Osananajimi ga Zettai ni Makenai Love Comedy – Volume 1 – Chapter 4 – Bagian 3 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!
Loading...

Volume 1 – Chapter 4 – Bagian 3 – Balas dendam cinta pertama kami selesai

 

 

Bagian 3

Shirokusa berada di kelompok ketiga yang bertanggung jawab atas kafe Jepang, jadi sampai saat itu dia harus kembali mengenakan seragam sekolahnya.

Setelah dia memberi tahu Sueharu itu, dia (Sueharu) menjawab, “Ada beberapa hal yang ingin aku pikirkan, jadi aku akan tinggal di sini untuk sekarang.”

Kemudian Shirokusa menarik topinya erat-erat di atas kepalanya sekali lagi, dan berjalan menuruni tangga sendirian.

Dan ketika dia melakukannya – di lantai tiga dia (Shirokusa)  menemukan Shida Kuroha menunggu dengan punggung bersandar ke dinding.

“… Seperti yang aku duga, kau adalah orang yang dipanggil ‘Shirou’ oleh Haru, Kachi-san.”

“Jadi, kau sadar.”

“Yah, aku sering pergi ke rumah Haru. Aku mengetahui secara kebetulan beberapa waktu lalu setelah meminta Haru menunjukkan album fotonya kepadaku. ”

“… Apa yang kau coba lakukan, pamer?”

“Ooh, Kachi-san, jadi kau mengerti bahwa aku pamer. Seperti yang diharapkan dari seorang novelis. ”

Pembuluh darah di pelipis Shirokusa membengkak, sementara Kuroha dengan tegas menyipitkan kelopak matanya.

“Itu benar, aku juga punya sesuatu untuk kukatakan padamu. Dia akan memanggilku ‘Shiro’ mulai sekarang. ”

“… Begitu ya.”

Suaranya seperti bergema dari perut bumi.

“Kalau dipikir-pikir, bukankah dia memanggilmu ‘Kuro’ atau semacamnya? Maaf kalau itu membuatmu merasa istimewa. Oh benar, ngomong-ngomong, aku akan memanggilnya ‘Suu-chan’. Cemburu sekarang? ”

“Bukan ini yang akan menentukan siapa yang menang atau kalah, jadi bukankah kau sedikit berpikiran sempit karena berpikir kau telah memenangkan sesuatu seperti itu?”

“… Hmmm. Tahukah kau bahwa dalam sebuah cerita menjadi teman masa kecil adalah bendera untuk kekalahan? ”

“Jadi, kau menggabungkan fiksi dengan kenyataan, Kachi-san? Apakah kepalamu baik-baik saja? ”

“Hehe, hehehe.”

“Aha, hahaha.”

Aura mereka membuat udara di sekitar mereka bergetar, cukup untuk membuat wajah menjadi pucat.

“Hmpf !!”

Mereka berpaling hampir secara bersamaan, dan berjalan ke arah yang berlawanan tanpa melihat ke belakang.

 

Loading...
Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded