Osananajimi ga Zettai ni Makenai Love Comedy – Volume 1 – Chapter 2 – Bagian 2 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!
Loading...

Volume 1 – Chapter 2 – Bagian 2 – Ini cinta pertama jadi apa boleh buat

 

 

Bagian 2:

“Baik, dengan ini aku ingin memulai Pertemuan Meja Bundar ke-23 dari Perkumpulan Apresiasi Hiburan, tapi …”

Ruang Rapat 3 di gym sekolah.

Itu pernah disebut Ruang Rias Teater, tetapi Klub Teater telah bubar tujuh tahun yang lalu karena kurangnya anggota. Sejak saat itu menjadi Ruang Rapat 3, dimana siswa diizinkan untuk meminjamnya secara bebas dengan izin dari OSIS. Untuk itu Tetsuhiko telah diberikan penggunaan istimewa ruangan segera setelah pembentukan Perkumpulan Apresiasi Hiburan, dan kami telah menggunakannya sejak itu untuk mempersiapkan fondasi bagi kemajuan klub. Hari ini tidak berbeda.

Tapi-

“Jadi Haru, apa yang kau katakan adalah bahwa kau berencana untuk menemukan kelemahan Abe-senpai, lalu memaparkannya kepada orang lain?”

“Tepat sekali! Setiap orang memiliki satu atau dua rahasia yang ingin disembunyikannya, bukan? Aku akan membiarkan seluruh dunia tahu rahasianya! Dengan begitu tidak mungkin Shirokusa akan lolos juga! Semua orang akan berbicara tentang penilaiannya yang mengerikan, tentang bagaimana dia seorang wanita yang tidak berguna yang tertangkap oleh seorang pria yang tidak berguna juga! Keduanya akan mencapai titik terendah! Oh, itu akan menjadi rencana balas dendam terhebat yang pernah ada! Heheheh! Terkadang kejeniusanku bahkan membuatku takut sendiri! ”

Kuroha dan aku sedang mendiskusikan sesuatu yang lain – rencana balas dendam cinta pertama kami dengan sungguh-sungguh.

“H-Hei, Sueharuuu, Shida-channn …”

Panggilan putus asa Tetsuhiko tidak pernah mencapai telingaku.

Aku tidak bisa menunggu bahkan sedetik pun untuk membahas rencana dengan Kuroha yang telah kuformulasikan sebelumnya dengan gelisah selama kelas. Namun, karena sifat dari subjek, maka aku tidak punya pilihan selain menyempurnakan skemaku sendiri.

Tetapi sekarang sekolah akhirnya berakhir. Ruang Rapat 3 terpencil dan sepenuhnya kedap suara. Tidak ada tempat yang lebih cocok untuk diskusi kami, lalu aku dengan bersemangat mengungkapkan rencana besarku kepadanya setelah merahasiakannya begitu lama.

“… Haru, Tetsuhiko-kun memanggilmu, apa kau yakin ingin mengabaikannya?”

“Hah? Tetsuhiko? ”

Aku mendongak dan memang melihat Tetsuhiko berdiri di depan papan tulis.

“Sejak kapan kau ada di sini?”

Dia belum ada di sana ketika aku membawa Kuroha. Terlalu asyik dalam percakapan, aku benar-benar gagal memerhatikannya.

“Kau terlalu dalam, kawan. Sadarlah.”

Sial, apa kami harus berhenti sekarang? Mengingat betapa sensitifnya informasi ini, aku benar-benar tidak bisa membiarkan Tetsuhiko mendengarnya. Aku baru saja masuk ke alur juga …

“Tetsuhiko, apa kau bisa pergi ke tempat lain? Kuroha dan aku sedang mendiskusikan sesuatu yang penting. ”

“Eh, apa kau lupa siapa yang memesan tempat ini?”

“Ayolah, tidak bisakah kau lepaskan hanya untuk hari ini? Kau juga tidak akan melakukan sesuatu yang produktif. ”

“Haaah?”

Alis Tetsuhiko berkerut.

“Festival budaya akan segera tiba, kawan. Kita seharusnya memutuskan hal apa yang akan kita lakukan hari ini. ”

“Putuskan saja sendiri. Rencananya semula adalah kau akan mengadakan pertunjukan tunggal, kan? ”

“Apa kau benar-benar tidak akan tampil, Sueharu?”

“Aku hanya membantu karena kau meminta ketika aku luang. Seperti yang sudah aku katakan berkali-kali sebelumnya, aku tidak punya niat untuk naik ke atas panggung. Baiklah, cukup. Aku berjanji untuk membantumu nanti, jadi tolong, pulanglah. Baik, Kuro, seperti yang aku katakan– ”

Pow! Kepalaku dipukul. Rasanya sakit sekali. Aku membentak.

“Keparat! Apa yang kau lakukan?”

“Yah, aku tidak akan memukulmu kalau kau tidak mengatakan hal-hal itu untuk membuatku marah duluan, kau belatung lemah!”

“Kenapa kau bertingkah begitu? Ini bukan waktunya, tolol!”

“Dengar, aku tahu kau ditolak, oke ?! Aku bisa tahu banyak, dasar sampah! ”

“………………………… Bagaimana kau tahu?”

Saat mataku membulat, Tetsuhiko menggaruk kepalanya dan melihat ke Kuroha untuk berbicara.

“Kau terlalu mudah dibaca, Haru. Tetsuhiko-kun memiliki intuisi yang bagus. Aku pikir dia akan tahu. ”

“Serius? Yah, kau salah. ”

“Sueharu, cukup. Itu terlalu jelas. ”

“Yah, kau tetap salah.”

“Kenapa kau harus menjadi aktor jelek seperti itu … Shida-chan, apa kau tahu?”

“Haru selalu seperti itu dalam urusan pribadi.”

“Yah, mungkin itu mekanisme penanganannya.”

Tetsuhiko dengan lembut berdeham.

“–Jadi, Sueharu, aku sudah tahu apa yang terjadi. Kau hanya berusaha menyembunyikannya. Jangan khawatir, aku tidak akan memberi tahu orang lain. ”

“K-Kau yakin tentang itu, Tetsuhiko?”

“Tentu saja. Kita teman, bukan? ”

Tetsuhiko meletakkan kedua tangannya di pundakku dan menatapku dengan mata penuh simpati.

Mataku berkaca-kaca dalam emosi.

“Tetsuhiko … kau …”

“Hanyaaaaaa bercanda! Heheheh, bagaimana mungkin aku bisa menyimpan sesuatu yang begitu menarik sendiri — ack! ”

Di sana dia langsung menunjukkan warna aslinya!

“Aku akan membunuhmu!”

“Lakukanlah! Aku akan memberi tahu semua orang sebelum aku mati, hahahaha! ”

Kuroha menghela nafas dan merobek kantong keripik kentang yang kuberikan padanya sebagai upeti. Dengan kepirik di satu tangan, Kuroha mulai mengutak-atik teleponnya di tangan lain, tidak menunjukkan tanda-tanda bergerak untuk menghentikan kami.

“Kalau kau melakukan itu, aku akan memberi tahu setiap pacar baru yang kau dapatkan tentang riwayat hubunganmu!”

“Apaaaaaa ?! Sueharu, kau pengecut! ”

“Hmpf, kau berbicara dengan seorang pria yang telah menguasai seni berlutut! Aku sudah menyeka nurani apa pun yang pernah aku miliki dan melemparkannya ke toilet!”

“Hah? Aku telah diberitahu dengan sangat serius untuk bunuh diri oleh lebih dari seratus gadis, kau pikir kau memiliki peluang untuk melawanku? ”

“Sangat mudah. Aku bisa menelanjangi diri dalam tiga detik. Bagaimana tentang itu? Apa kau bisa?”

“Pfft, aku akan menjilat tumit wanita kalau itu berarti aku bisa memasukkannya ke dalam tanpa harus bicara. Aku menang, kan? ”

“Sungguh, kalian berdua idiot …”

Kuroha menghela nafas lagi dan dengan lancar mengulurkan sekantong keripik kentang di antara kami berdua.

“Kalian mau?”

“Ya!”

Tertarik oleh rasa lapar, kami bertiga tanpa kata mengunyah keripik kentang.

“Oh, Shida-chan, seragam badmintonmu terlihat sangat imut.”

“Terima kasih.”

“Apa kau melewatkan pelatihan?”

“Aku membawanya pergi tepat saat akan dimulai.”

“Ooh, kau sangat memaksa, Haru.”

“Itu karena aku tidak sabar untuk berbicara denganmu.”

Haah, bukankah kau sudah memberitahuku untuk datang ke tempatmu setelah klub? Kau lebih baik minta maaf pada kapten nanti, Haru. ”

“Oke, aku akan. Aku akan berlutut dan meminta maaf. ”

“Kau benar-benar mematikan, Sueharu. Aku merindukan kemampuan spesialmu itu. Lebih penting lagi, kau harus bergabung dengan Perkumpulan Apresiasi kami, Shida-chan. Kami berdua benar-benar tidak cukup untuk melakukan apa pun di festival budaya. ”

“Aku pikir aku akan menunda untuk saat ini. Bukannya aku sangat antusias dengan klub atau semacamnya, tapi aku punya rencana lain sekarang. ”

“Oke~”

Aku memanfaatkan celah yang dibuat oleh Kuroha yang berbicara dan mengambil segenggam keripik kentang, menikmati rasanya saat aku membuangnya ke mulutku sekaligus, tapi–

“… Tunggu, apa? Apa kita sedang membicarakan sesuatu yang lain sekarang? ”Aku berbisik setelah kembali ke dunia nyata.

“Kau baru sadar, ya?”

“Haru … Itu sedikit …”

“Jangan lihat aku seperti anak kecil yang malang!”

Itu menyakitkan.

“Kau terlihat menyedihkan, Sueharu. Bagaimanapun, aku sudah selesai untuk hari itu. Gunakan ruangan sesukamu.” Kata Tetsuhiko, melemparkan kuncinya padaku. Dia bermaksud agar aku membereskan dan mengembalikannya.

“Kau yakin tentang ini?”

“Tentu, kau tidak dalam keadaan mendengarkanku sekarang. Kita tidak punya banyak waktu sampai festival budaya tapi terserahlah. ”

Aneh, Tetsuhiko sangat berbelas kasih … Apa yang bisa membawa perubahan tiba-tiba dalam sikapnya?

Diperlihatkan kebaikan membuatku merasa menyesal. Karena itu aku memberi Tetsuhiko permintaan maaf yang tulus.

“Maaf, Tetsuhiko. Ketika aku sudah tenang aku pasti akan membantumu. ”

“Jangan khawatir tentang itu, kawan.”

Tetsuhiko menyampirkan tasnya di atas bahunya dan meninggalkan ruang pertemuan dengan cahaya yang tidak biasa mengelilinginya.

“Apa dia makan sesuatu yang aneh? Atau mungkinkah itu orang lain yang mirip dia? ”

“Aku pikir kebanyakan orang akan menerima kekhawatiran orang lain setelah ditolak … Kau juga sangat mengerikan, Haru.”

Bagaimanapun kami sekarang telah mendapatkan ruangan di mana kami berdua bisa berbicara sendiri tanpa menahan diri. Aku mengalihkan pembicaraan kembali ke topik balas dendam.

“Seperti yang aku katakan, Kuro, apa yang kau pikirkan tentang rencanaku? Jika aku mengungkapkan titik sakit Abe, orang akan berpikir buruk tentang Shirokusa juga. Itu membunuh dua burung dengan satu batu, kan? ”

Kuroha terlihat imut saat dia berpikir dengan satu jari menekan dagunya.

“Yah, sejujurnya … itu bukan ide yang buruk.”

“Baiklah!”

“Apa yang kita cari adalah ‘balas dendam penghabisan’, Haru. Aku pikir solusi terbaik adalah yang kau temukan paling mudah, jadi tentu saja aku akan mempertimbangkan pendapatmu, tetapi kita bisa pergi ke arah lain juga. Menemukan sesuatu yang akan menyakiti orang yang paling kita benci. Itu mungkin pendekatan yang paling sederhana. ”

“Begitu ya!”

“Untungnya kau tidak memilih pertengkaran kikuk dengan Abe-senpai. Memilih pendekatan ini mungkin pengecut, tetapi juga lebih efektif. Dari apa yang aku dengar, Senpai kurang lebih adalah manusia super yang sempurna, jadi kau akan sangat dirugikan kalau kau menyerang secara langsung. ”

“Aku tahu kau akan mengerti, Kuro.”

Kuroha dengan cerdik membaca niat di balik rencanaku. “Seperti yang diharapkan dari seorang teman masa kecil,” aku seharusnya mengatakan itu.

Tetapi pada saat ini ekspresi Kuroha jadi serius.

“Tapi itu juga agak naif, kurasa. Aku bisa melihat setidaknya dua masalah potensial dengan rencanamu. ”

“A-Apa?! Masalah apa ?! ”

“Masalah pertama adalah bahwa rencana balas dendammu memiliki risiko yang luar biasa. Dalam proses mencari kelemahan Abe-senpai, misalnya … kau bisa ketahuan menguntitnya dan dipukuli sampai babak belur. Bahkan kalau kau pada akhirnya berhasil dan menemukan apa yang kau cari, satu langkah yang salah dan orang-orang dapat mengetahui metode licikmu, membuatmu lebih buruk pada akhirnya. Karena semua orang sudah memiliki kesan yang baik tentang Abe-senpai, kau harus bersiap untuk pukulan balik, Haru. ”

Itu benar. Mencemarkan nama baik orang lain jujur ​​sangat tercela. Kalau ketahuan, reputasi seseorang pasti akan berakhir di selokan, tanpa jalan keluar yang mudah.

“Tapi, Kuro …”

Aku sudah mempersiapkan diri untuk ini.

“Aku sudah mempertimbangkan itu. Kalau aku tidak mengambil risiko, aku tidak akan pernah bisa membuat penipu seperti Abe lengah. Aku tidak keberatan sama sekali. ”

“… Baiklah. Tapi masih ada satu masalah lagi. ”

“Apa itu?”

“Seperti sekarang, Haru, bahkan jika rencanamu berjalan dengan baik, kau tidak bisa menang. Kau hanya akan kalah. “

… Ya, aku juga tahu itu.

Sukses, tetapi dengan perasaan kosong adalah karakteristik dari cara sebagian besar skema balas dendam berakhir.

Balas dendam lebih berfungsi sebagai mekanisme bagi seseorang yang kalah untuk mempertahankan hasil imbang di mana kedua pemain tersingkir. Itu pasti tidak bisa dianggap sebagai kemenangan.

“Kita tidak bisa menyebut itu balas dendam, bukan?”

“… Kau benar. Tapi apa yang harus aku lakukan? ”

“Oh, itu mudah.”

Kuroha membungkus tanganku dengan tangannya.

“Kau harus menemukan kebahagiaanmu sendiri, Haru. Kalau kau sampai di sana, itu berarti kau pada akhirnya menang, bukan? ”

“Begitu ya … Kau benar, Kuro. Tapi kebahagiaan, ya … ”

Aku tidak bisa memikirkan kata lain lebih jauh dari apa yang aku rasakan saat ini.

Ketika api balas dendam membakar dalam diriku dan aku berbaring di lumpur pengecut, kebahagiaan terasa seperti itu hanya dapat ditemukan di planet lain.

Tetapi untuk sesaat, sebuah gambar muncul di benakku.

“Kau baru saja memikirkan sesuatu yang bahagia, bukan? Apa itu?” Bisik Kuroha, membaca hatiku seperti buku. Sayangnya aku tidak bisa langsung menjawabnya.

Meskipun ditolak, Kuroha masih menyimpan perasaan untukku.

Secara singkat aku bertanya-tanya apakah itu benar-benar sesuatu yang harus kukatakan padanya, tapi kemudian aku ingat bahwa aku sudah menunjukkan sepenuhnya ketidakberdayaanku pada Kuroha malam itu di tepi sungai. Karena itu aku merasa lagi seolah tidak punya alasan untuk menyembunyikan sesuatu dari Kuroha, dan memberitahunya apa yang telah kulihat.

“Aku membayangkan Kachi mengaku padaku.”

Sementara aku telah memutuskan untuk membalas dendam, perasaanku untuk Shirokusa masih tetap seperti yang diharapkan. Meski menjengkelkan dan menyedihkan, itulah yang benar-benar kurasakan.

“Tentu saja aku masih marah dan ingin membalas dendam! Tapi … aku memang idiot, kan … ”

“Yup, benar-benar idiot.”

Kata-kata Kuroha yang tidak terkekang menembus hatiku.

“Ack … aku tahu! Aku tahu, oke! ”

“Tapi bukan berarti aku tidak mengerti.”

Kuroha menekan dahinya erat-erat ke lenganku.

Aku merasa diriku dipenuhi dengan penyesalan.

Aku menimbulkan rasa sakit yang Shirokusa berikan padaku pada Kuroha, namun dia tidak mengatakan sepatah kata pun.

“Bagaimana kalau kita berdua berpura-pura menjadi kekasih?”

“!?”

Aku tidak bisa melihat motif sebenarnya di balik saran Kuroha yang tidak terduga itu.

Lebih penting lagi, bukankah ini akan lebih menyakiti Kuroha? Tapi setelah menyarankannya sendiri, apa yang sebenarnya diinginkan Kuroha?

Mungkin membaca yang tidak bisa kukatakan dari ekspresinya, Kuroha dengan ramah menjelaskan dirinya kepadaku dengan cara seseorang mengajari anak kecil.

“Aku pikir, kalau kau kehilangan cinta, cara terbaik untuk kembali adalah dengan menang dalam cinta.”

“Y-Yah itu mungkin benar …”

“Hal terpenting dalam hal-hal semacam ini adalah menarik perhatian targetmu. Kachi-san membenci pria tetapi menunjukkan sisi lembutnya padamu. Itu berarti kita dapat mengasumsikan bahwa dia menyukaimu sampai batas tertentu, bahkan mungkin cukup untuk menganggapmu pilihan alternatif. ”

“Be-Begitu ya…”

“Jadi ketika dia mendapatkan pilihan pertamanya, dia kemudian berpikir tentang memutuskan hubungan denganmu, tetapi saat dia akan memutuskannya, dia melihatmu dengan orang lain … Apa yang akan dia lakukan, terutama jika kekasih barumu adalah seseorang yang seimut aku? ”

“Kau tahu, kadang-kadang kau bisa terlalu percaya diri.”

“Lalu aku tidak imut?”

Kuroha menggelepar dengan lemah, dan melihat ke arahku dengan mata berkaca-kaca.

Sial, kenapa kau harus membuat dirimu terlihat sangat imut, idiot? Bertingkah seperti itu di depan anak SMA itu tidak adil!

“… Baiklah, aku akan mengakui bahwa kau imut.”

“Yay, aku menang.”

Tanda V kemenangan. Aku tidak tahu apa yang dia menangkan, tapi Kuroha tampak sangat senang.

Mengesampingkan hal itu, aku tidak salah mengharapkan sesuatu dari rencana Kuroha. Jika Shirokusa melihat seorang pria yang seharusnya dia jauhi sebagai pengganti tiba-tiba menjadi kekasih gadis lain di tingkat Kuroha, bukankah dia akan berpikir: “Tunggu, aku akan menggunakan dia sebagai rencana B, tetapi apakah aku yang disimpan sebagai pilihan cadangan saja …? “

Ini luar biasa! Ini pasti akan menjadi pukulan yang efektif! Itu persis pukulan memalukan yang telah kucari!

“Tapi apa kau yakin tentang ini? Kau yakin itu tidak akan terlalu sulit bagimu? Jika ada kabar bahwa kau dan aku pacaran, bukankah kau akan dirugikan? ”

Aku adalah seorang idiot. Tentu, orang akan cemburu kalau aku pacaran dengan Kuroha, tetapi kalau Kuroha pacaran dengan seseorang di tingkatku, dia akan ditanyai hal-hal seperti, “Apakah dia mengancammu?” Atau “Apa kau mengasihani dia karena dia teman masa kecilmu?”

… Yah, aku mulai merasa sedih hanya dengan memikirkannya.

Dengan kata lain, jika kami berpura-pura pacaran, aku memiliki segalanya untuk diraih sementara Kuroha tidak punya apa-apa. Apa itu tidak masalah untuknya?

“Ooh, kau benar-benar idiot, Haru.”

“Itu benar, tapi aku masih ingin mendengarmu mencoba meyakinkanku dulu.”

“Itu mungkin bohong, tapi aku masih bisa ‘berpacaran dengan orang yang kusukai’ lo? Bagiku itu hanya hal yang baik. ”

“Oooooh …”

Apa tekanan yang hebat ini ?!

Aku diserang oleh rasa bersalah yang cukup kuat untuk membuat dahiku ingin menyerodok tanah dan ingin meminta maaf, sementara hatiku terasa seperti diperas secara fisik.

Tapi itu sama sekali bukan perasaan yang tidak menyenangkan. Aku merasa sangat senang diberi tahu oleh Kuroha bahwa aku adalah orang yang dia sukai. Ekspresi kasih sayangnya yang tulus membuatku merasa seperti terbang. Aku bingung oleh campuran emosi yang aku rasakan.

… Tunggu, apa? Ada yang tidak beres. Apakah Kuroha selalu seimut ini?

Dengan kepala dimiringkan ke satu sisi, Kuroha tampak tiga kali lebih imut dari sebelumnya. Jantungku tidak bisa berhenti berdegup kencang.

Oke berhenti, ini perkembangan yang berbahaya. Aku terlalu mudah dimanipulasi. Aku terlalu tidak bermoral.

“Apa kau mengatakan sesuatu, Haru?”

“T-tidak, b-beri aku waktu sebentar. Aku agak gelisah sekarang dan aku tidak bisa memikirkan kata-kata yang tepat.”

Aku berbalik membelakangi Kuroha dan berjongkok. Aku menutup kedua telingaku dengan tangan untuk menghalangi suara.

Oke tenanglah, tenanglah. Kau aman di sini. Itu benar, lupakan semua kebisingan dan tenang, seperti kau di depan kamera–

Sementara itu Kuroha membuat dirinya berada dalam jarak menyentuhku dan menjulurkan jari-jarinya di salah satu tanganku. Sambil menarik tangan itu dari telingaku, dia berbisik ke dalamnya dari cukup dekat sehingga aku bisa merasakan napasnya.

“Kau tahu, kau harus memberi tahu kakakmu semua yang kau rasakan saat ini, Haru.”

“Eekkkkkkkkkkkkkkk!”

Punggungku bergidik. Aku merasakan peniti dan jarum melesat ke ujung jariku.

Aku melompat dengan sekuat tenaga.

“Kuro! Aku bilang, ini berbahaya, sangat berbahaya! ”

“Apa?”

Aku tidak bisa menangani daya pikat aneh dari provokasi Kuroha ketika dia dalam mode kakak sadis.

“… Kau sudah tahu itu, sialan.”

“Ahaha, kau sangat imut, Haru.”

Dengan sedikit celah, aku kehilangan akal sehat.

Didorong ke sudut oleh tekanan psikologis dan rasa bersalah, bisikan dan napas seperti mentega cair telah menyebabkan sebagian besar kemampuan mentalku untuk menutup. Pengalaman lebih lanjut dengan sepenuhnya dipermainkan dengan diberi tahu bahwa aku imut dengan mata yang terbalik menyebabkan segala sesuatu yang masih berfungsi untuk terbakar secara spontan.

Kemarahan dan ketidaksabaran muncul dalam diriku. Tapi sebagai seorang lelaki, aku memilih untuk tidak menggunakan kekerasan, sebaliknya melawan dengan berani memberitahu Kuroha bagaimana perasaanku yang sebenarnya.

“ Kaulah yang imut, idiot! Itu sebabnya aku akan sangat malu bahkan jika kita hanya berpura-pura pacaran! Tentu, aku akan sangat gembira, tapi itu sangat mengerikan, bukan begitu ?! ”

“Oh … aku minta maaf.”

Kawan, cewek benar-benar tidak adil, ya? Mereka terlihat sangat imut ketika mereka malu, dan kemudian kau tidak bisa marah dengan mereka lagi.

“Oh, tidak, akulah yang seharusnya meminta maaf …”

“T-tidak, hanya saja aku belum pernah benar-benar mendengar kau mengatakan bahwa aku imut sebelumnya, Haru, jadi … Aku agak malu …”

Gah, inilah tepatnya yang aku bicarakan! Dia terlalu imut!

Tentu saja aku berhenti benar-benar mengatakan itu, berusaha sekuat tenaga untuk melanjutkan serangan balikku.

“Aku tahu kau mencoba memprovokasiku, Kuro, tapi tolong, aku tidak bisa menahannya, jadi berikan hatiku istirahat! Kau membuatku goyah! ”

“H-Haru, kau terlalu langsung …”

“Jadi bagaimana kalau begitu ?! Bukankah kau yang bilang padaku untuk memberi tahumu semua tentang bagaimana perasaanku yang sebenarnya? Atau apa kau tidak suka apa yang kau dengar? ”

“Yah, aku, tentu saja aku senang mendengar orang yang kusukai mengatakan itu padaku …”

Ini terlalu berbahaya! Mengungkap perasaan kita yang sebenarnya satu sama lain terlalu cepat seperti ini sangat super berisiko!

Suasana apa ini? Semuanya terlihat merah muda! Kalau kau memberi tahuku bahwa kau menyukaiku begitu santai itu membuat akal sehatku hilang begitu saja!

Aku melirik Kuroha ke samping untuk melihat bagaimana keadaannya, tepat pada waktu untuk menangkapnya melakukan hal yang sama menatapku ke atas.

Itu hanya sesaat, tapi mata kami pasti bertemu.

Waktu kami terlalu sinkron. … Itu memalukan.

Seperti magnet yang saling memukul mundur, kami saling mengalihkan pandangan satu sama lain.

“J-Jadi, aku berasumsi bahwa rencana untuk mempermalukan Kachi-san dengan menyebarkan berita bahwa kita berpacaran, meskipun sebenarnya sebuah kebohongan, disetujui …?”

“Y- ya. Mari kita ikuti saja… ”

“L-Lalu untuk menutup kesepakatan … Haruskah kita berciuman?”

Aku tergagap.

“Oi, Kuro! Kembali! Kembalilah ke dunia nyata! ”

“Tapi, maksudku, bukankah ini sesuatu yang terjadi bersamaan dengan arus? Tentunya sekarang saatnya untuk berciuman, kan? ”

“Astaga … Kupikir aku juga akan gila …”

“Ooh, masih mencoba melawan, kan, Haru …? Ketika aku sudah seperti … ini? Itu tidak adil…”

Bibir Kuroha berkilau dengan indah. Bibirnya yang luas, diwarnai merah, menarik perhatian mataku.

Aku mundur, hanya saja kakiku tersandung kursi, membuatku mendarat di pantat.

“Hehe, Haru yang kikuk.”

Dalam situasi normal, Kuroha mungkin akan mengatakan itu dengan nada jengkel sambil menawarkan tangannya kepadaku tanpa penundaan.

Tapi sekarang suara Kuroha menggoda. Alih-alih mengulurkan tangan, dia berlutut di sampingku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“E-E- Err, Kuro … Bukankah kau terlalu dekat …?”

“Kau pikir begitu…? Mungkin aku…”

Aku mundur dan menjauh darinya dengan pantatku masih menempel ke tanah. Sebagai tanggapan Kuroha mengejarku sementara masih dalam posisi berlutut.

Aku berusaha keras untuk melarikan diri lagi, tapi malah menghampiri dinding tanpa tempat lain untuk lari.

Di sana Kuroha berhenti.

“Uh, Kuroha-san …? Kau menatapku … ”

“Dan?”

Astaga. Dia benar-benar tersesat dalam itu.

“Maksudku, kalau kau bertanya padaku …”

“Serahkan semuanya pada kakak, Haru … Kau sama sekali tidak perlu takut …”

“Yah, aku takut karena aku tidak bisa berpindah lagi …”

“Masih memikirkan hal-hal lain, hmm …? Aku tidak akan membiarkanmu … ”

Suara hati kami meleleh dan bercampur dalam suasana berwarna merah muda beracun.

“Haru–”

Bibir Kuroha mendekat.

Ini mungkin tidak terlalu buruk, pikirku dalam hati. Jika aku menciumnya, aku yakin dunia yang menyenangkan di mana aku bisa melupakan rasa sakitku sedang menunggu.

Tapi-

“- Terima kasih. Mendengar kata-katamu itu membuatku benar-benar senang. Aku sangat senang … bahwa kerja keras yang aku lakukan sampai sekarang tidak sia-sia. “

Denyut keras di dadaku membuatku jatuh kembali ke kenyataan.

“A-aku tidak bisa melakukan ini!”

Aku berdiri untuk melarikan diri.

Tapi papan tulis ada di sana!

Bahkan saat kepalaku terhuyung karena tumbukan yang kuat, kakiku terhuyung-huyung ke kanan untuk mendapatkan jarak dari Kuroha.

“K-Kuro, aku tahu suasananya menjadi sedikit menyenangkan di sana dan aku agak goyah, tapi kita tidak bisa melakukan hal-hal semacam ini sementara keadaan tidak jelas di antara kita!”

“Ooh, jadi kau bimbang, ya …? Itu juga … ”

Pandangan asmara di matanya sudah cukup untuk membuat kepalaku berputar lagi. Suasana umum, yang secara singkat memiliki kemiripan dengan kenormalan, segera menjadi ditutupi oleh rona merah muda.

“Ooh, kau benar-benar tidak tahu bagaimana berbohong, kan, Haru? … Aku sama sekali tidak membenci bagian dari dirimu itu. ”

“Lihat, inilah tepatnya yang aku bicarakan! Jika seseorang yang imut sepertimu memberitahuku bahwa kau menyukaiku atau semacamnya, orang sepertiku tidak akan bisa menanganinya! ”

“Kenapa kau tidak bisa menanganinya, Haru? Apa yang tidak bisa kau tangani? Kenapa kau tidak memberitahuku, hmm …? ”

“Apapun selain itu!”

Astaga, Kuroha benar-benar terlalu berlebihan.

Pada titik ini, satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah untuk–

“Aku keluar dari sini!”

Kabur! Aku meraih tasku dengan kecepatan luar biasa dan meletakkan tanganku di pintu keluar.

“Hei, Haru!”

“Aku akan mendapat info tentang Abe-senpai! Ketika aku selesai, aku akan kembali untuk mengunci pintu, jadi kembali saja ke klub! Terima kasih untuk hari ini, dan sampai jumpa besok! ”Kataku dengan tegas, dan melarikan diri melalui sisi lain pintu.

Pada saat pintu ditutup, aku mendengar Kuroha, yang tetap di dalam, bergumam.

“–Kau payah.”

 

Loading...
Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded