Osananajimi ga Zettai ni Makenai Love Comedy – Volume 1 – Chapter 3 – Bagian 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Volume 1 – Chapter 3 – Bagian 2 – Peti Harta Karun dan Kotak Peralatan

 

 

Bagian 2

Dari jauh aku bisa mendengar suara yang datang dari klub baseball. Lalu klub sepak bola. Lalu tim lari.

Ini mungkin di sekolah. Namun mataku terpejam. Dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah, aku terbangun.

Hal pertama yang aku lihat setelah bangun adalah seprai putih bersih. Selanjutnya adalah–

“Selamat pagi … kurasa akan aneh untuk mengatakannya. Bagaimanapun juga aku senang kau sudah bangun.”

Wajah seorang”gadis pengarang SMA cantik pemenang penghargaan Akutami” yang dikenal semua orang di sekolah, Kachi Shirokusa.

Ruang kesehatan, bermandikan cahaya senja.

Sikapnya yang bermartabat masih tetap indah dan menonjol di tengah pemandangan magis.

“Tunggu, aku–”

“Pingsan di gym dan dibawa ke ruang kesehatan oleh Kai-kun dan Mitsuru-senpai.”

Mitsuru-senpai? Aku baru saja akan bertanya siapa itu sebelum menyadari itu adalah nama Abe.

“Di mana Tetsuhiko dan Abe-senpai? Dan mengapa kau ada di sini, Kachi?”

“Mitsuru-senpai pulang tepat setelah membawamu ke sini, Maru-kun. Dia bilang dia punya urusan yang harus diselesaikan.”

“… Begitu ya.”

Mendengar nama Abe keluar dari mulut Shirokusa membuatku merasa tertekan. Tetapi untuk saat ini aku memutuskan untuk hanya mendengarkannya.

“Kai-kun juga sedang mengambil barang-barangmu. Adapun aku – aku tinggal untuk memberikanmu ini.”

Shirokusa mengeluarkan dan menyerahkan kantong plastik bening.

Di dalamnya ada sekitar lima halaman dokumen cetak. Ini adalah–

“Plot yang kau harapkan, Maru-kun. Kau bilang ingin tampil menonjol di festival budaya, jadi aku pikir semuanya akan berjalan baik bahkan kalau kau tidak menggunakan segmen terjadwal di gym. Tidak, aku pikir itu pasti akan lebih menarik kalau kau tidak mengikutinya sama sekali.”

Penggunaan gym mengikuti jadwal ketat selama festival budaya. Izin sebelumnya harus dicari dari OSIS, dan pengaturan waktu harus dipesan.

Tetsuhiko sebelumnya telah memesan segmen lima belas menit. Dia kemudian mengusulkan kepadaku bahwa kami harus menggunakan waktu itu untuk melakukan drama.

Tapi Shirokusa mengatakan kami lebih baik melakukan sesuatu yang berbeda.

“B-Bisakah aku melihatnya sebentar?”

Aku memindai dengan cepat pada selembar kertas pertama. Ditulis ada ikhtisar, dan itu persis informasi yang aku inginkan.

“… Begitu ya! Tetsuhiko dan aku tidak akan menarik siapa pun dengan nama kami sendiri, jadi kami harus menggunakan ‘Festival Pengakuan’ sebagai gantinya?”

Bahkan jika kami berdua melakukan pertunjukan yang spektakuler dari naskah yang spektakuler, semuanya akan menjadi tidak berarti kalau tidak ada yang melihatnya.

“Ya. Kalau kau ingin menonjol, pertama-tama kita harus mengubah panggung,” Shirokusa menjelaskan.”Setiap tahun di festival budaya, ‘Festival Pengakuan’ menghasilkan kesenangan terbesar. Dan menjadi bagian dari upacara penutupan … setiap siswa pasti ada di sana untuk menonton. Karena itu kita tidak punya alasan untuk tidak menggunakannya. Menjadi bintang ‘Festival Pengakuan’ – kalau kau ingin menonjol, itu saat terbaik yang bisa kau lakukan.”

Itu membuat frustrasi, namun seperti yang diharapkan. Itu adalah ide yang Tetsuhiko dan aku tidak bisa pikirkan.

“Dan kita seharusnya mengambil alih ‘Festival Pengakuan’ itu sendiri?”

“Ya, itulah inti dari plot yang aku tulis. Kau dan Kai-kun akan mengacaukan ‘Festival Pengakuan’, membuat program kalian sendiri. Bagaimana dengan itu?”

Festival Pengakuan adalah panggung yang menarik perhatian seluruh sekolah. Jika kami melakukan hal-hal di atas sana kami pasti akan menjadi pahlawan.

Tiba-tiba aku mendengar sorakan.

Aku melihat ke bawah dari atas panggung dan melihat penonton dalam pusaran kegembiraan. Di sampingku aku melihat teman-teman aktorku, wajah mereka yang menyeringai memerah karena sensasi yang masih ada.

Perasaan puas dari masa lalu melintas di benakku.

Aku sekarang teguh pada keyakinanku bahwa mengikuti rencana Shirokusa adalah satu-satunya pilihan.

“Terima kasih, Kachi!”

Dalam kegembiraanku yang tak terkendali, aku meraih tangan Shirokusa.

“Eh ?!”

“Ini ide yang luar biasa! Aku sudah bisa melihat diri kami berhasil, dan itu semua berkat dirimu, Kachi!”

Shirokusa melakukan hal yang biasanya tidak terpikirkan – dan untuk sesaat membuka mulutnya untuk tersenyum, tetapi wajahnya segera kembali ke ekspresi bermartabat yang biasa sementara dia membawa rambut hitam, berkilau yang berjalan di samping pipinya ke depan dadanya dan mulai mengelusnya.

“Y-Yah tentu saja. Lagipula aku yang menulis plotnya.”

“Sungguh, kau benar-benar profesional sejati, Kachi! Tidak mungkin Tetsuhiko dan aku bisa memikirkan ini!”

“H- Hmph, tidak perlu menyanjung! Aku melakukan ini untuk mencari nafkah, jadi itu wajar!”

Kebanggaan adalah sebagaian dari profesionalisme, ya? Shirokusa mengangkat hidungnya yang tinggi ke atas dan membusungkan dadanya yang cukup berisi.

Aku membalik lembar kertas pertama untuk membaca halaman kedua skenario.

Dari sekilas aku mengerti bahwa itu menuliskan tentang Festival Pengakuan sebagai latar. Alur yang disederhanakan dicetak pada halaman ketiga.

“Berhenti disana.”

“Ah-”

Shirokusa mengambil lembaran kertas. Aku secara refleks meraih mereka, tetapi karena berbaring di tempat tidur. Shirokusa, yang telah mundur selangkah, jauh di luar jangkauanku.

“H- Hei, ada apa? Segalanya baru mulai bagus!”

“Maru-kun, bukankah kau lupa sesuatu?”

“Lupa sesuatu …?”

“Hadiahku.”

Oh, benar. Dia memang meminta hadiah.

Ya, maksudku, Shirokusa adalah seorang profesional. Sejauh ini aku sangat terkesan dengan ide-idenya dan masih sangat ingin melihat apa lagi yang dia miliki.

Tapi hadiah, ya …?

“Kau tahu, Kachi, kau mungkin berpikir bahwa aku punya banyak uang untuk dibelanjakan karena ayahku tidak pernah di rumah, tapi–”

“Hah?”

“Orang tua Kuroha adalah orang tuaku setiap kali orang tuaku tidak ada di rumah. Jadi aku tidak punya apa-apa selain uang kecil untuk ditawarkan.”

“Bukan itu yang aku—”

“Aku akan membayarmu kembali setelah aku berhasil!”

Aku melompat dalam sekejap dan mengambil posisi berlutut di tempat tidur.

Menentukan hasil dengan berlutut sebelum orang lain bisa mengatakan ya atau tidak! Ini adalah metode jitu bagiku untuk selalu mendapatkan hal yang aku mau!

” Itu seharusnya menenangkannya …” Aku berpikir dengan percaya diri ketika aku melirik sebentar, lalu menemukan bahwa Shirokusa menatapku dengan tatapan dingin.

“Eek …”

Benar-benar aneh. Shirokusa selalu bereaksi secara berbeda dari yang aku harapkan darinya … Responsnya selalu baik setiap kali aku pikir dia sedang dalam suasana hati yang buruk, dan setiap kali aku berpikir segalanya akan berjalan baik kalau aku bertindak mencela diri sendiri, seperti sekarang, emosinya entah bagaimana akan berubah menjadi busuk. … Yah, aku tidak pernah mengerti bagaimana membaca hati seorang gadis dari awal, jadi aku benar-benar putus asa ketika itu mengenai Shirokusa.

“Tolong, hentikan itu.”

“… Heh?”

“Kalau kau mampu melakukan hal-hal ini, Maru-kun, aku pikir itu artinya kau harus cukup percaya diri tentang dirimu sendiri. Bahkan jika itu berarti diolok-olok atau dipandang rendah, kau masih merasa bisa melakukannya. Itulah bagaimana kau bisa menertawakan diri sendiri dan melakukan semua hal yang merendahkan diri ini, kan?”

“Oh bukan—, tidak sehebat itu. Aku seorang idiot, jadi yang terbaik yang bisa aku lakukan adalah memperbaiki keadaan saat aku…”

“Aku tidak ingin melihatmu seperti ini, Maru-kun.”

Apakah keadaan menyedihkanku adalah alasan untuk suasana hatinya yang buruk?

Jika demikian, maka Shirokusa pasti–

“Jadi, Kachi, kau sudah tahu aku dulunya aktor cilik, kan? Aku mendengarnya dari Abe-senpai.”

“… Aku tahu.”

Dengan kedutan, bahu Shirokusa mulai bergetar.

Apa yang menyebabkan dia bereaksi seperti itu? Apakah dia marah, atau mungkin, sedih?

Aku tidak tahu pasti – hanya saja dia memiliki ekspresi yang sangat serius di wajahnya.

Aku kira jawabannya benar-benar berarti bahwa …

“Kachi, mungkinkah… kau dulu penggemarku?”

Itulah satu-satunya kesimpulan yang bisa aku pikirkan.

 

– Aku tidak ingin melihatmu seperti ini, Maru-kun.

 

Dia mengucapkan kata-kata itu karena dia pastinya penggemarku di masa lalu.

Dia menunjukkan kepadaku senyumnya ketika kami sendirian bersama karena dia adalah penggemar.

Dia juga memastikan untuk meminta hadiah terlebih dahulu saat menulis naskah dengan segera, itu juga karena dia adalah penggemar.

… Itu pasti. Aku menemukan bahwa Shirokusa ”adalah penggemarku” penjelasan yang mudah diterima untuk semua yang telah terjadi di antara kami sejauh ini.

Shirokusa memutar-mutar rambut mempesona yang membentang dari bahunya beberapa kali di jari-jarinya.

“… Ya. Aku tidak akan menyangkal kalau aku penggemarmu.”

Bagiku sepertinya ada sesuatu yang membuat gigi belakang Shirokusa terkepal.

Dia tidak berbohong, tapi dia juga tidak menceritakan keseluruhan cerita. Itu kesanku.

“Begitu ya. Tapi itu memang benar kau adalah penggemar.”

“… Ya.”

“Terima kasih. Untuk menjadi penggemarku. … Tapi sekarang diriku yang dulu sudah lama hilang,” kataku dengan jelas.”Bocah di TV yang bisa menarik perhatian publik dan membuat banyak orang tertawa dan menangis telah menghilang, hanya meninggalkan seorang siswa SMA biasa. Maaf, tapi kau bisa berharap semaumu tapi tetap tidak akan ada lagi.”

Karena aku jatuh ke tingkat pingsan setelah hanya melakukan sedikit akting. Dia adalah penggemar lamaku, tetapi aku bahkan tidak akan bisa melakukan bantuan kecil untuknya jika dia meminta.

“Dan kau benar-benar tidak keberatan dengan itu …?”

Aku menggaruk pipiku karena pertanyaan Shirokusa.

“Bukan masalah apakah aku keberatan atau tidak, tapi, yah, memang benar bahwa aku tidak bisa lagi melakukan sesuatu yang substansial. Karena itu jujur ​​saja, ini masalah besar bagiku kalau orang ingin mengorek masa laluku. Karena aku tidak akan bisa melakukan apa pun untuk memenuhi harapan mereka.”

“Tapi kau masih berencana untuk tampil bersama dengan Kai-kun?”

“Yah, mungkin lebih baik untuk berhenti sekarang karena aku sudah benar-benar pingsan, tapi kupikir saranmu sangat menarik, Kachi. Aku ingin mencobanya.”

“Begitu… ya…”

“Aku sekarang sudah kembali ke titik awal. Tidak, mengingat aku tadi pingsan, aku mungkin lebih jauh di belakang. Tetap saja, rasanya benar-benar bodoh untuk terus memikirkan sesuatu yang aku tahu bisa aku lakukan di masa lalu, dan aku masih ingat betapa menyenangkannya dulu ketika aku berakting. Jadi saat ini tidak peduli betapa memalukannya, aku hanya akan mencoba lagi dengan semua yang aku miliki.”

Aku tersenyum lebar. Mata Shirokusa terbuka lebar tetapi sebaliknya dia tidak menggerakkan otot.

Aku pikir aku melihat pipinya memerah. Itu bisa saja merupakan efek dari matahari yang terbenam.

“Ada alasan … untuk semua ini, kan?”

“Hm? Alasan?”

“Alasan mengapa kau menjadi seperti ini. Alasan mengapa kau berhenti.”

“Oh … Kau bertanya tentang itu, ya …?”

“Kalau kau tidak keberatan, aku ingin tahu. Itulah – hadiah yang aku inginkan.”

Begitu ya. Tentu saja. Untuk seseorang yang pernah menjadi penggemarku, menghilangnya aku secara tiba-tiba dari layar televisi pasti sulit diterima bahkan sekarang.

Itu adalah kebenaran yang tidak diungkapkan kepada publik untuk menjaga penampilan Ibu dalam drama. Itu bukan sesuatu yang aku benar-benar merasa harus aku sembunyikan jika Shirokusa diam tentang hal itu, jadi aku kira tidak apa-apa untuk memberitahunya kalau itu akan berfungsi sebagai kompensasi.

“Apakah itu sesuatu yang tidak bisa kau bicarakan?” Shirokusa bertanya dengan gugup namun dengan tekad.

“Tidak, aku bisa. Akan sangat buruk kalau kabar tersebar, jadi–”

“Itu benar. Aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Aku bersumpah pada Dewa Cerita.”

“Siapa itu…?”

Apakah Dewa Cerita adalah seseorang yang bisa dilihat oleh semua pengarang?

“Hanya seseorang yang diceritakan seorang teman kepadaku. Dewa yang sangat plin-plan dan kejam. Tapi dia menjawab orang yang bekerja keras dan bisa sangat baik.”

“Ooh.”

Aku tertarik untuk mengetahui siapa teman itu, tetapi aku tidak bertanya.

“Aku tidak akan memberitahu siapa pun, jadi katakan padaku. Alasan kenapa kau pensiun, Maru-kun.”

“… Baiklah.”

Aku menceritakannya dengan singkat. Aku akan benci menambahkan lebih banyak cerita berlebihan untuk mendapatkan simpati atau dengan aneh melukis diriku sebagai pahlawan yang tragis, jadi aku dengan gamblang menceritakan kisah itu kepadanya.

………………

………

……

“…… Jadi begitu,” Shirokusa berbisik singkat setelah mendengarkan semuanya.”Aku akhirnya mengerti mengapa orang yang terlibat tidak mengatakan apa pun.”

“Kau berkeliling menanyai mereka …?”

Seperti yang diharapkan dari seorang gadis pengarang SMA cantik pemenang penghargaan Akutami yang juga muncul di televisi. Koneksi dan langkahnya tidak masuk akal.

“Kurasa … mungkin itu tidak bisa dihindari …”

“Hah? Apa yang baru saja kau …”

Aku menutup mulutku sebelum aku selesai bertanya. Dari mata Shirokusa, air mata besar datang dan jatuh.

” Hiks–”

Seorang pria kacau jika seorang gadis menangis.

Jelas aku harus meminta maaf di sini kalau aku mengatakan sesuatu yang buruk, tetapi aku tidak melakukannya, bukan? Apa yang harus aku lakukan ?!

” Pada saat-saat seperti ini … kau seharusnya memeluknya!” Adalah apa yang akan dikatakan Tetsuhiko.

Ooh, ya, mungkin itu benar-benar kesempatanku untuk melakukan hal itu. Aku juga merasa ingin memeluknya.

“ Bukankah ini luar biasa? Apa yang bisa lebih penting bagi manusia, daripada jujur ​​pada perasaanmu sendiri? Kau masih mencintai Shirokusa! Bercintalah, jangan perang! Cinta akan menyelamatkan dunia! Hentikan semua urusan balas dendam yang keji ini, dan cepatlah peluk dia!” Malaikat pundakku berbisik di telingaku.

Kemudian iblis pundakku mendesis.

Kau melihat mereka dari panggung, bukan? Abe dan Shirokusa, bersebelahan. Kau tahu begitu kau melihat mereka. Keduanya pacaranMenurutmu apa yang akan terjadi kalau kau mencoba memeluknya sekarang? Kau akan dikirim terbang, dan mulai besok Shirokusa akan berada di misi untuk memusnahkanmu. Itu juga berarti bahwa semua orang akan tahu kalau kau mencoba memeluknya. Siapa tahu, mungkin Abe akan menyebarkan berita juga. Akankah kau masih memiliki keberanian untuk muncul di sekolah?”

Astaga! Kekuatan bujukan Iblis-san tidak bisa diabaikan! Malaikat-san kalah telak.

Tetap saja …”

Aku memikirkannya lagi. Argh, aku sangat buruk dengan gadis-gadis seperti ini.

Gadis-gadis cantik yang berbakat, pekerja keras, dan layak aku hormati … mereka adalah tipeku. Tidak masalah apakah mereka lebih tua dariku atau lebih muda. Dibandingkan dengan sejenisnya yang imut dan mencari perhatian, aku jauh lebih rentan terhadap wanita kuat yang memiliki kepercayaan diri. Maksudku, memandang mereka hanya membuatku ingin membantu mereka dan mewujudkan impian mereka, kau tahu?

Huh … Seandainya saja aku tahu dia penggemar sebelumnya …”

Mungkin aku kemudian bisa mempersingkat jarak di antara kami lebih cepat.

Aku tentu tidak ingin berpegang teguh pada kejayaan masa laluku, karena aku telah berhenti menjadi aktor cilik. Tetapi kalau aku tahu saat itu seperti aku sekarang bahwa ada dasar yang jelas untuk kasih sayangnya kepadaku, aku mungkin akan dapat berbicara dengannya jauh lebih tegas. Karena dia selalu bersikap tegas terhadap laki-laki, aku tidak bisa memercayai kebaikan sesekali yang dia perlihatkan padaku.

” Apa yang sedang terjadi …? Apakah ini rasanya seperti bertemu lagi dengan seorang gadis yang kau sukai di reuni kelas yang akan datang, dan mendengarnya memberitahumu bahwa ‘Aku menyukaimu saat itu’ …?”

Kami bertemu secara kebetulan. Pengaturan waktu kami tidak aktif. Kalau saja nasibku sedikit berbeda, mungkin kebahagiaan pasti sudah menemukan jalan ke depan pintuku.

Hidup benar-benar penuh penyesalan.

“Ini…”

Shirokusa mengulurkan kepadaku plot yang dia sita sementara, sambil menyembunyikan wajahnya yang basah.

“Aku mendapat upahku, jadi …”

“Oh, tentu…”

Segera setelah aku mengambilnya, Shirokusa, dengan masih memalingkan muka, berdiri dari kursinya dan menuju pintu keluar. Tapi mungkin karena dia mengeringkan matanya dengan sapu tangannya, dia terhuyung sedikit setelah menabrakkan kepalanya lebih dulu ke pintu ruang kesehatan.

… Tampaknya Shirokusa memang bisa sedikit janggal.

Aku tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk dikatakan pada Shirokusa, dan hanya bisa melihatnya kembali menghilang.

“O – i, Sueharu∼. Aku membawa barang-barangmu–!”

Tetsuhiko masuk dengan lega karena Shirokusa sudah keluar.

Terkadang memanggilku keras kepala, tetapi bahkan aku tahu.

“Kau selama ini berdiri menguping di luar pintu, bukan?”

“Wow, bagaimana kau tahu itu? Apakah besok akan turun salju?”

“Kau benar-benar berpikir aku idiot, bukan?”

“Ya – itu – benar!”

“Aku harus mengatakannya, tetapi lebih baik kau tidak menyebarkan alasan mengapa aku pensiun, oke? Jika tidak, itu akan sangat merepotkan, dan bukan hanya untukku, oke?”

Tetsuhiko menggaruk bagian belakang kepalanya dan mendesah secara dramatis.

“Aku tahu, kawan. Bahkan aku bisa membedakan antara apa yang boleh aku lakukan atau tidak.”

“… Baiklah kalau begitu.”

“Tapi, kau tahu…”

Tetsuhiko mengalihkan pandangannya ke sisi lain dari pintu tempat Shirokusa baru saja menghilang.

“Aku pikir itu hanyalah salah satu delusimu…”

“Apa itu?”

“Kachi benar-benar menyukaimu, ya? Aku tidak bisa mempercayainya. Secara jujur.”

“… Kau juga berpikir begitu?”

Tetsuhiko mengangguk dengan ekspresi muram.

Tapi hanya sejauh itu keseriusannya.

Pundak Tetsuhiko bergetar untuk sementara waktu ketika dia tampak berusaha menahan tawanya, sampai dia tiba-tiba terkekeh sambil menghadap ke langit-langit dan kemudian berteriak.

“Raaasaiiiiin! Tidak disangka kau membiarkan ikan sebesar itu lolos dari genggamanmu, apa kau iiiiiidiottt? Inilah tepatnya mengapa kau masih perjaka, mengerti?”

“Grrr, Tetsuhiko … kau bajingan …”

“Oh yah, sayang sekali. Kalau kau atau Kachi sedikit lebih tegas dalam tindakan kalian, kalian berdua bisa jadi pasangan. Tapi itu jelas tidak terjadi, itu sebabnya dia dibawa pergi.”

Pukulan di tempat yang sakit, aku menggertakan gigi geraham satu sama lain.

” ………… Sialan!”

Itu menyebalkan, tapi apa yang dikatakan Tetsuhiko tidak salah. Itu salahku karena tidak bergerak, meski Shirokusa juga tidak membantu di seperempat itu. Begitulah cara kami sampai pada situasi saat ini.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan? Kau masih akan tampil denganku dan mengalahkan Abe-paisen, kan? Lalu kau akan mengambil Kachi kembali setelah itu?”

“Tidak, aku tidak akan membawanya kembali, aku akan membuatnya jatuh cinta padaku sebagai gantinya! Sekarang bukan dengan cara itu aku harus mendapatkan balas dendamku terhadap orang yang menghancurkan cinta pertamaku ?! –Guh!”

Tetsuhiko menyeringai seperti kucing.

… Ugh, Kuroha adalah satu-satunya orang yang pernah kubicarakan tentang itu. Aku baru saja mengatakannya karena panas saat itu.

Tetsuhiko meletakkan tangannya di pundakku saat aku memeluk kepalaku dengan kedua tanganku.

“Ah, kau tahu, aku sejujurnya sudah tahu, jadi kau tidak perlu menyembunyikannya.”

“Itu benar-benar membuatku kesal dengan betapa bagusnya intuisimu.”

“Jadi tentang bagaimana kau ‘tidak membawanya kembali, dan akan membuatnya jatuh cinta padamu’, aku menduga Shida-chan adalah orang yang menyarankannya?”

Tenggorokanku tersedak.

“… Bagaimana kau tahu?”

Jujur sangat membantu bahwa Tetsuhiko memiliki intuisi yang bagus, tetapi pikiranku yang diintip secara sepihak tidak terasa bagus sama sekali.

“Juga, aku pikir hal balas dendam yang kau rencanakan ini agak bodoh, dan itu sangat bodoh sekali sampai aku merasa malu hanya dengan melihatnya, tapi–”

Aku sangat marah dengan kritik Tetsuhiko yang tidak disembunyikan.

Memang benar apa yang aku lakukan itu bodoh. Tetapi aku tidak punya niat untuk berhenti.

Jadi aku membuka mulut untuk membalas, tapi–

“Tetsuhiko, kalau kau punya masalah–”

“–Aku kira mungkin kau bisa mengatakan itu tidak bisa dihindari karena ini cinta pertama?”

Aku segera tutup mulut.

“Itu sebuah kutukan, jadi tidak ada yang bisa dilakukan kalau kau ingin membalas dendam. Aku selalu mengatakan wanita adalah makhluk yang ada untuk menipu pria, tetapi bahkan aku tidak berpikir mereka akan bertindak sampai menghancurkan cinta pertama.”

Itu tidak terduga. Aku tidak pernah berpikir Tetsuhiko dan aku berbagi perasaan yang sama.

Aku tidak berpikir aku akan mempunyai pikiran yang sama dengan pria yang bermain-main dengan wanita yang berbeda, namun memandah rendah mereka. Tetapi bahkan Tetsuhiko berpikir cinta pertama adalah hal yang istimewa, ya?

Setelah ditolak, aku sekarang tahu. Cinta pertama itu memang istimewa.

Maksudku, bukankah itu luar biasa ?! Itu sangat menarik, dan memberimu motivasi seratus kali lebih banyak! Hanya memikirkan gadis itu sudah membuatmu kehilangan semua keletihan dan ingin melakukan push-up tanpa alasan!

Tapi itu karena itu adalah cinta pertama. Lain kali kau mencintai seseorang, kau tidak akan memiliki kepercayaan diri untuk jatuh ke depan dengan sepenuh hati seperti sebelumnya.

Karena saat itu kau tidak tahu seberapa besar rasa putus cinta bisa menyakitkan. Cintamu berikutnya mungkin akan menjadi kegembiraan yang dihantui dengan rasa takut patah hati. Kau tidak bisa lagi polos atau gegabah. Mungkin begitulah orang dewasa saling mencintai.

“Tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”

“Apa itu?”

“Katakanlah kau memiliki kotak peralatan dengan kekuatan untuk melakukan apa saja, oke?”

“… Hah? Kotak peralatan?”

Aku tidak bisa mengerti kata-kata yang keluar dari mulut Tetsuhiko. Apa yang ia katakan tadi?

“Dengarkan saja, kawan. Jadi bagaimanapun, sepertinya kau juga bisa mendapatkan peti harta karun yang kau dambakan. Namun, kalau kau mengambil peti harta karun, kau harus membuang kotak peralatan yang kau pegang. –Jadi, antara kotak peralatan serba guna dan peti harta karun yang kau dambakan, mana yang akan kau pilih?”

“Tsk-”

Apakah aku seharusnya menganggap itu berarti bahwa kotak peralatan serba guna adalah Kuroha, dan peti harta karun yang aku dambakan adalah Shirokusa …?

“Yah, aku–”

Tidak ada kata-kata yang keluar selain itu. Segera setelah debat yang berkecamuk di dalam kepalaku tampaknya menuju pada kesimpulan yang mendukung suatu pihak, suara-suara yang berlawanan akan muncul dari dalam untuk meniadakannya.

“Aku-”

“Yah, mari kita tinggalkan saja di sana untuk saat ini.”

Tetsuhiko mengangkat bahu dengan jengkel.

“Bagaimanapun, Sueharu, ini benar-benar bukan waktu terbaik bagimu untuk pingsan. Itu benar, bukan?”

“… Benar.”

Tetsuhiko melemparkan tasku ke tempat tidur.

“Baiklah, saatnya pulang. Segalanya menjadi sedikit tidak nyaman di sana, jadi aku akan membuat Shida-chan mengikutimu pulang. Aku akan pergi ke toko terdekat untuk menyalin plot Shirokusa, jadi tunggu aku sampai aku kembali.”

“Baiklah.”

“Juga, kita akan mengadakan pertemuan tentang rencana besok, dan mulai berlatih serius sehari setelahnya. Tinggal sepuluh hari lagi sampai festival budaya. Tidak ada waktu untuk istirahat, oke?”

“Tentu saja.”

Setelah memastikan Tetsuhiko telah meninggalkan ruang kesehatan, aku mulai menghubungi Kuroha di ponselku.

 

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded