Osananajimi ga Zettai ni Makenai Love Comedy – Volume 1 – Chapter 4 – Bagian 4 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Volume 1 – Chapter 4 – Bagian 4 – Balas dendam cinta pertama kami selesai

 

 

Bagian 4

Aku duduk di tangga sebentar untuk mengatur nafas tak lama setelah berpisah dengan Shirokusa, ketika syok menyadari bahwa dia adalah Shirou mulai tenggelam sepenuhnya.

Pengakuannya telah menjelaskan banyak hal yang sampai sekarang masih menjadi misteri.

Seperti mengapa dia begitu sangat menentang lingkungannya, atau mengapa dia hanya memperlakukan aku dengan relatif baik, atau mengapa dia menyelesaikan plot begitu cepat … di antara hal-hal lain.

Kalau saja – mungkin. Kalau saja aku menyadari bahwa Shirokusa adalah Shirou sebelum liburan musim panas, bagaimana hubungan kami nantinya? Tidak seperti sekarang … kami bisa pergi ke festival budaya sebagai kekasih – meskipun bukankah itu mungkin di masa depan juga?

… Benar-benar khayalan bodoh.”

Aku menggelengkan kepala dan membuang pikiran-pikiran itu.

Namun, apa yang dia maksudkan ketika mengatakan itu?

Kau pacaran dengan Abe-senpai, kan?”

Dan?”

Shirokusa jelas marah. Tapi bagaimana aku bisa menafsirkan kemarahannya?

– Jangan tanya kalau kau sudah tahu jawabannya. Tidak ada gunanya kau mengaku padaku sekarang.

Apakah benar bagiku untuk melihat makna itu dalam kemarahannya?

– Pembicaraan kita berjalan sangat baik, mengapa kau harus mengatakan sesuatu untuk merusak suasana?

Mungkin itu lebih mirip dengan perasaannya.

– Jadi, apa kau tidak akan mengaku kepadaku di”Festival Pengakuan”itu?

Itu juga mungkin.

Aku tidak tahu harus berpikir apa, tapi yang pasti adalah Shirokusa memegang perasaan kuat untukku. Perbedaan kami sebagian besar telah dikesampingkan, dan saat ini aku tidak merasakan permusuhan darinya. Itu meragukan apakah bisa dianggap cinta.

Kalau aku mengaku sekarang itu akan berhasil, kan?”

Pada saat yang sama aku juga merasakan hal itu.

Dia bilang bahwa dia pacaran dengan Abe, tetapi mengingat seberapa banyak pemikiran yang telah dia berikan kepadaku, mungkinkah itu sesuatu yang dia lakukan karena dendam akibat aku tidak menyadari bahwa dia adalah Shirou?

Itu dugaan lain yang mungkin, tapi … tidak, aku merasa Tetsuhiko akan mengatakan sesuatu yang lain.

Dengar, aku tahu kalian membuat janji di masa lalu, tapi mengapa itu ada hubungannya dengan cinta? Bukankah kedua hal itu jelas tidak berhubungan?”

Ya, aku benar-benar bisa melihatnya mengatakan itu! Dan lebih sering pernyataan-pernyataan kasar ini lebih cenderung mencerminkan kebenaran.

Maksudku, aku mungkin pernah memiliki kejayaan di masa lalu, tapi sekarang aku hanya seorang siswa SMA biasa. Abe adalah aktor kaya yang tampan.

Dia (Abe) akan menang karena menyesuaikan ingatannya? Bukankah itu sedikit tidak adil?

Ketika aku mempertimbangkan hal-hal itu, aku mulai berpikir bahwa semuanya memang memiliki peluang untuk menjadi rencana Abe.

Aku masih tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa perangkap jahat sedang menungguku – bahwa jika, seperti yang ditakutkan Kuroha, aku muncul sebagai pemenang di Festival Pengakuan setelah bersaing dengan Abe dan mengaku pada Shirokusa, dia akan mengatakan sesuatu seperti “Aku suka Abe-senpai. Aku harap kau menghilang, tolol,” dan menolakku dengan kasar di depan seluruh sekolah.

Jika itu terjadi padaku, aku akan trauma seumur hidup. Aku merasa seolah-olah aku akan kehilangan kepercayaan untuk terus hidup.

Tetap saja, aku harus mengambil keputusan dengan cara apa pun.”

Kalau aku ingin mengalahkan Abe agar tunduk, aku harus menanggung risikonya dan terus menyerang.

Terlebih lagi, apa yang sebenarnya aku cari? Balas dendam? Atau mungkin-

Dengan pikiranku yang masih kacau, aku berjalan menuruni tangga dengan kepalaku yang penuh pikiran.

Ketika aku tiba di lantai tiga aku menemukan Kuroha bersandar di dinding sedang memakan takoyaki.

“Yoohoo, Haru. Kau bebas, bukan? Ingin berjalan-jalan di sekitar festival budaya bersama?”

Bahkan aku tahu dia telah mengikuti kami sepanjang waktu.

“Apa kau mendengar semuanya?”

“Dengar apa?”

“Tentang Shiro.”

Kuroha mengerutkan bibirnya, memasukkan potongan takoyaki terakhir ke dalam mulutnya.

“Dengan Shiro, maksudmu Kachi-san, bukan? Sepertinya kalian sudah cukup dekat—”

“Bukan karena kami sudah dekat tapi karena kami memang dekat dari awal. Aku hanya tidak menyadarinya.”

“Hmmm, tapi kau memanggilnya Shiro meskipun tidak terlalu dekat dengannya sejak lama. Aku Kuro, dan Shiro Kachi-san. Sepertinya aku yang jahat di sini, kan?”

“Tidak juga.”

“Itu jelas.”

Itu tidak seperti Kuroha sampai merajuk sedemikian rupa.

Mungkinkah itu …

“Apa, kau cemburu?”

“!?!?!?!?!?!?”

Wajah Kuroha meledak merah dan dia mulai mendorong ke arahku sambil menusukku dengan ujung tusuk giginya.

“K-Kenapa aku harus cemburu ?! K-Kau tahu, aku seharusnya pacaran denganmu, Haru! Aku sama sekali tidak membandingkan diriku dengan pecundang itu!”

“Kau benar-benar membenci Shiro, ya …”

“Ooh, kau memanggilnya Shiro lagi! Untuk beberapa alasan aku tidak suka suara itu sama sekali. Aku sangat membencinya.”

Sangat jarang melihat Kuroha yang ramah membenci sesuatu dengan sangat kuat. Biasanya dia akan mengekspresikan dirinya dengan cara yang lebih berbelit.

Dari situ dapat dikatakan bahwa saat ini Kuroha bersikap lebih jujur ​​daripada biasanya.

“Haha, begitu ya.”

Aku menyadari sesuatu dan tertawa.

“Apa?”

Kuroha memelototiku dengan ketidaksenangan yang tidak diketahui.

“Maksudku, kau tahu bagaimana kau selalu berusaha bersikap seperti kakak dan merawat orang lain, Kuro?”

“… Jadi?”

“Aku hanya berpikir tentang bagaimana aku mungkin satu-satunya orang yang akan kau curahkan dengan ketidaksenanganmu secara terbuka seperti ini, dan kemudian aku menyadari bahwa mungkin ini hanya caramu bertindak manja.”

“!?!?!?!?!?!?”

“Ah.”

Seolah-olah dia dimasukkan ke dalam pemanas air instan Kuroha berubah merah seperti lobster dalam sekejap dan melarikan diri.

Dia jelas tidak ingin wajahnya terlihat. Mungkin karena dia telah kehilangan ketenangannya, dia mulai menaiki tangga menuju atap tempat Shirokusa dan aku berbicara sebelumnya, meskipun dia seharusnya tahu bahwa itu mengarah ke jalan buntu.

“Oi, Kuro.”

Aku mengejarnya, lalu Kuroha berteriak ”Jangan ikuti aku!” Sambil masih menyembunyikan wajahnya. Itu bukan berarti aku bisa berhenti mengejarnya.

Kami tiba di ujung jalan dengan cukup cepat. Pintu ke atap terkunci. Akibatnya Kuroha meringkuk di sudut di mana tangga berhenti naik, mengubur kepalanya dan menyelipkan dirinya ke dalam bola. Dia tampak seperti kepiting pertapa yang bersembunyi di cangkangnya.

“Hei, Kuro …”

“Jangan sentuh aku!”

Dia seharusnya tidak bisa melihatku, namun dia telah membaca gerakanku dengan sempurna. Teman masa kecil memang menakutkan.

“Pergi ke tempat lain!”

“Kau bilang begitu tapi … apa yang terjadi denganmu? Bukankah kau sudah mengatakan hal yang lebih memalukan kepadaku? Jadi mengapa kau …”

Kuroha menoleh sedikit sebelum menutup dirinya kembali ke cangkangnya.

“Kau tidak diizinkan untuk menyerangku …”

“Heh?”

Kuroha berdiri dengan terburu-buru dan mengulurkan seluruh 148 sentimeter tubuhnya untuk memukul kepalaku.

“Bukankah aku sudah memberitahumu sebelumnya?! Aku diizinkan menyerangmu, karena aku siap secara mental untuk itu, tetapi kau tidak diizinkan untuk menyerangku, karena aku tidak siap secara mental untuk itu!”

“Ah~ …”

Kalau dipikir-pikir, mungkin dia mengatakan sesuatu seperti itu. Aku juga menyadari bahwa saat-saat ketika Kuroha merasa malu tampaknya juga bertepatan dengan saat-saat ketika aku mengambil langkah maju untuk menegaskan keunggulanku.

“Aku kira kau benar-benar hanya berpura-pura bertingkah seperti kakak walau karakter sejatimu berbeda. Sekarang keliatannya kau tidak memiliki ketenangan atau keterampilan yang diperlukan untuk bertindak begitu sekarang.”

“Diam diam diam!”

Aku dipukul berulang kali. Merasa sangat menyesal, aku meminta maaf terus terang.

“Baiklah, maaf. Aku tidak akan mengatakan apa pun untuk mengganggumu.”

“… Bagus kalau kau tahu.”

Kuroha membusungkan dadanya yang indah, tetapi gagal membuat banyak kesan karena perawakannya yang pendek. Aku akan membuat segalanya lebih buruk kalau aku mengatakan sesuatu, jadi aku tetap diam untuk saat ini.

Saat aku diam, Kuroha melihat ke bawah, mengukur reaksiku ketika dia berbicara.

“Tapi ketika kita sendirian, aku tidak akan keberatan kalau kau berbicara sedikit lebih tegas lo…?”

“Apa, jadi aku harus mengatakan hal itu atau tidak ?!”

“Kau tidak mengerti ?! Keduanya!”

Wow, Kuroha bertingkah seperti gadis seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana aku harus berurusan dengannya …

“Aku bersumpah Haru, ini sebabnya kau …”

Kuroha mengangkat bahu, kembali ke mode kakak.

“Aku ingin kau berpikir panjang dan keras tentang itu. Itu PR yang kakak berikan padamu.”

Aku segera mengangkat tangan.

“Oke, Kakak. Aku sudah menyelesaikan PR nya.”

“Aku agak khawatir karena kau menyelesaikannya begitu cepat tapi … oh yah. Jadi, Haru, apa jawabannya?”

“Aku tahu bahwa aku tidak menemukan apa pun.”

“Kau hanya berpikir mencari tahu itu akan merepotkan, bukan ?!”

“Ya, seperti itu.”

“… Aku akan memastikan untuk mengajarimu secara menyeluruh, jadi kau ikut denganku ke festival budaya.”

Aku dijewer dan akhirnya diseret ke berbagai tempat.

Makan siang, berbagai macam pameran dan fitur, gym untuk melihat pertunjukan yang terjadi di sana dan ruang musik untuk band.

Sementara kami melakukan semua hal di atas, upacara penutupan festival budaya semakin dekat.

“Haru, bisakah kita berpisah di sini?”

Kelas kami, 2 – B, memiliki ruang kelasnya di lantai dua. Bangunan sekolah yang baru menampung ruang kelas dan bangunan yang lama menampung ruang fakultas dan perpustakaan dan lain-lain terhubung di lantai kedua dengan jalan setapak.

Itu di tengah-tengah jalan tempat kami berada.

“Kau punya sesuatu untuk dilakukan sekarang, bukan, Haru?”

“… Ya.”

“Aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan atau untuk siapa kau melakukannya. Aku masih menentangmu berakting lagi, Haru, dan kau tidak meminta bantuanku, jadi aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.”

“Kuro …”

“Tapi aku ingin kau tahu hal ini. Aku menentangmu berakting karena aku tahu seberapa banyak rasa sakit yang kau alami, dan bagaimana perasaanmu ketika kau harus menyerah untuk menjadi aktor cilik.”

Sejujurnya, aku tidak ingin diingatkan tentang apa yang terjadi saat itu.

Setelah ibuku meninggal, aku menjadi takut untuk berdiri di depan kamera. Kenyataannya adalah bahwa tidak ada yang memperhatikan ibuku yang sudah meninggal, dan dia dibiarkan sendirian sementara kamera terus berputar. Tentang hal itu aku menjadi takut. Aku memiliki kilas balik yang menakutkan meskipun kemungkinan hal serupa terjadi lagi mendekati nol, membuat seluruh tubuhku gemetar sampai aku tidak dapat berakting lagi.

Aku merasa bahwa kekosonganku tidak terhindarkan. Tetapi kebenarannya adalah bahwa apa yang terjadi setelah itu semakin menyakitkan.

Posisi yang aku ciptakan untuk diriku sendiri sebagai aktor cilik adalah sumber kebanggaan dan kepercayaan diriku sebagai seorang anak. Itu identitasku.

Harus membuang itu, aku kehilangan sesuatu yang aku andalkan.

Aku kehilangan komoditas yang dipuji orang. Aku kehilangan semua yang telah aku dapatkan sejauh ini.

Mungkin sejalan dengan merampas pengetahuan dari seseorang yang punya harga dirinya dari belajar, atau ada seseorang yang menarik pujian hanya karena keterampilan motoriknya lalu mengalami cedera dan menjadi tidak dapat bermain olahraga lagi.

Aku suka akting. Kecemasan berdiri di depan kamera, kepuasan mengajak orang masuk, dan rasa pencapaian yang aku rasakan dari menggerakkan mereka – masing-masing perasaan itu tidak seperti yang lain.

Kemudian – penyesalanku tetap ada.

Apakah aku mampu melakukannya lagi? Kenapa aku tidak bisa?

Pikiran seperti ini mendayung dan berputar-putar dalam hatiku.

Kuroha melihat semua itu.

–Bagaimana aku tetap dalam keadaan melamun selama setahun setelah kematian ibuku.

–Bagaimana aku telah pulih tetapi menderita karena tidak dapat berakting.

–Bagaimana aku menyerah dalam keputusasaan atas segalanya.

–Bagaimana sejak saat itu aku menjalani hari-hariku menerima status quo, berusaha menemukan kembali kebahagiaan.

“Itu benar. Kau melihat semuanya, Kuro.”

“Aku hanya tidak ingin kau menderita lagi, Haru. Tetapi kalau kau telah menemukan motivasi dan optimisme mu maka aku ingin mendukungmu. Aku ingin kau tidak khawatir tentang apa pun dan bebas. Jadi 

“Kuro …?”

Aku melihat Kuroha gemetar cukup parah. Dia melirik ke sekeliling dengan sembunyi-sembunyi, sadar akan lingkungan kami.

Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Hanya kegugupannya yang mencapaiku.

“–Haru.”

Kuroha mengambil keputusan dan mendongak, sebelum tiba-tiba mengangkat lengannya tinggi-tinggi dan memberiku tamparan di pipi.

Suara yang dihasilkan terdengar renyah. Keributan yang tiba-tiba membuat para siswa yang berjalan di sekitar kami berhenti di jalur mereka.

Sementara aku menekankan tanganku ke pipiku yang sekarang hangat, Kuroha menyeringai.

“Baiklah, pada titik ini hubungan kita kembali ke bagaimana dulu. Apa pun yang kau lakukan tidak ada hubungannya denganku, Haru.”

Orang bisa menyimpulkan makna di balik kata-kata Kuroha dari gumaman di sekitar kami.

“Tunggu, apakah Maru-kun dan Shida-san sedang dalam pertengkaran kekasih?”

“Apakah Maru melakukan sesuatu yang bodoh lagi?”

“Serius?! Apakah Shida-san baru saja menjomblo ?!”

… Begitu ya. Kuroha telah mendengar Shirokusa mengaku sebagai Shirou. Bertanya-tanya jika aku tidak kehilangan keinginan untuk membalas dendam sebagai akibatnya, dia telah memberiku alasan untuk mengganggu ”Festival Pengakuan” dan mengaku pada Shirokusa.

Kuroha dan aku sudah mulai pacaran. Aku akan menjadi penipu yang tercela kalau aku kemudian mengaku pada Shirokusa. Tapi sekarang kabar aku ditampar dan kami putus pasti akan menyebar seperti api. Meski aku mengaku pada Shirokusa tidak akan menjadi sesuatu yang tidak biasa.

“Kuro …”

Kuroha menyela dengan ekspresi lega.

“Serius, jangan buat aku melakukan semuanya di sini, oke? Aku tahu aku mungkin terlihat seperti kakak tetapi 

Wajahnya berangsur-angsur suram dan bicaranya sementara berhenti di sana.

“Aku mungkin terlihat seperti kakak tetapi 

Saat dia mengulangi kalimat yang sama, setetes air mata jatuh.

“………… Maaf.”

Kuroha berbalik tanpa repot-repot menyeka air matanya.

Sejenak aku berpikir untuk mengejarnya sebelum diam di tempat aku berdiri.

– Jangan ikuti aku.

Itulah yang dikatakan Kuroha. Dia juga mengatakan,

– Aku akan menonton.

Dan aku pikir itu harus dilakukan.

Aku akan menunjukkan jawabanku padanya di ”Festival Pengakuan”. Itu jauh lebih baik daripada mencoba mengejar dan berbicara dengannya sekarang.

Aku mengepalkan tanganku menjadi tinju sambil mengawasi punggung Kuroha saat dia pergi … memukul kepalaku.

Ada suara gedebuk saat rasa sakit yang membara menyelimuti kepala dan tinjuku.

Aku berbisik pelan.

“–Maafkan aku, Kuro.”

Aku mengeraskan tekadku dan mengeluarkan ponselku, menelepon Tetsuhiko.

 

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded