Osananajimi ga Zettai ni Makenai Love Comedy – Volume 2 – Chapter 2 – Bagian 1 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Volume 2 – Chapter 2 – Bagian 1 –

 

 

Bagian 1

“Sepertinya kau tidak percaya padaku, jadi aku akan mengatakannya sekali lagi. Kupikir Kak Kuro kehilangan ingatannya.”

Ciri khas putri bungsu dari keluarga Shida, Akane, adalah kecerdasannya. Dia unggul terutama dalam matematika, yang telah mendapat sertifikasi Suken 1st- kyu saat masih kelas enam SD. Itu cukup untuk membuatnya muncul di koran lokal.

Dia saat ini adalah siswa kelas satu SMP. Dia dan Aoi kembar, dia yang lebih muda.

Fisiknya kira-kira sama dengan Aoi, tetapi dibandingkan dengan mata Aoi yang relatif murung, matanya miring sedikit ke atas.

Mata orang-orang mungkin pertama kali tertuju pada kacamatanya, dan rambut bergelombang lembut yang mencapai pinggulnya.

Dia memiliki apa yang bisa digambarkan sebagai tampilan cerdas. Meskipun kembar, kedinginan dan kecerdasan yang bisa dirasakan seseorang di wajahnya adalah kebalikan dari kehangatan dan pengekangan yang dipancarkan oleh Aoi. Dalam praktiknya intonasi dalam suaranya juga terbatas, dan ia memproyeksikan suasana seorang pragmatis.

Kelemahan Akane mungkin karena sikapnya yang menyendiri. Ketiga kakaknya adalah tipe orang yang suka bergaul, tetapi Akane memberikan citra kesendirian.

Di SD dia selalu bersama dengan seseorang, tetapi orang itu selalu Aoi. Dia tidak pernah terlihat dengan orang lain. Mungkin karena kecerdasannya sangat luar biasa, sulit baginya untuk berbicara dengan orang-orang di sekitarnya.

Kenyataannya di antara keempat saudari itu aku paling mengandalkan Akane.

Ketenangan dan rasionalitasnya menjadikannya orang yang tepat untuk berkonsultasi, dan ketika aku berkonsultasi, dia selalu memberiku nasihat yang bisa aku pahami. Tentu saja Kuroha juga memiliki wawasan dan kemampuan yang cocok untuk menjadi penasihat, tetapi kedekatan dan keadaan kami membuat banyak hal sulit untuk dibahas. Dalam hal itu, jarak antara Akane dan aku terasa pas.

Aku mengandalkan dia meskipun dia empat tahun lebih muda dariku, sementara aku merasa Akane mengidolakanku – meskipun Akane tetaplah Akane – sikap acuh tak acuh membuatnya sulit untuk dibaca.

Pujian Aoi membuatku ingin menyayanginya, tetapi suasana kesepian Akane membuatku ingin menemaninya. Jadi jika Akane mengirimkan SOS, aku berencana untuk mengulurkan tangan ke arahnya terlebih dahulu. Mereka berdua memiliki kepribadian yang berbeda, tetapi bagiku mereka berdua adalah teman masa kecil yang aku sayangi.

Dari empat Shida bersaudari–

– Putri tertua, Kuroha. Siswa kelas dua SMA yang suka membantu dan mudah bergaul. Kakak loli yang bertubuh pendek.

– Putri kedua, Midori. Siswa kelas tiga SMP. Tomboy dan kasar. Mudah diajak bicara dan memiliki kemampuan atletik yang luar biasa. Memiliki sosok yang hebat.

– Putri ketiga, Aoi. Siswa kelas satu SMP. Tipe yang baik, polos, dan menghibur yang dengan sopan menempatkan orang lain di atas dirinya. Yang lebih tua dari si kembar.

– Putri bungsu, Akane. Juga siswa kelas satu SMP. Tipe yang tenang, rasional, intelektual. Gadis yang mengenakan kacamata yang relatif menyendiri. Yang lebih muda dari si kembar.

Yang tertua kedua dan termuda saat ini menerobos masuk ke rumahku.

Menanggapi kata-kata mengejutkan dari orang yang paling aku andalkan dari lubuk hatiku – Akane – aku hanya bisa bertanya kembali tanpa berpikir.

“Akane, aku … kau tahu. Apa kau serius mengatakan itu … Kuro kehilangan ingatannya?”

“Kau pikir aku bohong, Kak Haru?”

Akane mendorong kacamatanya ke atas dengan jari telunjuknya.

Seperti yang orang tahu dari ekspresinya yang dingin dan nada yang tidak memihak, Akane bukan tipe yang suka bercanda.

“Itu benar. Kalau kau berkata begitu, Akane, maka itu mungkin benar, tapi …”

Bahkan ketika aku mempercayai Akane, dengan hal-hal seperti itu, aku tidak bisa dengan ceroboh menerima kata-katanya tanpa mempertanyakannya.

“Walaupun kurasa itu bukan amnesia. Itu pasti hanya dia mencoba membuat jalan keluar dari situasi yang tidak nyaman. Yah, tapi aku tidak bisa menyangkal kalau dia bertingkah aneh.”

Tampaknya Midori ada di faksi yang menyangkal amnesia.

“Apa maksudmu, ‘tidak nyaman’?”

Midori menarik rambutnya yang pendek ketika aku mencoba bertanya.

“Maksudku, bagaimana aku bisa percaya? Dia kehilangan ingatan sampai sekitar liburan musim panas lalu, lho?”

“………… Heh? Maksudmu-”

“Segala sesuatu dari awal liburan musim panas, hingga sekitar saat video itu … di sekitar festival budaya sebelumnya benar-benar hilang!”

“……Hah? Eh, tu … hah?”

Tunggu, tunggu, tunggu, bagaimana ini mungkin ?! Apa yang terjadi ?! Apakah ini berarti bahwa seluruh skandal balas dendam sebelumnya telah sepenuhnya dibatalkan?

“Tunggu sebentar, kalau kau mengatakan ‘sekitar awal liburan musim panas’, itu berarti–”

“Ini saat Kak Kuro mengaku dan ditolak olehmu, Sueharu. Tapi entah dia ingat itu atau tidak, aku terlalu takut untuk bertanya.”

“Hah?!”

Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, ayolah, itu hal yang paling penting, bukan ?! Astaga, kepalaku sakit …

“-Tunggu, tunggu sebentar.”

Itu juga masalah, tapi apa yang Midori katakan itu aneh.

“Oi, Midori. Kenapa kau tahu Kuro mengaku dan ditolak olehku?”

Seharusnya tidak ada yang tahu tentang hal ini selain ketika Kuroha sendiri telah mengungkapkannya di dalam kelas kami. Aku belum pernah mendengar tentang Midori yang terhubung dengan seseorang dari sekolah kami, dan dalam video itu seharusnya tidak ada penyebutan tentang Kuroha yang mengaku kepadaku. Itu meninggalkan kemungkinan Kuroha memberi tahu adiknya, tetapi sebagai anak tertua yang bisa diandalkan, aku tidak berpikir dia akan menunjukkan kegagalannya kepada mereka.

Midori berseru ”sial” dan menampar dahinya, lalu memalingkan wajahnya. Akane tetap tanpa ekspresi dan melakukan hal yang sama.

“Apakah ini bocor di antara kalian saudari?”

Midori dan Akane berbalik untuk saling berhadapan, tetapi itu adalah putri kedua Midori yang bertindak dengan senioritas dan membuka mulutnya.

“Yah, Kak Kuro tidak mengatakan apa-apa. Tapi, kau tahu, kau bisa melihat perilaku dan suasana hatinya.”

“Midori, tidak disangka kau mengatakan sesuatu yang sangat sensitif …”

“Apa?! Yah aku juga perempuan, jadi aku mengerti juga!”

“Kau perempuan? Maka mungkin kau harus bertindak sedikit lebih seperti perempuan …”

“Ahh, itu diskriminasi seksual, dasar kau brengsek!”

Hmmm, aku dituduh sebagai brengsek, bukan? Dan tentang diskriminasi seksual pada saat itu … Pada saat-saat seperti ini, mudah untuk mengembalikan bantahan dari berbagai sudut, karena sifat masalah yang sangat sensitif.

Aku dengan cepat menatap seluruh tubuh Midori.

Dia dalam bentuk yang biasanya tanpa perlindungan, mengenakan T-shirt dan hot pants. Itu adalah pakaian yang menonjolkan, tidak bisa menyembunyikan, karena besarnya dada dan pantatnya.

Tidak menyadari daya pikat itu … daya rusak dari dagingnya, dan benar-benar tidak menyadari pandangan laki-laki … dia memang sensitif.

“…Apa?”

“Itu benar…”

Sebagai yang lebih tua aku harus menunjukkan kemurahan hatiku, jadi aku jujur ​​mengakui kesalahanku.

“Aku salah mengatakan kau harus bersikap seperti seorang perempuan. Kau sudah cukup feminin.”

“Hmpf, bagus kau tahu … tunggu– hah ?!”

Wajah Midori memerah sepenuhnya.

Ah, sekarang dia seharusnya menyadari arti di balik kata-kata dan tatapanku.

“Eh?!”

“Kau sangat lambat, Midori. Apa yang kau harapkan dengan menyembunyikan tubuhmu sekarang?”

Dalam rasa malu yang ekstrim, Midori diwarnai merah sampai ke lehernya, dan dia mengepalkan tangannya.

“Sueharuuuu! Kau bajingaaan! Kau bajingaan mesuuummm!”

“Hah, jadi bagaimana kalau itu benar? Aku sudah lama selesai menyimpan bentukmu yang montok itu di dalam otakku!”

“Lalu aku akan meninju kepalamu dan menghapus ingatanmu!”

Ahh, seperti yang diharapkan dari Midori, metode penyelesaian masalahnya juga berorientasi pada olahraga.

“Lakukan kalau kau bisa! Aku akan mengajarimu untuk takut pada orang yang lebih tua darimu!”

“Kau pemalas, kau pikir bisa mengalahkanku ?!”

Tangan kami bergerak dan terkunci bersama-sama, dan dalam keadaan ini tangan kami bergeser menjadi mendorong satu sama lain.

“Uuuuuugh!”

“Grrrr!”

Oh sial, Midori sangat kuat. Sepertinya aku akan kalah dari seorang gadis yang lebih muda dariku.

“Akane, b-bantu aku!”

“Ah, itu curang, Sueharu! Akane, kau beri tahu si idiot ini dia itu menyebalkan!”

Akane menatap kami berdesak-desakan sambil merenung, lalu bergumam.

“Dalam percakapan saat ini, aku tidak bisa memastikan bahwa Kak Haru memang idiot, tetapi memang benar bahwa pernyataan yang dia buat dan cara dia memandang Kak Dori menjijikkan.”

“Nggggh …!”

Keseimbangan kekuatan runtuh dan aku langsung dipaksa mundur oleh Midori.

Apa-apaan ini?! Itu sangat menyakitkan!

Aku sudah terbiasa dengan kritik pedas dari Midori dan itu tidak menggangguku. Tetapi ditolak oleh keberadaan seperti adik perempuan yang aku sayangi benar-benar menyedihkan.

“Kau benar-benar tanpa ampun, kan, Akane ?! Yah aku minta maaf karena menjijikkan!”

“Sekarang waktunya!”

“Woah!”

Midori mengambil kesempatan untuk mengalahkanku saat kekuatanku berkurang.

Aku jatuh ke lantai pintu masuk, mendarat keras di pantatku.

“Hahaha, rasakan itu, Sueharu! Ini adalah apa yang kau dapatkan untuk kelakuan busuk seperti biasanya!”

“Kampret, Midori sialan itu …”

Dia langsung sombong. Dia lebih baik tidak meremehkan orang yang lebih tua. Aku tidak akan gagal mengajarinya betapa menakutkannya diriku ketika kesempatan berikutnya muncul.

Saat aku jengkel, Akane melepas sepatunya sebelum mengulurkan tangannya ke arahku.

“Tentu saja kata-kata dan tatapanmu mengerikan, Kak Haru, tapi itu tidak berarti aku mengira begitu. Aku tidak berpikir kita harus menilai karakter seseorang berdasarkan pada tindakan mereka sendiri.”

“Akane …”

Apa kau mendengar kata-kata manis dan suara itu?

Akane hanya mengatakan apa yang dia pikirkan tanpa menahan diri, dan pada intinya dia adalah gadis yang baik.

“Kau gadis yang baik, Akane! Ayo, aku akan membelai kepalamu!”

“… Kak Haru, salah langkah lain dan itu akan menjadi pelecehan seksual.”

“Oof!”

Pertahanan Akane sangat ketat. Itu adalah tujuan masa depanku agar Akane akhirnya mengizinkan aku untuk memeluknya seperti yang kulaukan pada Aoi.

“Hmpf! Rasain, Sueharu! Inilah yang terjadi kalau kau selalu disukai oleh Akane atau Aoi!”

“Diamlah, Midori!”

Aku berdiri dengan bantuan dari lengan Akane, dan ketika aku bersiap untuk bertengkar dengan Midori, seperti yang selalu kulakukan–

 

 

 

“Sepertinya kau bersenang-senang … Kakak Sueharu.”

 

 

 

Sosok Maria, yang telah menguping keributan, muncul di ruang tamu.

“?!”

Mata kedua saudari itu melebar karena kedatangan tiba-tiba gadis cantik itu.

“Tu- Momo ?! Kau-?!”

“Ada apa, Kakak Sueharu? Bukankah ini gadis-gadis yang seperti adik perempuanmu? Aku baru ingat kau mengatakan itu sebelumnya. –Kau tidak mau memperkenalkan kami?”

Sial, dia benar-benar memilih waktu sendiri untuk muncul. Yah, kurasa dia bukan orang yang jinak, ya.

Midori mungkin tidak menyangka tepat sasaran ketika dia bercanda berkata,”Sebaiknya kau tidak membawa seorang wanita atau sesuatu kembali, oke ?!” sebelumnya. Dia berbicara sambil menunjuk jari telunjuknya di antara Maria dan aku.

“S-S-Sueharu! K-Kau membawa pulang wanita lain segera setelah ditolak oleh Kak Kuro?!”

“Tunggu, Midori! Aku akan membunuhmu, dasar bajingan! Ada cara yang tepat untuk mengungkapkan berbagai hal, oke!”

Ayolah, bagaimana aku akan melanjutkan hidup jika tetangga mendengar itu, hah?!

“… Sungguh busuk. … Aku telah salah perhitungan.”

Et tu, Akane?!”

Ouch! Akane adalah adik imut yang ingin aku dapatkan … tapi disayangkan! Lihat dia, melihatku seolah aku sampah … itu membuatku ingin mati!

“…Tunggu, apa?”

Pandangan penghinaan yang dikirim mata Midori tiba-tiba berubah menjadi berkedip.

“Mungkinkah gadis ini… Momosaka Maria dari ‘The Ideal Little Sister’ ?!”

“Heh?”

Ohh, begitu ya. Aku sudah mengenal Maria dari masa lalu dan dengan demikian tidak akan tertarik, tetapi beginilah biasanya orang bereaksi ketika melihatnya.

Aku terkikik dengan hidungku, lalu memperkenalkannya dengan sombong.

“Ya, benar. Dia adalah seorang kenalan saat aku masih seorang aktor cilik di masa lalu, dan dia datang mengunjungiku untuk pertama kalinya setelah melihat video itu.”

“Hehh, serius ?! Kalau dipikir-pikir, Sueharu, kau adalah seorang selebriti di masa lalu, ya. Woahh, tapi ini sungguh luar biasa! Apa-apaan ini!”

Aku adalah siswa kelas lima SD ketika aku pensiun dari dunia hiburan. Midori adalah siswa kelas tiga SD saat itu.

Perbedaan dua tahun di SD sangat besar, terutama ketika anak-anak itu sekitar usia di mana mereka memilih untuk mulai menonton drama atau tidak. Jadi, sementara Midori tahu aku adalah mantan selebriti, kesannya tentang aku sebagai Kakak dari rumah sebelah mungkin lebih kuat, karena dia tidak begitu tertarik dengan drama saat itu.

“Kau adalah tipe penonton drama, Midori?”

“Aku tidak terlalu menonton karena aku sibuk dengan latihan klub, tetapi aku merekam dan memeriksa yang sedang tren. Lagipula, aku benci kalau ditinggalkan dalam percakapan.”

Jadi ada beberapa area di mana dia memberikan sedikit perhatian pada lingkungannya, meskipun begitu kasar. Mungkin karena dia sadar diri tentang sifat tomboynya, dapat diamati bahwa dia memiliki kecenderungan yang tidak proporsional untuk menyesuaikan diri dengan teman-teman perempuannya. Midori sudah memiliki banyak kelebihan, jadi aku tidak merasa dia harus melakukannya.

“Erm … apa tidak masalah bagiku untuk bertanya siapa namamu?” Maria bertanya tentang Midori.

Keanggunan pendekatannya, dan kesempurnaan senyum yang dihasilkannya. Maria memancarkan aura selebriti yang begitu halus sehingga tidak bisa dibandingkan dengan yang dia miliki enam tahun sebelumnya, dan itu sudah cukup untuk membuatku terkejut walau telah kenal dia di masa lalu.

“Oh, err … ya.”

Terperangkap di dalam aura itu, orang biasa seperti Midori segera bingung. Tubuhnya gelisah, sementara pandangannya berkeliaran. Pipinya memerah dan dia dalam kondisi tidak teratur.

“Err, aku Shida Midori … murid kelas tiga SMP.”

“Mungkinkah kau adalah adik dari gadis (kucing pencuri) dalam video itu?”

… Hm? Apakah ada jeda aneh di ruang antara”gadis” dan”dalam” tadi …?

“Eh, err … ya.”

Sambil bergetar, Midori tampaknya benar-benar tidak sadar. Jika aku bertanya, aku merasa sesuatu yang jahat akan diungkapkan …

“Aku sangat senang kau menonton dramaku. Terima kasih.”

“Oh tentu! Wow, wow!”

Melihat lengan Maria yang terulur, pundak Midori naik saat dia menjabat tangan Maria.

“Aku hanya satu tahun lebih tua, jadi kau tidak harus bersikap sopan denganku, oke?”

“Oh benarkah? Aku tidak hebat dalam hal itu, jujur ​​saja, jadi ini jauh lebih baik … kurasa.”

“Kau gadis yang (gampangan,) baik, dan imut. Sepertinya kau memiliki semacam hubungan kakak-adik dengan Kakak, jadi kalau kau mempertimbangkan hubunganku dengannya, itu berarti kau dan aku juga seperti kakak dan adik juga, kan?”

“Hmm …?”

Midori telah dipimpin dan sekarang sepertinya telah terjebak dalam perangkap.

Ya, ada sesuatu yang aneh dengan logika itu. Mungkin ada lompatan besar di suatu tempat.

“Jadi, kau bisa memanggilku Kakak Momo secara khusus kalau kau mau.”

Astaga, Maria memproyeksikan auranya bahkan lebih kuat. Tidak seperti sebelumnya, mungkin sekarang dapat secara definitif disebut permaisuri. Gadis Maria itu telah menetapkan pangkatnya dengan Midori.

“Berhenti.”

“Ow!”

Ketika aku memberinya pukulan ringan, teror yang datang dari Maria menghilang.

“Ayolah, apa yang kau coba lakukan dengan memaksa Midori setelah bertemu dengannya untuk pertama kalinya?”

“Tapi Kakak Sueharu∼, kau seharusnya menjadi kakakku seorang—”

“Aku sudah makan di rumah Shida sejak lama, jadi bisa dibilang gadis-gadis ini juga keluargaku. Apa yang aneh adalah kau memanggilku Kakak sebagai gantinya.”

“Eh∼, kau jahat sekali, Kakak …” Maria meringkuk ke arahku ketika dia berkata begitu.

“Aku tidak memberitahumu untuk tidak memanggilku seperti itu. Lagipula, tidak ada lagi orang yang mengintimidasi tanpa pandang bulu. Aura selebritimu tidak bisa diremehkan, jadi itu menakuti manusia normal.”

“… Baiklah, kalau maumu begitu, Kakak.”

Fiuh, akhirnya Maria sudah tenang. Menanganinya benar-benar menantang.

“Kalian rukun, ya, Sueharu.”

Midori-lah yang dengan demikian menghasut.

Sepertinya Midori juga telah memahami sifat asli Maria, yang membuat dia menganggapnya bukan sebagai sekutu tetapi musuh.

“Hmm, maksudku, kau menunjukkannya dengan baik. Aku tahu tentang kau menjadi mantan selebriti, tapi mulai saat ini apa kau berencana untuk meninggalkan Kak Kuro dan menjadi selebriti lagi?”

“Inilah sebabnya kubilang padamu untuk memperhatikan kata-katamu! Apa yang akan aku lakukan jika tetangga salah paham?!”

Maria memotong ruang di antara kami.

“Midori-chan … Kakak Momo lebih suka gadis yang sedikit lebih jujur, lho?”

Astaga, sekali lagi Maria mengipasi kobaran api!

Maria melihat ke atas dengan aura yang diaktifkan sepenuhnya, sementara Midori memanfaatkan sepenuhnya tinggi tubuhnya dan menatapnya dengan mengintimidasi dari atas. Keramahan saat pertemuan awal mereka sudah menjadi hal di masa lalu.

“Dengar, aku tahu kau adalah seorang aktris yang populer dan aku akan mengakui bahwa kau benar-benar imut, tetapi bukankah kau terlalu dekat dengan Sueharu?”

“…Apa itu buruk?”

“Ini bukan tentang apakah itu baik atau buruk, itu karena kita sudah saling kenal selama lebih dari sepuluh tahun, dan dengan Kak Kuro, orang ini–”

“Kalau aku tidak salah ingat, orang itu sudah menolak Kakak Haru, kan? Jika demikian, dia tidak bisa disebutkan lagi, bukan? Atau apa kau secara pribadi memiliki masalah kalau aku menempel pada Kakak Haru?”

“Oo– tidak, aku–”

Tolong, hentikan, Midori. Kalau kau mengungkapkannya itu akan menyakitiku lebih dari itu akan menyakitimu.

Terhadap Midori, yang masih mencari kata-kata, Maria dengan cepat menundukkan kepalanya.

“Oh, maafkan aku … aku tidak berencana mencari masalah. Kapan pun itu mengenai Kakak Haru, aku langsung… aku akan meminta maaf, jadi bisakah kita berbaikan …?”

Dia mengulurkan tangannya – yang telah dijabat Midori dengan goyah sebelumnya – tapi kali ini disapu dengan penolakan.

“Sikap merendahkanmu benar-benar membuatku kesal!”

“…Begitu ya. Kalau begitu kurasa kau juga tidak akan menginginkan foto? Saat ini kita tidak hanya dapat mengambil foto bersama, tetapi aku bahkan dapat mempostingnya di media sosial, lho?”

“–Eh?”

Ah, ombak sudah bergeser.

“Ambillah sebagai permintaan maafku. Kau pasti bisa menyombongkan diri kepada teman-temanmu, bukan? Tidak, bukan hanya itu. Aku tidak menjual diri dengan harga murah, jadi hampir tidak ada foto pasangan denganku yang beredar. Ketika aku mengunggah foto di media sosial, salah satunya akan menjadi pusat perhatian. Jadi jika ada seseorang yang membuatmu tertarik, Midori-chan, ini mungkin bisa menjadi kesempatan bagi kalian berdua untuk lebih dekat bersama. Butuh keberanian untuk membuat langkah pertama dan semua kekuatanmu untuk membuka masa depanmu- atau setidaknya itulah yang aku pikirkan – tetapi bagaimana menurutmu, Midori-chan?”

Wooow, apakah ini bagian di mana aku seharusnya mengatakan ”seperti yang aku harapkan”? Inilah yang aku bicarakan. Ini adalah esensi sejati Maria, kemampuannya untuk membuka jalannya sendiri tanpa mengandalkan keberuntungan. Dia tidak pernah ragu untuk menggunakan kemampuan apa pun yang dimilikinya, dan selalu mengayunkan berbagai hal dengan cara yang akan membuatnya mudah.

Disajikan dengan buah yang memikat, Midori yang menentang menjadi ragu-ragu.

Dalam hal ini pada saat kau ragu-ragu adalah ketika kau sudah kalah.

“H- Hmpf! Kau tidak akan bisa membujukku dengan hal seperti itu!”

“Itu bukan niatku … atau lebih tepatnya, tidak apa-apa kalau kau tidak mau. Yang aku inginkan hanyalah bergaul (sehingga aku bisa memanipulasinya semauku ) dengan seorang gadis (yang merusak pemandangan) yang dekat dengan Kakak Sueharu seperti seorang adik …”

Seperti yang diharapkan dari seorang aktris. Sementara Maria bertindak lemah lembut, Midori diserang oleh rasa bersalah karena telah melakukan sesuatu yang sangat salah.

“Ah, aku tidak menolakmu karena aku punya alasan khusus…!”

Maria menunjukkan senyum lembut.

“Dalam hal itu aku pikir kita pasti bisa menjadi teman (yang hanya dibutuhkan saat tertentu) . Lagipula, aku hanya datang ke sini untuk mengunjungi Kakak Sueharu untuk pertama kalinya setelah beberapa lama.”

“Benarkah?”

“Ya. Kau (benar-benar)  gadis yang murahan dan baik.”

“… Oi, Momo. Pendapatmu yang sebenarnya bocor.”

“Ah-”

“Ah-”

Momo segera meletakkan tangannya ke mulutnya, lalu mencoba memainkannya dengan senyuman lebar.

Jelas, itu tidak berhasil.

“Jadi kau benar-benar memperlakukanku seperti orang bodoh, bukan ?!”

“Oh, aku tidak memperlakukanmu seperti orang bodoh, lho? Aku hanya berpikir kau murahan.​​”

“Bukankah kedua hal itu sama saja?!”

“Tenang, Midori! Momo memang orang seperti ini!”

Terperangkap di belakang angin Maria sebelum aku menyadarinya adalah kebiasaanku yang menakutkan di masa lalu.

Dia bisa saja diam ketika aku menenangkan Midori, tetapi pada waktu itu Maria sudah mulai berbicara dengan Akane.

“Kita bisa menjadi teman juga, kalau kau mau?”

“…Tidak. Aku tidak menggunakan media sosial atau memiliki minat khusus padamu.”

“Aku juga ingin berhubungan baik denganmu, lho?”

“Seperti yang aku katakan, aku tidak mau.”

“… Baiklah, aku mengerti (bahwa kau keras kepala)(Aku pasti akan membuatmu berlutut, jadi)  bisakah kita mengobrol lagi lain kali?”

“Jika ada kesempatan.”

Haah, dikatakan bahwa tiga gadis adalah kerumunan, tetapi akibat dari melemparkan bahan peledak yang dikenal sebagai Maria terhadap para saudari itu benar-benar tidak terkendali.

Aku menutup pembicaraan dengan paksa.

“Pokoknya, kita akan kembali ke masalah sebelumnya! Aku mendengar apa yang kau katakan tentang Kuro, dan aku pikir aku ingin melakukan beberapa penanggulangan dengan hati-hati. Untuk saat ini, sepertinya Momo ingin mengatakan sesuatu kepadaku, jadi aku akan mendengarkannya dulu. Aku akan datang memanggil kalian lagi nanti, jadi Midori dan Akane, kalian bisa pulang sekarang.”

“Kau yakin?”

Midori menatapku seolah dia mengamati setiap inci tubuhku.

Dia tidak percaya padaku.

“Tentu saja. Aku memberikan prioritas pada Momo karena rumahnya lebih jauh, dan juga karena aku telah menilai bahwa kalau dia pulang larut malam mungkin berbahaya.”

“Yah, itu …”

Logikaku sempurna. Sedemikian rupa sehingga bahkan Midori tampaknya kehilangan kata-kata.

Saat aku merasakan dadaku membengkak dengan bangga karena telah berhasil melewati cobaan ini–

“Tapi aku juga tidak keberatan menginap seperti ini––

–Sekali lagi, Maria melemparkan bom lagi.

“Sueharu! Kau…!”

“Tenang, Midori! Dan Momo! Kau sudah merencanakan kejahatan ini, bukan ?! Aku tahu ini!”

“… Yah, apa yang kau bicarakan?”

“Jangan berpura-pura bodoh sekarang!”

“Mungkinkah kau akan menghukumku, Kakak Sueharu? Apakah kita akan bermain dokter lagi seperti yang kau sukai enam tahun yang lalu?

“Sueharuuuu!”

“Kak Haru …”

Ooh, selain Midori, tatapan Akane terasa menyakitkan!

“… Salahku, Momo. Aku tidak berpikir aku bisa mengalahkanmu, jadi apa kau bisa melepaskanku untuk saat ini? Ngomong-ngomong, kalau kau tidak melepaskanku, aku akan menolak untuk mendengarkan apa yang ingin kau diskusikan.”

“Ooh, kau sangat kejam, Kakak Sueharu! Juga, untuk para saudari di sana, aku bercanda, oke?”

Midori dan Akane benar-benar ketakutan.

Untuk Midori khususnya … kau keliatan jelas. Wajahmu terlihat seperti zombie.

“Yah, Kak Haru. Sampai nanti.”

Karena telah mencapai tujuannya, Akane berbalik.

“Tentu, aku akan menghubungimu nan—” aku memulai, sebelum Maria memotong.

“–Tidak masalah, aku bisa mengatakan apa yang aku inginkan di sini juga.”

Para saudari, yang hendak pergi, berdiri diam.

Maria tersenyum tipis, lalu dengan santai menatapku.

“Kakak Sueharu … tolong kembali ke dunia hiburan. Dan kemudian – kita harus berakting bersama lagi. Jika aku bersamamu, aku merasa bisa bersinar lebih terang dari sebelumnya.”

Maria kembali ke ruang tamu, lalu kembali membawa tas.

“Kakak Sueharu, ini adalah kartu nama dari CEO agensi saat ini.”

Saat ini? Apakah ini berarti CEO telah berubah sejak aku pensiun?

Pada kartu nama, yang berikut ditulis:

 

 

「Hardy Pro / Presiden dan CEO / Hardy, Shun」

 

 

CEO ketika aku di sana adalah seorang wanita tua keturunan campuran bernama Nina Hardy, pendiri agensi akting dan penyihir dari generasinya. Dia adalah orang yang tegas namun baik, sampai-sampai dia dikenal oleh banyak orang di agensi tersebut sebagai ”Nenek Nina”.

“Momo, bagaimana dengan Nenek Nina?”

Aku menemukan nama nostalgia itu dan bertanya.

“Tahun lalu kesehatannya memburuk …”

“Eh, maksudmu … ?!”

“… Tidak, dia langsung membaik, tetapi dia kehilangan motivasi untuk bekerja setelah santai untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Jadi dia menyerahkan segalanya kepada putranya Shun-san, dan sekarang dia berkeliling dunia bersama suaminya.”

“Ahh, dia orang yang seperti itu …”

Dia adalah wanita yang kuat namun dengan karakter berangin, seseorang yang akan bertindak segera setelah mendapat ide. Yah, sangat mirip dia untuk melakukannya, dan jika dia sehat aku bisa melihatnya lagi …

“Setelah dia menonton video itu, Kakak, aku datang karena Shun-san memintaku untuk membujukmu untuk kembali. Yah, aku punya niat untuk tetap melakukannya meskipun Shun-san tidak menyuruhku melakukannya.”

“Shun-san, ya … Aku bahkan belum pernah mendengar dia disebutkan sebelumnya. Nenek Nina juga tidak pernah membicarakannya.”

“Tampaknya hubungan antara ibu dan anak tidak terlalu dekat.”

“Dan bagaimana kesanmu tentang dia, Momo?”

“Yang pasti dia punya kemampuan.”

“Apa lagi? Karakternya?”

“Aku pikir akan lebih baik bagimu untuk mengkonfirmasi hal lain dengan matamu sendiri, Kakak. Karena itu, bagaimana menurutmu kalau bertemu dengannya?”

“Hmm, begitu ya…”

“Apa kau tidak memiliki keinginan untuk kembali?”

“… Jujur saja, aku sedikit ragu.”

Di masa lalu aku pernah menjadi aktor cilik, tetapi bersama dengan jeda enam tahun, aku hanya pernah sekali berdiri di atas panggung, dan di festival budaya pada saat itu. Apakah aku bisa tampil sebaik dulu masih merupakan variabel yang tidak diketahui, tetapi pertama-tama persyaratannya berbeda dari ketika aku menjadi aktor cilik, sekarang aku telah menjadi siswa SMA.

Selain itu, itu berkat Kuroha bahwa aku bisa berusaha keras selama festival budaya. Karena dia telah jatuh ke dalam situasi yang sulit, aku juga enggan untuk mengesampingkan itu dan kembali.

Hanya saja aku pikir aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Aku bersyukur sendiri karena telah dihubungi.

“Kakak, apa kau bisa memberitahuku jam berapa kau akan bebas hari Sabtu ini? Aku ingin mengatur wawancaramu dengan CEO.”

“… Yah, ya … kurasa aku akan mencoba menemuinya.”

Kelihatannya aku tidak akan sampai pada kesimpulan yang menyiksa pada saat ini. Tidak bertemu CEO dan mendengarkan apa yang dia katakan sepertinya berarti tidak membuat kemajuan apa pun.

“Itu bagus.”

Maria mengalihkan pandangannya ke para saudari.

“Erm, bisakah kau membantuku dengan menyerahkan ini kepada Kuroha-san?”

Apa yang diberikan Maria kepada mereka adalah kartu nama yang identik dengan yang dia berikan kepadaku.

“Oi, Momo. Maksudmu CEO juga tertarik pada …?”

“Ya, dia tampaknya tertarik, dan jika mungkin dia ingin kalian berdua datang menemuinya bersama – adalah apa yang dia katakan.”

Jadi karena inilah Maria tidak membiarkan para saudari pulang, ya.

“Hei, bukankah kau mendengarkan apa yang kami katakan ?!” Midori marah.”Kak Kuro sekarang sudah gila, tapi meski begitu kau berbicara tentang dunia hiburan … ?!”

“Bahkan aku tidak bisa menyangka sesuatu seperti itu terjadi. Tetapi setelah sampai sejauh ini, aku masih ragu apakah memberikan pesan ini sendiri akan menjadi langkah logis. Karena itu, aku masih berniat untuk tidak pergi dan menyerahkan ini kepadanya secara langsung. Aku akan mempercayakan kalian dengan memutuskan apakah akan menyerahkan ini kepada Kuroha-san atau tidak.”

“………… Baiklah, mengerti.”

Dia mungkin mengerti alasan Maria. Aku merasakan keengganan dari Midori tetapi dia menerima kartu nama.

“Yah, pekerjaanku sudah selesai di sini, jadi aku akan pulang sekarang.”

“Begitu ya. Apa kau ingin memanggil taksi? Aku akan membayar karena kau sudah sengaja datang jauh-jauh.”

“Hehe, Kakak, kau pikir aku ini siapa? Banyak hal telah berubah sejak enam tahun yang lalu, lho?”

Maria memberi kedipan manis.

“Jika aku memberikan panggilan kepada sopirku, dia akan tiba di sini sebentar lagi.”

“Wow. Itu perbedaan besar dari sebelumnya.”

“Tentu saja.”

Maria menyisihkan para saudari, lalu memasukkan kakinya ke sepatu kulit sekolahnya.

“Oh, benar, Momo. Aku melupakan sesuatu.”

“Apa itu, Kakak? Ciuman perpisahan kita?”

“Apa kau bodoh? Ini.”

Aku mengeluarkan ponselku, menunjukan log di layar.

Lima puluh tujuh pesan Hotline, empat belas panggilan tidak terjawab. Dari pagi hingga sekarang – hampir setengah hari – ini berlebihan.

“Wow…”

“Apakah dia penguntit …?”

Reaksi alami, mungkin. Ini adalah akal sehat.

“Ini terlalu berlebihan, bahkan untukmu. Aku tidak akan memintamu untuk berhenti menghubungiku, tapi tolong, sedikit menahan diri.”

Ini adalah alasanku dengan marah mengatakan kepada Tetsuhiko ”untuk tidak memberikan alamatku semaunya”. Aku telah meramalkan ini terjadi kalau dia memberi tahu Maria, apalagi orang lain.

“… Oh, kendaraanku telah tiba. Selamat tinggal, semuanya.”

“Ayolah! Setidaknya katakanlah kau menyesal atau kau akan berhenti sebelum pergi!”

Dalam hal ini dia sangat mirip dengan Tetsuhiko. Mungkin inilah jenis pola pikir keras yang diperlukan untuk bertahan hidup di dunia hiburan.

Jika demikian, aku tidak cukup. Bisakah aku benar-benar mengembalikan diri ke dunia hiburan?

Itulah beberapa pemikiran yang aku miliki.

 

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded