Hon Issatsu de Kototariru Isekai Rurō Monogatari – Chapter 4 Bahasa Indonesia

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Hon Issatsu Chapter 4 – Benteng di Dalam Hutan

 

Terbangunnya aku di pagi hari, datang dari suara yang terdengar dari koridor.

“Misasagi-san~, sarapan sudah siap~”

“Aku mengerti, aku akan turun secepatnya.”

Aku menjawab seolah-olah sedang mencocokkan suara dengan pemilik penginapan. Melihat ke arah jendela, aku menyadari bahwa ini masih gelap.

Apakah pagi hari untuk orang-orang di dunia ini, lebih cepat? Kalau dipikir-pikir lagi, aku juga di bawa ke penginapan ini berdasarkan letak matahari. Mungkin, mereka juga tidur lebih awal di malam hari.

Benar-benar gaya hidup yang sehat. Aku biasanya melakukan kegiatanku pada malam hari, jadi selama ini sulit untukku untuk bangun tidur pada pagi hari.

Sambil merasa takjub pada irama gaya hidup di dunia ini, aku turun ke bawah.

“Selamat pagi. Apakah tidurmu nyenyak?”

“Ya, terima kasih, sangat nyaman. Terima kasih banyak.”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada pemilik penginapan ini, aku pergi ke ruang makan lantai 1.

“Ini akan menjadi menu sarapan hari ini.”

Dia mengatakan menu, jadi aku membayangkan sesuatu yang muncul dari restoran keluarga, tapi ada dua jenis makanan berbeda yang ditunjukkan di atas meja.

Yang pertama adalah roti berbagai macam ukuran dan sup yang layak untuk dimakan, dan buah seperti apel yang berada didalamnya. Yang lainnya, itu adalah makanan hangat yang memiliki beberapa bahan yang direbus bersama. Ketika kau bertanya soal itu kepada pemilik penginapan, sebagian besar petualang memilih yang terakhir.

Hasil dari pemikiranku, aku memesan set roti. Alasannya sederhana, itu hanya karena aku merasa harus memilih iitu.

Sarapan set roti itu benar-benar enak.

Jujur saja, aku tidak berharap banyak, tapi roti itu lembut dan supnya kaya akan rasa, lebih dari itu buahnya memiliki rasa yang khas, dan aku sangat menyukai rasa manisnya. Ketika aku bertanya nama buah itu kepada pemilik penginapan, dia bilang buah itu disebut makor.

Hou, makor. Aku menemukan itu di suatu tempat. Aku mencarinya sambil membalik-balik halaman buku cheat.

Makor tertulis di salah satu buku yang aku beli di kota. Aku sangat menyukainya, jadi aku harus mengutipnya nanti.

“Omong-omong, aku mendapat pesan dari kepala desa. Katanya, setelah sarapan pagi, ia ingin kau datang ke rumahnya. Rumah kepala desa adalah mansion berlantai dua yang besar, jadi aku pikir kau bisa dengan mudah membedakannya.”

“Aku mengerti. Aku akan pergi sekarang.”

He~, aku ingin tau ada perlu apa ia denganku. Setelah mengucapkan terima kasih pada pemilik penginapan, aku pergi meninggalkan penginapan.

【<Makor> telah dikutip】

Aku pergi ke rumah kepala desa sambil memakan makor. Un, ini benar-benar enak. Aku tiba sekitar lima menit dari penginapan. Disana ada seorang perempuan berpakaian pelayan berdiri di depan pintun gerbang.

“Apa anda adalah Misasagi-sama? Kepala desa sedang menunggu anda di ruangan pribadi lantai dua.”

Mengikuti pelayan itu, dan aku sampai di ruang belajar lantai dua. Ohh, ini tidak sebanyak yang ada di toko buku di kota, tapi ada banyak buku yang disusun dirak buku. Apakah ini semua adalah milik pribadi kepala desa?

“Misasaagi-dono, apa anda tidur nyenyak tadi malam?”

“Ya, terima kasih banyak atas bantuannya.”

Kepala desa datang dari belakang ruangan.

“Kalau begitu, tanpa basa basi, ada alasan apa kau memanggilku kemari?”

“Anda adalah orang yang menyelamatkan desa kami, jadi sebisa mungkin saya ingin mengucapkan terima kasih dengan benar, apakah anda memiliki sesesuatu yang anda inginkan? Sebisa mungkin, saya akan memenuhi kenginan anda.”

Betapa baiknya kepala desa ini. Dia membiarkanku menginap semalam di penginapan, namun ia tetap ingin melakukan sesuatu untukku. Tapi, jika ia mengatakan ia ingin memberikan rasa terima kasih kepadaku, aku tidak akan menahannya. Sejak awal hanya ada satu jawaban untuk pertanyaan itu.

“Kalau begitu, bisakah aku mendapatkan beberapa buku disini?”

“Buku… … apakah itu?”

Nn? Ekspresi kepala desa tampak aneh, apakah ada yang salah dengan perkataanku?

“Apa ada masalah?”

“Tidak, biasanya, petualang yang menyelamatkan desa dan kota, mereka akan meminta uang atau makanan dalam jumlah yang besar, dan saya belum pernah mendengar tentang meminta buku, jadi…”

Hmm, biasanya begitu huh. Karena menyelamatkan banyak nyawa, tidak aneh mereka akan meminta hal-hal seperti itu. Tentu saja aku sama sekali tidak akan mentuntut hal lain selain buku.

“Buku-buku yang berada disini, dikumpulkan oleh ayah saya saat masih hidup karena hobi, tapi itu adalah sesuatu yang saya tidak butuhkan lagi. Jika Misasagi-dono menginginkannya, saya akan menyerahkan semuanya, bagaimana?”

“Jika anda bersikeras seperti itu, aku tidak akan menolak!”

Jujur saja, aku ingin mengatakan “Aku ingin semua buku itu”, tapi aku membaca suasanya dan menahannya. Aku mengambil sekitar 15 buku, dan meletakkannya di dalam tas sihir setelah berbincang-bincang dengan kepala desa.

Tentu saja, aku berencana untuk membuat buku cheat menyerap semua buku-buku itu.

Sementara aku melakukan hal itu, aku bertanya kepada kepala desa tentang Orc. Tapi kepala desa ragu-ragu untuk berbicara.

“Orc,kah? Yang saya tahu mereka berasal dari hutan barat, tapi selain itu… …”

Hmm tidak ada informasi huh, kali ini aku harus mencoba pertanyaan lain.

“Lalu, apakah ada sarang Orc di sekitar hutan itu?”

Kepala desa melihat kebawah dan mulai berpikir, lalu mengangkat kepalanya tiba-tiba.

“Ah! Saya ingat. Saya tidak tahu apakah ada sarang atau tidak, tapi sejak lama, ada sebuah benteng di bangun disana. Mungkin saja, itu digunakan sebagai tempat tinggal Orc.”

Bingo. Mungkin saja, itu tempatnya. Yosh, aku harus pergi dan menghancurkannya.

“Terima kasih banyak atas hadiahnya. Sementara itu, aku akan pergi untuk mencari benteng atau semacamnya di sekitar tempat itu.”

“Jadi begitukah, kalau begitu tolong berhati-hati.”

Setelah pencarian berakhir, aku harus kembali lagi ke desa ini. Aku berangkat dari desa sambil memikirkan itu.

Untuk perjalanan kesana, sekali lagi aku menggunakan mobil lapis baja. Aku makan makor selagi mengemudi.

Ahh, aku benar-benar kecanduan dengan itu.

Sampai sekarang, aku mengutip hal-hal lain selain makor hanya sekali.

Mengutip sangat mudah bahkan itu jika tidak digunakan untuk bertempur. Ini luar biasa.

“Aku benarkan? Sungguh, Misasagi-kun kau harus bersyukur dan menghormatiku, kau tau~”

Fuu, sungguh makor yang lezat. Aku harus mengutipnya lagi lain kali

“Eh, kau mengabaikanku? Bukankah itu mengerikan?

Ini sama sekali tidak mengerikan. Kau, setiap saat, selalu saja muncul mendadak.

“Lalu bagaimana dengan kemunculan seperti ini.”

Nnn? Sekarang sebuah suara, kedengarannya berbeda dengan yang sebelumnya…

(TL Note: Bagi yang bingung, biasanya dewa selalu berbicara dengan MC lewat telepati tapi kali ini suaranya terdengar melewati telinga MC.)

Saat memikirkankan itu bahuku dipegang oleh seseorang. Karena terkejut, aku kehilangan kendali mobil lapis baja untuk sesaat, dan mobil itu terguncang kuat. Setelah mendengar suara “Uhyaa!!” dari belakang, aku mendengar ada sesuatu yang jatuh ke lantai. Aku menghentikan mobil dan memeriksa penyebab suara itu.

“Misasagi-kun, bukankah caramu mengemudi terlalu buruk?” itu adalah dewa yang sedang terjatuh ke lantai.

“Kenapa, kau bisa ada di dunia ini? Maksudku, kau bisa datang kesini!”

“Uhmm, tubuh ini adalah tubuh tiruan yang aku buat. Kau tidak akan percaya, tapi aku mengendalikan tubuh ini dari jarak jauh. Sekalipun kekuatanku sendiri terbatas, ini sungguh menakjubkan.”

Ia membuat wajah sombong di hadapanku, tapi kurasa itu tidak mengherankan. Bagaimanapun dia adalah dewa, ia bisa melakukan apapun.

Aku melepaskan tanganku dari kemudi, dan menatap dingin ke arah dewa.

“Mukii! Kau sombong meski kau punya nama yang aneh~.”

Memang benar namaku adalah Misasagi Ryou (陵 陵) adalah nama yang aneh. Tapi, ada apa dengan itu. Aku telah menerima intimidasi nama beberapa kali. Itu sebabnya aku tidak keberatan di beritahu suatu hal tentang itu lagi.

“Namaku tidak ada hubungannya dengan itu kan. Dan, bukankah kau datang kemari untuk suatu alasan?” aku mengatakan itu, dan menusuk dahi dewa dengan jari tengahku.

Sementara berguling-guling dilantai—

“Kejam sekali, kau melakukan kekerasan terhadap perempuan! Tubuh ini juga mentransmisikan rasa sakit kau tau~… …”

Dia mengerang.

Melihatnya dengan seksama, ia sama sekali tidak seperti dewa yang aku tau. Sementara aku memperhatikannya, aku mencoba untuk mengecek statusnya, tapi—

Status dewa tidak muncul.

“Itu wajar kau tau~, Misasagi-kun. Setelah semua ini aku adalah dewa? Aku tidak terikat oleh peraturan dunia ini.”

Ah, jadi begitu. Lalu aku yakin. Dengan apa yang membuatnya datang kemari.

“E~to, aku ingin melihat, berapa banyak monster yang telah Misasagi-kun kalahkan dalam periode singkat ini. Aku memeriksa statusmu, dan itu sangat menarik huh~”

Singkatnya, ia datang hanya untuk membuang-buang waktu. Ha~ aku ingin menendang pantatnya. Setelah dengan ringan memukul setir mobil lapis baja, aku mendecakkan lidahku.

“Baiklah, aku sudah memeriksa statusmu, dan Misasagi-kun sudah tampak ceria jadi aku akan kembali sekarang. Kalau begitu, lakukan yang terbaik Oke~”

Setelah mengatakan itu tubuh dewa menghilang.

Seperti yang sudah kuduga, bukankah ia terlalu banyak memiliki waktu luang? Aku bertanya-tanya apakah ia tidak bisa mencari “Book of God” itu sendiri. Sambil mendesah dalam-dalam, aku memperbaiki posisi dudukku di kursi pengemudi. Bagian dalam mobil menjadi sunyi, jadi sekali lagi aku membuat mobil lapis baja itu berjalan. Setelah itu, tidak ada sesuatu yang terjadi.

Setelah beberapa saat mengemudi, aku sampai di hutan barat. Di dalam hutan, terlihat sangat gelap. Pohon tumbuh dimana-dimana, jadi aku harus berjalan kaki dari sini. Setelah turun dari mobil lapis baja, aku memasuki hutan.

Ahh, betapa sulitnya jalan kaki. Harus kah aku membakar hutan ini dengan buku itu. Ketika aku memikirkan sesuatu yang mengerikan , aku mendengar langkah kaki dari belakangku. Dengan tergesa-gesa aku bersembunyi di balik pepohonan, dan mengintip ke arah darimana suara itu berasal. Suara itu berasal dari Orc.

Jumlah mereka sekitar 10. Melihat dengan hati-hati, beberapa di antara mereka membawa sesuatu. Sepertinya itu adalah seorang manusia dan jenis kelaminnya adalah perempuan. Ah, tapi aku bisa melihat telinga dan ekor hewan, jadi beberapa di antaranya mungkin setengah manusia (demi-human).

Ini waktu yang tepat. Aku harus mengikuti mereka, dan menyerang markas mereka. Akan merepotkan jika para Orc itu menemukanku, jadi mengutip suatu peralatan tertentu.

【<Ghillie Suit> telah dikutip】

Ghilie Suit, itu adalah setelan kamuflase khusus yang dapat berbaur dengan area sekitar lingkungannya. Dalam kasus ini, untuk penggunaan di hutan, setelan kamuflase ini memiliki tanaman, ranting, dan tanaman rambat di bagian setelannya. Dengan ini, aku tidak akan ditemukan.

Dan setelah itu, aku mengikuti orc selama dua jam. Setengah jalan, aku membuat kesalahan dengan menginjak ranting, dan aku khawatir dengan suara yang kubuat, tapi Orc tetap bergerak maju tanpa melihat ke arahku. Sepertinya kepala mereka di penuhi dengan mangsa-mangsa yang telah mereka dapat. Aku bersyukur, Orc itu bodoh.

【Skill <Tracking> <Covert Action> telah didapatkan】(pelacakan; aksi tersembunyi)

Ketika sudah waktunya markas Orc terlihat, aku mendapatkan skill baru. Kedua nama skill itu keren. Itu seperti aku menghasilkan sesuatu dari menyembunyikan diriku.

Aku berterima kasih kepada para Orc yang membawaku kemari. Jika aku sendiri, aku tidak akan pernah bisa sampai di tempat ini. Jalannya berakhir sampai disini, jalur yang tidak bisa dilihat sekilaspun digunakan.

Para Orc membawa perempuan-perempuan itu ke dalam benteng.

Hmm, aku tidak merasa enak jika perempuan-perempuan itu nantinya akan dikotori Orc, jadi aku pikir aku harus bergegas dan menyerang benteng tersebut. Namun, rasanya benteng ini sulit untuk di taklukkan. Pertama, tidak ada tempat bersembunyi di sekitarnya. Sekitar radius 100 meter dari tengah benteng itu, pohon-pohon disekitarnya telah di tebang habis . Dan benteng itu sendiri tampak kuat. Mereka mengatakan benteng itu telah di tinggalkan untuk waktu yang lama, tapi aku tidak mempunyai kesan bahwa benteng itu semakin memburuk.

Dengan situasi ini, aku memikirkan sebuah rencana lalu membuangnya, mengolahnya kembali, dan ketika aku memikirkan sesuatu, aku mengulanginya lagi. Dan di dalam kepalaku ada semacam lingkaran, aku sampai pada kesimpulan tertentu.

【Skill <Simple Thinking> telah didapatkan】(Pemikir Sederhana/Pemikir Simpel)

Maaf telah menjadi pemikir simpel huh.

Omong-omong, efek dari skill ini, sepertinya akan meningkatkan kemapuan fisik sebagai imbalan menurunkan kemampuan berpikir. Ini adalah skill yang aku dapatkan, tapi tidak ada waktu untuk menggunakannya. Aku juga menggunakan otakku saat bertarung, dan otak otot tidak akan bertahan di dunia ini.

Yosh, untuk sementara, aku harus pergi. Aku bangkit kembali, dan berjalan menuju benteng.

“Yoisshotto. Ini harus cukup banyak.”

Akan merepotkan jika aku ditemukan oleh Orc dengan cepat, jadi aku bersembunyi di balik pohon besar yang berjarak sekitar 100 meter dari benteng, dan mempersiapkan diri.

Apa yang aku siapkan? Tentu saja, aku sedang bersiap untuk membunuh Orc. Aku mengutip hal-hal yang aku butuhkan— persiapan akan selesai dengan ini. Pertama, aku membuat sikap dengan senapan sniper.

【Gelar <Sniper That Drives Out Others> telah diaktifkan】

【Skill <Snipe> <One Shot Kill> <Head Shot> telah diaktifkan】

Ada beberapa Orc yang memantau lingkungan sekitar dari jendela benteng, jadi aku menembak salah satu dari mereka. Setelah suara tembakan, ia kehilangan kepalanya. Sepertinya efek tumpang tinding dari total empat skill dan gelar sangat kuat.

Tanpa memberi kesempatan untuk melarikan diri, aku segera menembak Orc penjaga yang tersisa.

【Skill <Fast Shooting> telah didapatkan】(Menembak Cepat)

Sepetinya mengambil prioritas untuk melakukan pembunuhan dengan cepat menyebabkanku mendapatkan skill. Aku melompat dari balik pepohonan dan sekaligus berlari menuju benteng. Tidak butuh waktu 15 detik dengan kemampuan fisikku.

【Gelar <Single Mass Murderer> telah diaktifkan】

Ahh, aku telah ditemukan. Panah terbang kearahku dengan niat membunuh, tapi aku menghindarinya dengan menggerakkan leherku. Dan disana, aku menyadari sesuatu.

Aku tidak tau kenapa, saat ini, aku merasa kemampuanku telah meningkat dengan pesat. Aku yakin itu adalah efek dari <Single Mass Murderer>, namun efeknya terasa sangat jauh dengan yang sekarang. Aku telah mengaktifkan gelar ini beberapa kali sampai sekarang, tapi tidak banyak perbedaan sebelum dan sesudah mengaktifkannya.

Tingkat peningkatan <Single Mass Murderer> sebanding dengan jumlah musuh, jadi semakin banyak musuh, semakin aku menjadi kuat. Jadi artinya, sebagai kesimpulan, pasti ada banyak Orc di dalam benteng itu.

Yah,bahkan berapa banyak Orc pun yang akan datang, aku tidak merasa aku akan kalah.

Ada saatnya, aku memikirkan hal itu. Tapi—

Apa-apaan ini. Orc yang tak terhitung jumlah keluar dari benteng. Aku bisa melihat beberapa dari mereka di dalam benteng, jadi sepertinya mereka keluar semua. Sebenarnya ada berapa banyak mereka ini. Aku tidak mengatakan apapun tentang orang lain, tapi bukankah disini merekalah yang curang. Tapi, ini menguntungkan. Seperti yang direncanakan, aku harus berusaha untuk mendapatkan gelar dan skill huh.

Aku menembak berurutan pada Orc yang datang seperti ombak menggunakan seapan sniper yang kugunakan tadi.

Peluru yang diperkuat dengan skill dan gelar itu, menembus beberapa kepala Orc dengan satu tembakan.

Tapi, ombak daging tetap menerobos tanpa tergoyahkan.

Aku mengembalikan senapan sniperku tanpa panik, dan menembak keluar granat dari buku cheat secara berurutan. Karena targetnya padat, masing-masing menghasilkan puluhan kilo daging dengan sekali ledakan.

【Gelar <Bomber> telah didapatkan】(Pengebom)

Aku merasa ombaknya telah menjadi semakin melemah. Dan disini, aku mengambil senjata sub-machine favoritku, dan peluru menyebar ke arah Orc.

【Skill <Shooting Spree> telah diaktifkan】(Tembakan Beruntun)

Peluru yang aku tembakkan membunuh Orc yang paling depan dan berlanjut ke Orc sebelahnya. Suara “Kachin” bergumam dari pistol, memanggil keluar amunisi.

Pada titik ini, jarakku dengan Orc ada sekitar 20 meter. Aku menurunkan jumlah Orc sekitar setengah, tapi jumlahnya tetap begtu jauh. Jika terus seperti ini, ada kemungkinan aku akan kalah dalam jumlah angka.

Ini sudah tidak akan tertolong, aku harus menggunakan itu.

Memikirkan hal itu, aku mengeluarkan beberapa kaleng berwarna abu-abu dari buku cheat, dan melemparkan ke arah Orc dengan segenap kekuatanku.

【Skill <Throwing> telah didapatkan】(Melempar)

Suara udara yang bocor dari kaleng terdengar. Dan setelah itu, aku mengeluarkan kipas angin besar sepanjang tinggi badanku. Ini adalah senjata yang disebut <Wind Fan>, ada tertulis di buku ilustrasi yang aku beli di dunia ini. Kipas ini menghembuskan angin dengan mudah dengan mengipasinya, ini adalah recana yang paling cocok dengan yang akan aku lakukan.

Aku mengipasi kipas ke arah Orc, dan gas yang keluar dari kaleng berserakan itu terbang menuju gerombolan Orc. Orc yang mendekat di depanku, mereka berguling-guling di tanah memegangi mata mereka dan terbatuk-batuk.

Aku mengeluarkan masker dari buku cheat, dan menggunakannya.

Gas air mata itu berasal dari dalam kaleng yang aku lempar. Dan hasil penyebaran yang dilakukan dengan angin, membuat gerombolan Orc tidak bisa bergerak lagi. Inilah yang disebut “Strikeout” Tunggal.

Aku tidak tau berapa lama gas air mata akan berpengruh pada Orc, jadi aku membunuh mereka dengan tergesa-gesa.

Memegang sebuah Handgun dimasing-masing tanganku, sambil berjalan aku menembak gerombolah Orc. Tentu saja, aku mengarahkannya ke kepala mereka. Aku mengulanginya seperti itu setiap aku mengisi peluru, dan terus menembak.

【Skill <Double Trigger> telah didapatkan】(Penembak Dua tangan)

Ketika aku muak, aku mengambil senjata tangan, dan mengeluarkan tongkal pemukul besi yang aku gunakan sebelumnya. Aku memeganginya dengan cengkraman kuat kedua tanganku, dan mengarahkannya ke salah satu Orc, dan menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh dari samping. Tubuh tanpa kepala terguncang kuat, dan berhenti bergerak.

【Skill <Full Swing> telah didapatkan】(Ayunan Penuh).

Setelah itu, aku terus menerus membunuh Orc itu. Membunuh musuh tanpa perlawanan adalah hal yang mudah, tapi jumlahnya sangat banyak sehingga butuh beberapa menit untuk menyelesaikannya. Sama seperti itu, hanya Orc yang berada di dalam benteng yang tersisa.

Aku menghapus darah bekas Orc di pipiku dengan bajuku.

【Gelar <Matchless Warrior> <Bringer of Destruction> telah didapatkan】

(Pejuang tak tertandingi; Pembawa Kehancuran)

Dalam pertarungan ini aku mendapatkan 3 gelar dan 4 skill. Masing-masing dari mereka tampaknya berguna jadi aku harus puas dengan pencapaian ini. Namun <Bringer of Destruction> itu, aku pikir adalah gelar yang harus dimiliki oleh Demon Lord sekalipun.

“Yah, terserahlah.”

Selama itu berguna, betapa bahaya namanya itu tidak akan menjadi masalah.

Aku berjalan melewati benteng sekitar yang kosong dan melewati gerbang depan. Benteng yang bisa kulihat sangat dekat ini sepertinya di bangun dengan sangat kokoh. Jika luasnya seperti ini, tidak aneh memiliki banyak skala Orc di dalamnya. Bagian dalamnya terasa sepi. Ada jalan bercabang ketika aku masuk, lalu dengan intuisiku aku pergi ke arah kiri.

Dan pada saat itu, beberapa Orc menusukkan tombak mereka.

Sial, penyergapan!

Aku hampir mengelak serangannya dengan mengambil langkah mundur. Aku menekan perasaan gelisahku, sambil melangkah maju aku mencengkram salah satu leher Orc, dan mencekiknya dengan segenap kekuatanku. Perasaan tulang leher semakin patah terasa melewati jari-jariku.

Aku melemparkan tubuh Orc yang kehilangan kekuatannnya itu ke arah Orc yang mencoba menyerangku dengan tombak.

Dua Orc yang bertabrakan berguling di lantai dengan momentum. Ketika mereka berhenti beberapa meter di depan, kepala mereka tertekuk ke arah yang aneh.

Aku melihat Orc yang tersisa. Ketiga wajah Orc itu jelas-jelas di warnai ketakukan. Penjagaan mereka terbuka, dan aku mengganti targetku ke mereka.

Aku meraih bahu Orc terdekat yang mencoba melarikan diri, dan mendorongnya. Sambil merasakan sedikit perlawanan, lima jariku dengan mudah menusuk badan Orc. Aku mencengkram dan meremukkan benda hangat yang kuambil dari tubuhnya dan mengeluarkan tanganku yang berlumuran darah.

Dari sini, dua yang tersisa melarikan diri.

【Skill <Pursuit> <Smash> telah diaktifkan】(Pelacakan, Menghancurkan)

Dari kedua Orc itu, aku menendang salah satu yang berlari lebih lambat dari yang lain.

Ahh, aku terlalu kuat.

Aku jelas mendengar sesuatu dari kedua kaki Orc itu. Teriakan kotor Orc menggema. Dengan itu, aku mengangkat kakiku tinggi-tinggi, dan mencap wajah Orc dengan penderitaan yang mendalam. Kepalanya meledak, dan badannya mengejang, tapi dengan segera itu berhenti.

Aku memalingkan wajahku dari bongkahan daging Orc sebelumnya , dan menatap kedepan.

Sementara aku melakukan itu, Orc yang tersisa telah membuat jarak denganku. Dan disana, aku berjongkok, aku meletakkan tanganku di lantai. Ketika kekuatanku telah di tekankan pada batasnya, aku melepaskan kekuatan dari kakiku sekaligus. Lantai retak, dan aku mengejar Orc dengan kecepatan maksimalku.

【Skill <Charge> <Sprint> telah didapatkan】(; Lari cepat)

Aku berpikir untuk menggunakan skillku yang baru saja kudapatkan, tapi aku segera menyusul Orc. Aku meraih baju Orc dari belakang dan mengangkatnya. Dan begitulah, aku berhasil menangkap Orc dengan setengah langkah, dan menghancurkan Orc itu ke lantai. Penglihatanku terkena cairan warna merah. Aku menyeka darah dari topeng gasku, dan memalingkan muka dari sesuatu yang sebelumnya adalah Orc.

【Gelar<No Weapons> telah didapatkan】(Tanpa Senjata)

【Skill < Self-taught Hand-to-hand Techniques> telah didapatkan】(Teknik mengajari diri sendiri tangan ke tangan(?))

Dan setelah itu aku bertemu beberapa kelompok Orc beberapa kali, tapi aku bisa memusnahkannya tanpa perlu bertarung susah payah. Mungkin karena aku telah membunuh sebagian besar Orc di dalam benteng. Aku merasa efek dari <Single Mass Murderer> memudar. Kemungkinan besar hanya ada sedikit Orc yang tersisa. Aku melewati koridor yang tidak ada siapapun. Dan akhirnya sampai ke lantai tertinggi.

Pintu kasar yang tebal, tertutup seolah-olah menolak orang lain untuk datang ke tempat ini.

“Un, ini mungkin ruangan Boss.”

“Itu benar. Ini adalah tempat Bossnya.”

Dewa berdiri disampingku, saat aku memperhatikan itu. Aku bertanya-tanya kenapa ia bisa secara alami bertingkah seperti seorang rekan. Aku sudah mulai berhenti terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba itu.

“Yah, baiklah~, Misasagi-kun, aku ingin tau apakah kau memiliki apa yang mereka sebut dengan ragu-ragu~. Akan merepotkan jika kau memilikinya, tapi aku tidak berpikir bahwa kau akan membunuh mereka seperti sebelumnya~. Kau telah dengan mudah mendapatkannya, tapi hal-hal yang disebut Skill dan Gelar tidak mudah didapat melalui pertempuran yang normal kau tau~.”

Aku juga pernah mendengar itu sebelumnya, tapi cara utama untuk mendapatkan skill adalah dari menaikkan level suatu pekerjaan (Job). Sepertinya skill tertentu akan di dapat pada saat mencapai tingkat tertentu. Misalnya <Smash> yang aku miliki, ini adalah skill yang tampaknya bisa diperoleh dengan meningkatkan level 10 dari jenis pekerjaan bela diri.

Tapi hanya orang sepertiku, skill bisa didapat dengan latihan tanpa perlu memiliki pekerjaan tertentu. Tapi meski begitu, dia bilang itu adalah sesuatu yang sulit. Yah, pekerjaanku adalah pekerjaan tetap, jadi cara mendapatkan skill terutama adalah dengan seperti ini meskipun… …

“Majulah, Raja Orc menunggu. Berhati-hatilah oke~.”

Raja Orc? Ahh itulah sebabnya, hanya ada Orc di tempat ini.

… … maksudku, sebelum itu, ada sesuatu yang ingin aku ketahui. “Mengapa ada banyak Orc di tempat ini.”

Aku meragukannya sepanjang waktu. Bahkan jika itu adalah suatu wabah, jumlah mereka terlalu banyak.

“Salah satu ‘Book of God’ yang aku jatuhkan ada disini. Itu karena kemampuan buku itu.”

“Tunggu dulu. ‘Book of God’? bukankah ini buruk?”

Tanpa memperdulikan kegelisanku, Dewa menjawab.

“Tidak, aku pikir tidak apa-apa, buku itu lebih lemah dibandingkan dengan yang lainnya~.”

Yang lainnya… …

“… … ada lebih dari satu ‘Book of God’ !!”

“Eh, bukankah aku sudah mengatakannya? Itu benar, suatu hari, ketika aku membersihkan kamarku, aku menjatuhkan seluruh rak buku bersamaan dengan ‘Book of God’ didunia ini kau tau~… … Eh?! Tunggu, Misasagi-kun ?!”

Aku meraih mantel yang dipakai Dewa, dan berjalan menuju jendela terdekat. Sementara aku melakukan itu, Dewa sedang bersikeras, tapi aku mengabaikannya.

“Renungkanlah perbuatanmu sedikit oke.”

“Tidak, bahkan jika seperti itu, aku adalah Dewa kau tau~ jika kau melakukan itu hukuman ilahi akan… … sakitt… … … it… … it… …”

Aku menjatuhkan Dewa dari jendela. Aku mendengar beberapa kali jeritan, tapi aku tidak harus memikirkan itu. Aku pikir dia yang selalu memberi penjelasan yang kurang harus di sembuhkan dengan ini. Yah, dia adalah Dewa, dia tidak akan mati.

* PanPan *, aku mengusap-usap kedua tanganku, dan mendesah dalam-dalam.

Sepertinya ada beberapa “Book of God” di dunia ini. Kupikir hanya ada satu. Tapi, untuk berpikir bahwa aku akan menemukannya dalam misi pertamaku. Apakah keberuntunganku itu bagus, ataukah buruk… …

Sekali lagi, aku mengutip hal-hal di butuhkan, dan bersiap. Setelah semuanya ini adalah Boss, aku harus memilih yang kuat.

Dan aku perlahan membuka pintu di depanku.

Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded