapi dalam kenyataannya hatiku tidak memilikinya sama sekali. Itu semua karena panggilan yang aku terima dari Midori sehari sebelumnya.

” Untuk saat ini kami sudah memberi tahu Kak Kuro semua yang kami tahu.”

” Dan reaksinya?”

“ Hmm, yah, tetap santai. Sepertinya kebenaran tidak meresap.”

” Hmm …”

Awalnya, aku tidak mengerti amnesia dengan baik. Maksudku, aku tahu itu adalah fenomena nyata, tetapi ambil contoh yang bahkan tidak mengingat namamu sendiri seperti dalam drama. Jika itu benar, aku memiliki pertanyaan, seperti, misalnya,”Bagaimana seseorang yang tidak dapat mengingat namanya sendiri dapat berbicara bahasa Jepang?”. Jika ingatannya telah kembali ke bayi, maka dia seharusnya sudah lupa tentang bahasa juga. Atau ketika aku berpikir demikian dalam ketidaktahuanku, mungkin saja dalam bidang kedokteran, percakapan seperti ini sepenuhnya biasa. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa keras aku berusaha untuk memikirkannya di dalam kepalaku, aku masih tidak akan mengerti. Untuk alasan yang sama, aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan dari reaksi Kuroha.

Dia tidak pergi ke rumah sakit?”

Kak Kuro sendiri sepertinya tidak terlalu memikirkannya, mengatakan dia baik-baik saja dan menolak untuk pergi.”

Apa yang Paman dan Bibi katakan?”

Yah, itu tidak seperti itu akan menjadi penghalang bagi hidupnya, jadi … rasanya mungkin mereka hanya ingin mengamati bagaimana keadaannya sebentar.”

” … Begitu ya.”

Yang terlalu kebetulan, adalah ingatan yang hilang darinya. Tentu saja, jika tekanan menjadi alasan amnesianya, maka masuk akal bahwa justru bagian-bagian yang menekan itu saja yang akan terhapus. Namun, perubahan besar dari hubungan yang kami bangun sebagai teman masa kecil, perasaanku yang juga berkembang, dan ketika kami berada di ambang memulai hubungan baru yang berbeda – ini telah terjadi.

Aaaaaaaah, apa yang harus kulakukan ?!

Kemudian, Kak Kuro sepertinya ingin berbicara denganmu sedikit, Sueharu, jadi dia bilang besok dia ingin pergi ke sekolah bersama denganmu. Aku pikir dia ingin pergi dan bertemu denganmu di pagi hari, tetapi tidak akan ada masalah, kan?”

Ooh …”

Bukannya aku biasanya pergi ke sekolah bersama dengan Kuroha, tetapi pada hari-hari dengan kunjungan lapangan, ujian, ketika kami hendak terlambat, atau festival olahraga dan sebagainya, Kuroha akan datang untuk menemuiku. Jadi itu tidak seperti aku menentang kami pergi ke sekolah bersama-sama … tapi tetap saja aku tidak bisa mengendalikan getaranku.

Terhadap Kuroha, aku merasakan kepercayaan, rasa terima kasih, persahabatan, kedekatan, perasaan tertarik – dan ketakutan.

Emosiku berantakan, dan aku masih benar-benar tidak bisa menyatukan semuanya. Jadi sementara aku merasakan tekanan kuat sendirian bersama dengannya … Aku juga benar-benar tidak punya alasan untuk menolak.

Kau sebaiknya tidak lari, oke, Sueharu?”

Ah, sial. Dia telah menyerang terlebih dahulu dan menutup jalan keluarku.

Aku bertanya-tanya apakah mungkin dia bisa mengatakan itu sedikit lebih lembut, tetapi begitulah ledakan Midori. Meskipun benar bahwa sebagai hasilnya, aku merasa motivasiku meningkat.

Oke, aku mengerti, aku mengerti! Aku akan menunggu Kuro besok pagi, dan kemudian kami akan pergi ke sekolah bersama. Itu cukup, bukan?”

Ayolah, aku tidak memintamu untuk membantuku.”

Kau orang yang baik, Midori. Hanya saja dengan ucapan kasarmu itu, jujur ​​saja tidak ada orang yang akan mendekat.

Walaupun itu ada di pikiranku, akan ada pertengkaran seandainya aku mengucapkannya secara verbal, dan aku menutup telepon setelah meninggalkan ucapan terima kasih.

–Dan dengan itu sekarang sudah pagi.

Waktu adalah 7:15. Aku selalu pergi saat lewat empat puluh lima menit, jadi aku masih setengah jam lebih awal.

 

 

Ding dong!

 

 

Suara interkom bergema.

Aku berdiri dari sofa segera setelah itu, meraih tas sekolahku yang telah disiapkan, lalu berjalan ke pintu masuk sambil bergerak seperti boneka timah yang rusak.

“Haru …………………… selamat pagi.”

Di pintu masuk Kuroha berdiri dengan seragamnya. Itu membunuhku untuk melihat keimutan sosoknya yang berdiri di luar, mandi di bawah sinar matahari pagi melalui kaca, namun pemandangannya masih membuat hatiku bernyanyi.

Hanya saja, entah bagaimana – ada perbedaan dibandingkan dengan bagaimana keadaannya sampai sekarang.

Jika aku menyatakan perbedaan itu dalam satu kalimat, itu adalah yang paling feminin yang pernah aku lihat.

Tentu saja, tidak seperti Midori, Kuroha awalnya feminin. Tapi meski begitu sekarang dia terasa jauh lebih baik dari dia sebelumnya.

Ketika aku menempatkan seluruh kepalaku untuk memikirkan bagian mana dari dirinya yang berbeda dari biasanya, aku sampai pada satu kata.

Saat ini,”rasa malu” memancar dari setiap inci tubuh Kuroha.

Pipinya memerah, dan pandangannya mengarah ke samping. Sesekali dia melirik untuk melihat bagaimana keadaanku, sebelum menoleh dengan tergesa-gesa lagi setiap kali aku mencoba membawa mataku untuk bertemu matanya, gelisah ketika dia mengarahkan matanya ke arah yang sama sekali berbeda.

Karena Kuroha mengambil posisi sebagai kakak padaku meskipun kami berada di kelas yang sama, jika aku ditanya aku akan mengatakan dia lebih sebagai penyerang daripada seorang pembela. Tentu saja ada lebih banyak waktu ketika Kuroha memulai pembicaraan atau mencelaku. Akibatnya, perilaku Kuroha saat ini dengan anehnya menjadi lebih menyegarkan.

Apa, Kuro, apa kau bos terakhir dengan satu transformasi terakhir di tanganmu? Sialan, dia sungguh imut.

“H-Haiii, Kuro. P-P-Pagi!”

Menyerap damage parah dari pukulan preemptive dari keimutannya yang luar biasa, aku berusaha sekuat tenaga untuk menanyakan kondisi Kuroha.

Berapa banyak yang dia ingat? Bagaimana perasaannya tentang itu? Apa alasan rasa malunya? Dan kenapa?

Aku merasa seperti akan jatuh ke dalam rawa jika aku membuat pilihan yang salah. Untuk sekarang aku entah bagaimana berhasil menekan rasa takutku, tetapi tetap saja rasa takut itu mengikuti langkah kakiku, siap ketika sepertinya aku akan terjun ke dasar rawa kapan saja.

Tapi aku tidak bisa tunduk pada rasa takut sekarang. Mengesampingkan keadaan baru-baru ini, jika aku melihat melalui perspektif Kuroha dan aku saling ”meminjam” dan ”meminjamkan” satu sama lain, aku terus meminjam, meninggalkan kewajiban sampai aku hampir tidak pernah bisa menyelesaikan pembayaran. Bagi Kuroha yang dalam keadaan darurat akibat amnesia, sekarang adalah saatnya bagiku untuk membalas budi. Aku harus menghadapi ini tanpa melarikan diri.

“… Yah, sepertinya semuanya benar-benar tidak terkendali, ya …”

Kuroha berbisik tapi masih belum menatap mataku.

Hmm, apakah itu benar untuk menggambarkan kesanku tentang dia karena dia tampaknya memiliki pemahaman terhadap peristiwa baru-baru ini, tapi itu tidak disertai dengan perasaan yang secara pribadi mengalaminya, seperti kata-kata Midori secara akurat tercermin?

Ada banyak hal yang menjadi sulit untuk ditanyakan begitu kami bertemu.

Berpikir demikian, aku memutuskan untuk mencoba menanyainya.

“Kuro, berapa banyak yang kau ingat? Kapan hal terakhir yang kau lakukan?”

“……………………. Sedikit sebelum liburan musim panas.”

Ini juga sesuai dengan informasi Midori. Itu meninggalkan soal pengakuannya, tapi … baiklah, aku akan bertanya.

“Apakah itu berarti tentang aku menolakmu dan seterusnya, kau …”

“Aku mengaku padamu dan ditolak, kan, Haru? Kemudian setelah itu beberapa hal terjadi, tetapi akhirnya kau mengaku padaku di festival budaya, kemudian aku menolakmu, kan?”

“Ya, ya …”

Oh astaga, mendengarnya berkata seperti ini, itu menakutkan banyak kekacauan yang terjadi hanya dalam waktu satu setengah bulan!

“Aku ingat sampai ketika aku memutuskan aku akan menembakmu, Haru. Tapi setelah itu, aku tidak ingat apa-apa … rasanya bahkan setelah aku mendengarkan gadis-gadis itu, semuanya tampak seperti keluar dari buku cerita. Atau lebih tepatnya, rasanya seperti mendengar tentang hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan denganku …”

“Begitu ya…”

Amnesia pasti mengerikan. Ya, walaupun ingatan itu menyakitkan, tetapi semuanya itu sangat terukir. Tidak bisa berbagi itu tampak menyedihkan.

“Itu sebabnya–”

Kuroha meremas jari-jarinya di depan dadanya.

“Aku tidak tahu bagaimana aku harus berhadapan denganmu, Haru … aku mencintaimu, tapi sepertinya aku menolakmu untuk beberapa alasan … Dari apa yang bisa kulihat dalam video itu, aku melakukan sesuatu yang mengerikan kepadamu di depan begitu banyak orang … Dan karena itu, kau mungkin terluka sangat parah, jadi … aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan …”

“?!”

A- Apa?

Begitu ya, jadi bagi Kuroha masa kini, kenyataan kembar bahwa ”Kuroha telah mengaku padaku dan ditolak” dan bahwa ”Aku telah mengaku pada Kuroha dan ditolak” tidak lagi diterapkan … Apakah ini akan berubah menjadi kasus di mana dengan demikian Kuroha masa kini menjadi ”Kuroha yang polos dan tidak bersalah yang akan mencoba untuk mengaku padaku untuk pertama kalinya” … ?!

Maksudku, apakah tidak apa-apa bagiku untuk menggambarkan ini sebagai situasi di mana sepertinya Kuroha sendiri telah melompat ke masa depan? Mungkin bisa dikatakan bahwa kehilangan ingatan seseorang adalah metode praktis untuk melewatkan waktu yang tidak mengandalkan fiksi ilmiah.

Mengapa aku ditolak, aku masih tidak mengerti. Tentang alasan Kuroha untuk melakukan itu, aku masih sangat penasaran.

Tetapi kenyataan bahwa kami ”mengaku dan ditolak oleh satu sama lain” saling menyakiti kami, dan menjulang cukup tinggi sebagai tembok yang menghalangi kami untuk bergerak maju. Jika kenyataan itu telah terhapus di sisi Kuroha … maka semua masalah telah sepenuhnya hilang.

Saat ini, Kuroha baru saja mengatakan bahwa dia menyukaiku.

Tapi tentu saja. Ini wajar jika ingatannya hanya kembali tepat sebelum dia mengaku padaku. Dia bahkan mengatakan bahwa dia telah ”melakukan sesuatu yang mengerikan” dan ”tidak tahu mengapa dia menolakku”. Itulah kata-kata yang sangat ingin kudengar sejak ditolak oleh Kuroha.

“Hei, Haru, bagaimana menurutmu …? Apa kau masih menyukaiku setelah aku melakukan semua hal mengerikan itu padamu …?”

“A-aku …”

Aku sangat senang sampai aku merasa bisa pingsan.

Kasih sayangku kepadanya masih jelas. Sejak awal aku tidak pernah punya alasan untuk membenci Kuroha. Aku tidak bisa memikirkan hidup tanpa Kuroha.

Karena itu-

“Aku-”

 

 

-mencintaimu.

 

 

 

Adalah apa yang ingin aku katakan, tetapi suaraku menolak untuk meninggalkan tenggorokanku.

“…………?”

Kuroha yang sepertinya ragu apakah aku akan melanjutkan, memiringkan kepalanya ke samping.

Pada saat itu aku mengalami halusinasi pendengaran.

 

 

“- Tidak.”

 

 

Kuroha mungkin tidak akan mengatakan itu kalau aku mengaku padanya sekarang.

Itulah yang aku pikirkan. Tidak, itu yang aku yakini. Tidak, apa yang ingin aku percayai.

Dia tidak akan mengatakannya sekali pun dari sepuluh ribu kali aku menembaknya. Mungkin tidak sekali pun dalam sejuta.

Tapi-

Aku pikir kemungkinan dia melakukannya masih bisa disebut sekitar satu dalam satu miliar.

Rasa sakit dari patah hati Kuroha mungkin telah terhapus bersama dengan ingatannya.

Tapi rasa sakitku tetap ada. Masih tetap – dan sangat dalam.

“… Tidak apa-apa, Haru. Kau tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.”

Kuroha menghasilkan senyum pahit.

“Kurasa aku pasti sangat menyakitimu, kan, Haru … Maaf …”

“Kuro …”

“Jika demikian, maka aku ingin menebusnya untukmu …”

Kuroha berusaha meraih tanganku.

Saat aroma lembutnya yang biasa menggelitik hidungku – aku tanpa sadar mundur.

“Ah…”

Mata Kuroha terbuka lebar. Aku bisa merasakan kejutan emosionalnya.

“Maaf, Kuro! Bukan niatku untuk …”

Aku merasa bersalah atas tindakan yang telah aku lakukan secara mendadak.

Ketika aku menundukkan kepalaku dengan dalam, aku mendengar bisikan turun dari atas kepalaku.

“Sudah kuduga …”

“Eh?”

“Tidak, tidak apa-apa.”

Kuroha berbalik, meletakan punggungnya ke arahku.

“Haru … aku bisa tinggal di sisimu, bukan…?”

Dadaku terasa seperti akan terbuka.

Ditanya sesuatu yang begitu mengharukan, tidak mungkin aku tidak akan mengatakan.

“Tentu saja kau bisa! Apa yang kau katakan?!”

“… Maukah kau mengawasiku, Haru? Aku ingin menjadi versi diriku yang kau percayai lagi.”

“Itu …! Bukan itu!” Aku membantah dengan keras.

“Aku bilang bahwa kau tidak perlu mengatakan itu! Aku ditolak mungkin karena aku melakukan sesuatu yang bodoh lagi, dan kau tidak bersalah sedikit pun! Dengar, aku minta maaf karena kita tidak bisa memperbaiki keadaan karena aku tidak tahu persis apa penyebab atau alasanmu, tapi aku sama sekali tidak berniat menyalahkanmu!”

Karena kepengecutanku, aku telah menyakiti Kuroha.

Pada titik ini aku benar-benar pecundang, idiot dan tolol. Meskipun aku tidak pernah memiliki niat untuk menyakiti orang baik yang selalu berdiri di sisiku … Aku telah menyakitinya lagi.

Saat aku menggertakkan gigiku, Kuroha berbalik untuk menghadapku, menghasilkan senyum seperti Bunda Maria.

“Kalau begitu – ayo berbaikan, Haru.”

“Berbaikan…?”

“Aku pikir kita salah memasang kancingnya … Jika kita mengembalikannya dengan benar dari awal, maka semuanya akan terpecahkan. Benarkan…?”

“… Tidak, kau tidak salah.”

Jika aku setuju untuk mulai lagi ketika Kuroha mengaku padaku sebelum liburan musim panas, maka kami bisa bersama tanpa hambatan apa pun. Aku menyukai Shirokusa adalah alasan terbesar bagiku untuk menolak Kuroha, tetapi jika aku menyadari pesonanya atau ketidakterbatasannya lebih cepat, tidak akan ada serangkaian kejadian yang begitu rumit.

Jadi saat ini dapat dikatakan bahwa situasinya telah kembali ke hampir sama seperti ketika Kuroha pertama kali mengaku padaku, meskipun karena keadaan abnormal dari amnesia Kuroha.

Yang tersisa hanyalah ”kenangan patah hati” yang terukir dalam diriku. Jika aku mengatasi itu, aku bisa bersama dengan Kuroha.

Tapi masalahnya adalah seberapa besar aku bisa mempercayainya.

Tentu saja aku masih mempercayainya sekarang. Aku bermaksud mempercayainya lebih dari orang lain.

Tapi ketika sampai pada percintaan – aku agak takut.

Namun, sejak saat ini, jika kami berdamai dengan benar, dan secara bertahap aku mengulangi sendiri untuk mendengar bahwa ”Semuanya baik-baik saja. Lagipula aku bisa memercayai Kuro. Dia mungkin akan menerimanya jika aku mengaku padanya”, lukaku pasti akan sembuh.

“Seharusnya aku yang meminta, Kuro! Tolong, tetaplah di sisiku! Aku pasti akan mengatasi ini, jadi …!”

“… Mm. Tentu saja. Terima kasih.”

Senyum itu, aku ingin melindunginya.

Pikiran bahwa aku masih menyukai Kuroha datang kepadaku dengan mudah.

“Oh, sudah seterlambat ini ya. Ayo pergi.”

“Ya.”

Kuroha memberiku sepatuku tanpa penundaan sedikit pun. Saat aku mengucapkan terima kasih padanya sambil dengan cepat mengenakannya–

“Sial, mereka keluar …!”

Aku bisa mendengar suara seperti itu datang dari balik pintu.

Dalam sekejap, ekspresi Kuroha menjelma menjadi iblis. Dia kemudian membuka pintu sekaligus.

“… Midori!”

“Ugh–”

Dalam proses mencoba melarikan diri, Midori jatuh. Dengan tergesa-gesa, Aoi dan Akane kemudian berusaha menariknya.

“Aoi! Dan kau juga, Akane ?!”

Mereka mencoba melarikan diri dalam kepanikan, tetapi membantu Midori bangun telah mengambil terlalu banyak waktu dan mereka terlambat. Sebelum mereka bisa mencapai gerbang, mereka semua ditangkap di tengkuk mereka masing-masing.

“… Kalian bertiga … lebih baik menjelaskannya …”

Tiga saudari mematuhi Kuroha, yang sejak itu berubah menjadi mode kakak yang menakutkan. Mereka tahu betul apa yang akan terjadi jika mereka menolak.

Hanya saja, yah, terlihat obyektif, yang menggelikan adalah bahwa Kuroha adalah yang terpendek. Aku menemukan komposisi mereka bertiga dibuat meringkuk dengan sedih karena kemarahan Kuroha yang lebih pendek anehnya menggemaskan tanpa akhir.

Walaupun itu adalah cerita yang berbeda, sampai tiga tahun yang lalu … Tiga tahun yang lalu Midori dengan mudah menyusulnya, sementara ketinggian Kuroha sejak saat itu tetap tidak berubah, dan perbedaan di antara mereka hanya bertambah besar. Kemudian pada akhirnya tahun sebelumnya Aoi dan Akane juga telah melampaui dia … dan dengan demikian seorang kakak tertua loli lahir.

“Kalian bertiga … apa yang harus kalian katakan pada Kakak …?”

“Erm … Maaf, Kakak Kuro.”

Aoi adalah yang pertama meminta maaf. Seperti yang diharapkan dari gadis paling sederhana.

“Maaf, Kak Kuro, tapi aku penasaran ingin tahu bagaimana hasilnya.”

Akane juga pada dasarnya patuh. Sementara dia menjelaskan alasan di balik tindakannya, meminta maaf terlebih dahulu membuatnya lebih baik.

“Tidak masalah, kan?! Ini juga menyebalkan bagi kami, oke?!” lanjut Midori. Dia benar-benar bukan orang yang tunduk …

“Midori! Kau sungguh …! Tidak bisakah kau terlihat sedikit lebih menyesal?!”

Midori berbalik, memegang kepalanya.

“… Tapi, yah, salah kami. Maaf, Kak Kuro.”

Setelah mendengar sebanyak itu, Kuroha tersenyum dengan penuh kasih sayang, seolah-olah dia tiba-tiba mengenakan lingkaran cahaya.

“–Baiklah, kalau begitu itu saja, karena kalian semua meminta maaf dengan benar. Kalian semua sebaiknya tidak melakukan hal yang sama lagi, oke?”

“Oke.”

Kekuatan seorang kakak benar-benar tidak bisa diremehkan. Kepemimpinan dan keahliannya cukup untuk sepenuhnya mengendalikan tiga adiknya yang unik. Ini mungkin seharusnya dikatakan sebagai area di mana Kuroha – putri tertua yang mengelola ”Saudari Berwarna-warni” yang terkenal dan penuh dengan gadis cantik- menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

 

“Yah, jika kalian semua mengerti maka cepatlah pergi ke sekolah. Terutama kau, Midori, bagaimana dengan latihan pagi? Apa kau benar-benar melewatkannya sekarang?”

“Y-Yah, aku sedikit memikirkannya, dan …”

“Apa maksudmu, ‘sedikit’?”

“Itu–”

Sementara Kuroha dan Midori melakukan percakapan mereka, sebuah mobil berhenti di jalan. Itu berkilau dengan kilau hitam, dan sekilas orang dapat mengatakan bahwa itu adalah mobil mewah.

“Terima kasih, Uonuma-san. Mohon tunggu sebentar di sini.”

Berterima kasih kepada pengemudi sambil melompat keluar dari kursi belakang – Shirokusa datang.

Kemudian berhadapan dengan empat saudari … dia membeku.

 

 

“Ah-”

 

 

Astaga! Woah, apa yang terjadi ?! Tidak ada yang berbicara, tetapi aku merasa bahwa dalam sekejap itu informasi telah dipertukarkan pada tingkat yang luar biasa?!

Kuroha memelototi Shirokusa, dengan mode intimidasi diaktifkan.

Midori, menatap Kuroha, benar-benar ketakutan.

Aoi mencari waktu yang tepat untuk turun tangan dan menengahi, tetapi dia hanya bisa gemetar tanpa daya, tidak berdaya untuk melakukan apa pun.

Ekspresi dan emosi Akane tidak dapat dibaca, seperti biasanya.

Dan yang paling penting, Shirokusa – jelas terguncang.

Yah, itu wajar. Untuk berjumpa dengan empat saudari itu, yang berbaris dengan kekuatan penuh bukan hanya tidak biasa, tetapi juga menekan. Untuk dapat melihat sekutu yang menunggu di samping intimidasi Kuroha adalah adegan yang secara numerik tidak menguntungkan siapa pun yang akan membuat seseorang mundur, apalagi Shirokusa yang pemalu.

“H-Hei, Shiro. Ada apa?”

Aku melempar tali penyelamat kepada Shirokusa yang membeku dan terdiam.

Mungkin tidak bijaksana untuk membiarkan pertengkaran di depan pintu masuk rumahku menjadi hal pertama di pagi hari.

Pertama-tama, aku merasa mungkin harus melakukan sesuatu tentang hubungan asam antara Kuroha dan Shirokusa. Bagiku mereka adalah gadis-gadis yang aku pikirkan secara berbeda, tetapi aku juga merasa sangat dekat dengan mereka berdua. Aku mengandalkan dan merasakan niat baik masing-masing dari mereka, itulah sebabnya aku tidak ingin mereka bertengkar.

Oh, tapi semuanya benar-benar di luar kendaliku begitu mereka berdua terbakar. Apa yang bisa dilakukan tikus jika ia masuk ke dalam pertarungan antara serigala dan harimau? Tidak ada hal lain selain mati, benarkan? Q.E.D – bukti lengkap.

“Oh, Suu-chan …”

Wajah Shirokusa bersinar cerah. Dia tampaknya menyadari bahwa dia baru saja diberikan tali penyelamat.

Wajah Shirokusa benar-benar cantik di saat-saat seperti ini. Itu mungkin kontras, atau karena dia biasa sebagai kecantikan dingin, sangat berharga melihatnya tersenyum begitu. Aku ingin membuatnya tersenyum selamanya, aku berpikir.

… Apakah ini berarti aku masih tertarik oleh cinta pertamaku? Tidak, tidak, ini hanyalah keinginan bersama pria di seluruh dunia untuk melihat keindahan tersenyum seperti ini. Aku masih menyukai Kuroha walau mungkin dia telah menolakku, jadi bagiku Shirokusa tidak mungkin menjadi orang yang istimewa—

“Aduh!”

Aku merasakan sakit yang tajam menjalar dari perutku. Midori memberiku pukulan siku ke rusukku.

“Oi, Midori! Untuk apa itu?”

“Bukan apa-apa!”

“Kuro, sebagai yang tertua bisakah kau mengatakan sesuatu kepada adikmu yang kejam ini?”

“Hmpf!”

Hah? Kenapa dia begitu dingin? Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?

“Aoi-chan, kau …”

“Aku-aku akan … m-menolak …”

“Akane ?!”

“Kau menjijikan.”

“Kenapaaaaaaa?!”

Serius, itu benar-benar menakutkan seberapa cepat popularitasku turun tanpa aku sadari!

Saat aku terjatuh ke tanah dalam keputusasaan, Shirokusa mengulurkan tangannya ke arahku.

“Ayo pergi, Suu-chan. Silakan masuk mobil.”

“Heh?”

“Memang mungkin tidak akan terjadi apa-apa … Tapi media mungkin sedang menunggu di depan gerbang sekolah lagi hari ini, bukan? Itu sebabnya aku mendapat izin dari sekolah untuk pergi ke sana khusus dengan mobil.”

“Ohh, begitu ya. Aku sangat berterima kasih …”

Maria berkata dia telah mengendalikan mereka, tetapi aku tidak tahu persis seberapa efektif itu. Bahkan jika, misalnya, ia dapat berhasil menangani media mainstream, itu tidak menghalangi kemungkinan staf dari sekelompok majalah gosip muncul.

“Baik, kalau begitu Kuro dan aku akan–”

“… Shida-san akan baik-baik saja, bukan?”

“Eeh …”

Ahh, tapi kenapa dia harus mengecualikan Kuroha, yang berada dalam kondisi yang sama seperti kita?! Itu benar-benar jahat, bukan?!

Dalam campuran kesedihan dan kemarahan yang tidak teratur, aku tanpa sadar meraih kedua bahu Shirokusa.

“Shiro!”

“Eh?!”

Shirokusa menjadi sangat merah dan mengalihkan pandangannya, tapi aku tidak berhenti sekarang karena darah sudah mengalir ke kepalaku.

“Hubunganmu dengan Kuro benar-benar mengganggu! Memang, tidak menyukai seseorang itu wajar, jadi aku tidak memintamu untuk bergaul dengannya, oke? Tapi, kau tahu, rasanya tidak enak bagi mereka yang menonton melihat seseorang ditinggalkan, bukan ?! Aku tidak berpikir melakukan hal-hal semacam ini baik, Shiro!”

“Ah, o-oke, kalau kau bilang begitu, Suu-chan …”

Shirokusa mengangguk dengan wajah merah cerah.

Aku bersumpah, Shirokusa menjadi jauh lebih jinak setelah mengakui bahwa dia adalah Shirou. Mampu melihatku sebagai seseorang yang tidak harus membuat ia berpura-pura tangguh mungkin adalah kuncinya.

“Shida-san … kursi penumpang kosong, kalau kau tidak keberatan dengan itu … Haruskah kita pergi bersama?”

“… Hmm, kurasa aku akan menerima tawaranmu.” Ucap Kuroha dengan acuh tak acuh.”Kalian semua sebaiknya pergi juga, segera, atau kalian semua akan terlambat.”

“O-Oke.” Para saudari ketakutan.

Tentu saja mereka ketakutan. Aku mengerti. Karena Kuroha saat ini terlalu menakutkan!

… Tunggu, aku mengundangnya karena aku pikir tidak baik meninggalkannya, tetapi mungkinkah itu keputusan yang salah …?

“-Sial, itu sungguh salah, bukan?!”

Pada saat aku menyadari itu, Kuroha sudah masuk ke kursi penumpang, Shirokusa dan aku di belakang, dan mobil sudah berangkat.

Miasma tergantung di udara di dalam mobil. Itu mencekik. Kau bilang padaku ini bukan sarang raja iblis atau semacanya? Ada sensasi bahwa aku benar-benar kacau.

Keheningan menyelimuti mobil … terasa canggung. Pengemudi itu dengan bijaksana membiarkan radio diputar pada volume rendah, tetapi tidak memiliki khasiat dalam menghilangkan atmosfer yang berat.

Shirokusa mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“Erm, Suu-chan … Aku tidak dalam posisi untuk berbicara dengan Shida-san kemarin, tapi … apa dia baik-baik saja?”

Itu adalah topik yang kami berdua tidak ingin Kuroha dengar. Jadi aku juga menurunkan suaraku ketika aku berbisik ke telinga Shirokusa.

“Sebenarnya, Kuro sekarang menderita sedikit amnesia …”

“Eh?!”

Shirokusa tanpa sadar mengangkat suaranya.

Mata Kuroha melirik tajam dari kursi penumpang, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

Shirokusa bertanya sambil mengeritingkan tubuhnya.

“Apa maksudnya…?”

Sial, untuk sementara waktu sekarang gemetaranku tidak berhenti.

Ketika napasnya menghampiri telingaku, sensasi kesemutan dan menyenangkan akan menjalari seluruh tubuhku.

Itu sensasi hampir, tetapi tidak cukup menyentuhnya. Kami tidak bersentuhan, tetapi kehangatannya menyentuh kulitku, membuatku bisa merasakan kehadirannya secara jelas.

Mungkin karena kami berada di dalam mobil, aroma Shirokusa sangat harum. Sementara aroma Kuroha adalah jenis bunga, Shirokusa adalah aroma jeruk. Itu dingin dan menyegarkan, tetapi dalam situasi khusus ini juga menimbulkan perasaan amoralitas yang aneh padaku.

Aku menggelengkan kepalaku, mengembalikan pikiranku ke keadaan normal, lalu mendekatkan mulutku ke telinga Shirokusa.

“Aku benar-benar tidak tahu terlalu banyak, tapi dia benar-benar kehilangan semua ingatan tentang dia menolak atau ditolak olehku … itu sebabnya aku berencana untuk sedikit memperhatikan bagaimana keadaannya. Ini seperti penyakit, Shiro, jadi aku harap kau akan memperlakukannya dengan baik juga …”

“Yah, kalau kau bilang begitu, Suu-chan, maka apa boleh buat …”

“Ahem.”

Suara batuk datang dari depan. Kuroha memperhatikan kami melalui cermin.

“… Haru, sepertinya kau dan Kachi-san sudah cukup dekat … Bisa memberitahuku apa yang terjadi?”

Bukan hanya kemarahan … tapi juga kebingungan yang kurasakan darinya.

…Begitu ya.

Tidak ada yang berubah sejak sebelumnya jika dia ada di rumah, dan ingatan yang hilang darinya hanya sekitar satu setengah bulan. Dia mungkin tidak bisa merasakan bahwa ada banyak yang tidak pada tempatnya. Namun begitu dia pergi keluar, perasaan tidak nyaman pasti akan semakin kuat.

Hubunganku dengan Shirokusa semakin erat, adalah hal yang hanya terjadi dalam sepuluh hari terakhir. Midori dan lainnya tidak memiliki interaksi dengan Shirokusa, dan karenanya mungkin belum menyampaikan apa yang terjadi pada waktu itu.

Kuroha mungkin menganggap Shirokusa dan aku sebagai ”hanya teman sekelas yang nyaris tidak berbicara satu sama lain”. Jika dia melihat kami bercakap-cakap dengan sangat akrab, tentu saja dia akan merasa aneh.

Ya ampun, aku benar-benar …”

Hatiku telah terbawa arus meskipun Kuroha berada di dekatku, karena Shirokusa adalah gadis yang pertama kali aku cintai dan dia juga masih tetap menarik seperti sebelumnya.

Sampai tidak memperhatikan … meskipun Kuroha telah kehilangan ingatannya, aku benar-benar …

Aku merasakan perasaan membenci diri sendiri yang serius. Aku menyedihkan.

“Ahh, tentang itu, Kuro–”

“Shida-san, apa kau … penasaran tentang hubungan kami?”

Mendengarkan itu, hawa dingin yang bertiup cukup membuatku bergidik.

Ooooh astaga, mengapa Shirokusa selalu bersikeras untuk begitu cepat menjatuhkan Kuroha?!

“Hmm … Sedikit.”

“Sungguh, hanya sedikit? Apa kau yakin tidak benar-benar ingin tahu?”

“Jadi kau adalah orang seperti ini, Kachi-san. Sekarang aku tahu mengapa kau tidak memiliki banyak teman.”

“T-Tunggu sebentar!”

Pada titik ini, mendengarkan mereka terasa seperti menghindari ladang ranjau di tengah baku tembak. Peluru bergantian terbang dari segala arah, tetapi aku terlalu takut untuk bergerak karena takut meledak.

Tapi tetap saja aku juga tidak bisa mendengarkan dan diam.

“Aku mengatakannya tadi, kalian berdua berusaha terlalu keras untuk saling membunuh dengan kata-kata kalian! Aku tahu itu mungkin tidak mungkin bagi kalian berdua untuk segera berhubungan baik, tetapi sementara itu bisakah kita berbicara tentang beberapa topik lain?”

“…Seperti?”

Bagus, Kuroha tertarik.

“Itu benar, mari kita bicara tentang kegiatan klub. Bagaimana dengan klub bulutangkis, Kuro?”

“Aku tidak ingat apapun yang terjadi baru-baru ini, jadi aku tidak benar-benar tahu. Aku merasa perasaanku untuk itu belum benar-benar berubah, jadi aku pikir aku bisa melanjutkan dari yang aku tinggalkan.”

“Betul! Bagaimanapun juga, kau menderita amnesia!”

Mengapa aku selalu menggali kuburanku sendiri?

Apa benar tidak ada topik bagus yang bisa membuat kami bertiga bersemangat?

Atau begitulah yang kupikirkan sebelum Shirokusa menarik lengan bajuku dan berbisik ke telingaku.

“Suu-chan, apa kau tidak berpikir itu sedikit aneh …?”

“Apa?”

Pikiran pertamaku adalah bahwa tidak baik untuk memprovokasi Kuroha lebih jauh, tetapi suara Shirokusa bergema dengan sungguh-sungguh. Karena itu aku menanggapinya dengan nada rendah.

“Kurasa Shida-san tidak kehilangan ingatannya.”

… Hmm. Kalau dipikir-pikir, Midori memang memiliki pendapat yang sama kemarin.

“Kau punya dasar untuk mengatakannya?”

“… Intuisi gadisku.”

Dalam arti tertentu yang memiliki kredibilitas lebih tinggi daripada yang lain, tetapi dalam arti lain itu berarti dia tidak punya dasar sama sekali.

Aku percaya bahwa Kuroha menderita amnesia. Tetapi komponen yang sangat besar dari kepercayaan itu bergantung karena Kuroham engatakannya. Mempertimbangkan bahwa Midori dan Shirokusa, yang menolak kepercayaan ini, juga mempercayai Kuroha secara kurang komparatif, mungkin aman untuk melihat ”apakah seseorang percaya apakah Kuroha memiliki amnesia atau tidak” sebagai representasi dari ”seberapa banyak orang memercayainya”. Dalam nada itu ketika aku juga mencoba menyelidiki Aoi untuk pendapatnya,”Aku pikir itu amnesia,” adalah jawaban yang aku terima.

Oh itu benar. Ada cara yang bisa diandalkan untuk memastikan ketidaknormalan Kuroha saat ini.

“Shiro … serahkan padaku. Aku baru memikirkan sesuatu yang bagus. Jika aku menggunakan metode ini untuk menyelidiki, maka aku akan tahu pasti apakah sesuatu yang aneh terjadi pada Kuro.”

“Eh, ada metode yang akan memungkinkanmu melakukan itu …?”

“Ya. Aku akan melakukannya saat makan siang. Bisakah aku merepotanmu untuk menyiapkan tempat di mana Kuro dan aku bisa makan sendirian bersama?”

“Mm … oke, tentu.”

Kuroha mengalihkan pandangannya tanpa penundaan sedikit pun ketika aku memeriksa untuk melihat bagaimana keadaannya melalui cermin.

Apakah dia melakukan itu karena malu? Untuk memastikan kebohongannya tidak terungkap?

Aku ingin mempercayai Kuroha.

Tentu saja, ketika aku melakukan sesuatu seperti tes padanya, bisa dikatakan bahwa aku tidak lagi percaya padanya.

Tetapi tidak mungkin bagi seseorang untuk mengintip ke dalam hati orang lain. Jadi aku tidak malu dengan apa yang akan aku lakukan. Sesuatu yang kau kumpulkan dan hasilkan melalui reaksi dan tes kecil – itulah yang aku percayai.

 

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded